Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
222. Tunggu Papah Pulang


__ADS_3

°°°


Satu Minggu kemudian.


Seminggu sudah orang tua Rara tinggal di rumah besar itu untuk menemani putrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Selama itu pula Revan sudah jarang merebut makanan yang dimakan istrinya. Mungkin karena sibuk juga dan rasa inginnya sudah tidak seperti kemarin-kemarin.


"Sayang, apa benar kau tidak apa-apa kalau aku tinggal?" ragu Revan yang rencananya dia akan pergi ke luar negeri karena ada masalah dengan cabang perusahaannya di sana.


"Tidak apa Kak, di rumah kan banyak orang. Aku tidak akan kenapa-napa," jawab Rara seraya menyiapkan keperluan suaminya selama pergi.


"Duduklah sini, tidak perlu mengemas lagi. Aku bisa membeli apa yang aku butuhkan nanti." Revan menepuk sisinya yang kosong dan Rara pun menurut karena pinggangnya memang terasa gampang pegal sekarang.


"Ada apa Kak?"


"Aku tidak tega meninggalkan mu, bagaimana kalau saat aku pergi lalu kau mau melahirkan." Revan mengusap perut istrinya penuh cinta.


"Tidak apa-apa Kak, nanti pasti kak Revan dikabari kalau aku mau melahirkan."


"Bukan itu Sayang, aku takut tidak keburu waktunya untuk menemani kamu, aku kan ingin ada di samping kamu saat kamu berjuang melahirkan anak kita, aku juga ingin pendengaran tangisan baby A saat terlahir ke dunia ini, lalu bisa mengadzani nya."


"Aku mengerti Kak, tapi kata dokter kan belum ada tanda-tanda akan melahirkan dalam waktu dekat. Semoga saja anak kita mengerti dan mau menunggu ayahnya pulang ya...," Rara pun memegangi tangan sang suami yang saat ini masih ada di atas perutnya yang pagi ini terasa kencang tapi dia tidak memberitahu siapapun.


,,,


Mike pun sudah siap menunggu atasannya di bawah. Dia sudah pulih dan juga sudah aktif lagi di perusahaan, sekarang juga dia akan menemani Revan pergi ke luar negeri.


"Mike, bagaimana kabar putramu?" tanya Kakek Tio.


"Dia sangat sehat Kek, berat badannya juga bertambah terus," jawab Mike sambil membayangkan sumber kehidupan sang putra yang sekarang jadi sumber kesukaannya juga.


"Baguslah, kakek sangat merindukan dia. Sepertinya sudah lama sekali kalian tidak datang membawa cicit kakek kemari."


"Iya Kek, nanti aku akan sering mengajaknya datang kemari," sahut Mike.


Tak lama Revan pun turun dengan menggandeng istrinya, sedangkan kopernya sudah dibawakan oleh pelayan tadi.


"Sayang, benar kau belum merasakan apa-apa saat ini?" tanya Revan, entah sudah berapa kali dia menanyakan hal itu pada Rara.


"Iya Kak, kamu tidak usah khawatir lagi."

__ADS_1


Dengan berat hati akhirnya Revan berangkat ke luar negeri bersama Mike.


"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya Mike yang melihat kegelisahan tuannya.


"Aku mengkhawatirkan istri ku Mike. Semoga saja masalah kita cepat selesai," ujarnya.


"Saya mengerti Tuan, saya akan semaksimal mungkin menangani masalah di sana dengan cepat agar anda bisa cepat kembali."


,,,


Malamnya di kediaman keluarga Herwaman.


Rara sedang bersama semua orang di ruang keluarga. Mereka berbincang hangat tapi tidak dengan Rara yang sesekali seperti menahan sesuatu.


"Nak, apa kau tidak apa-apa?" tanya umi yang menyadari perubahan raut wajah putrinya.


"Tidak apa-apa umi."


"Tapi kamu seperti sedang kesakitan, apa ada yang aneh dengan perutmu?" tanya umi pelan karena tidak mau membuat semua orang khawatir.


"Tadi baby A hanya menendang sedikit keras jadi perutku terasa kram," jawab Rara yang juga tidak mau membuat uminya khawatir. Bagaimana dia sudah banyak bertanya pada dokter seputar tanda-tanda akan melahirkan dan dia takut kalau yang ia rasakan saat ini hanya kontraksi palsu.


Sepertinya Rara akan melahirkan kalau tidak malam ini mungkin besok.


"Sebaiknya kamu istirahat nak, ayo umi temani kamu ke kamar," ajak umi.


Rara pun menurut dan pamit pada kakek dan Abinya untuk pergi ke kamar lebih dulu.


Sampai di kamar, Rara langsung merebahkan diri karena rasanya pinggangnya semakin sakit.


"Nak, kalau ada apa-apa jangan segan memberitahu umi. Kalau perut kamu mulai terasa melilit teratur dan sering buang air kecil itu sepertinya memang kamu akan melahirkan," ujar Umi.


"Iya umi, untuk sekarang sakitnya kadang datang sebentar tapi nanti hilang sendiri dan jedanya lama," jelas Rara memberitahu uminya bagaimana keadaannya.


"Mungkin itu masih kontraksi palsu tapi bukan berarti kita bisa tenang karena sewaktu-waktu bisa saja berubah jadi kontraksi yang sebenarnya. Pokoknya kalau ada apa-apa, misal keluar bercak darah atau sakitnya sering harus segera memberitahu umi." Rara pun mengangguk.


"Sekarang kamu istirahat, umi ada di luar bersama Abi dan kakek Tio. Kalau ada apa-apa langsung panggil saja," ujar umi seraya menyelimuti tubuh putrinya.


Sampai tengah malam Rara tidak bisa tidur nyenyak karena saking yang tiba-tiba datang itu masih belum hilang. Dia juga sering ingin buang air kecil.

__ADS_1


Kenapa ingin ke toilet lagi, padahal tadi sudah.


Selesai dari toilet ternyata sang suami menghubunginya lewat video call. Rara pun segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum Kak." Rara bahagia bisa melihat wajah suaminya padahal baru beberapa jam mereka berpisah.


📞"Wa'alaikumsalam, apa kau sudah tidur tadi?"


"Tadi sempat tidur, tapi terbangun karena ingin ke toilet. Apa kakak sudah sampai di hotel?" tanya Rara.


📞"Sudah barusan dan langsung menelepon kamu. Tadi begitu mendarat langsung pergi meeting agar masalahnya cepat selesai. Maaf ya baru bisa menghubungi mu."


"Tidak apa-apa Kak, kak Revan selesaikan masalah perusahaan dengan tenang. Aku disini ada umi, Abi dan juga kakek yang selalu siaga menjagaku."


📞"Iya sayang. Kau kenapa? Apa ada yang sakit?"


Revan terlihat panik saat melihat Rara meringis menahan sakit.


"Tidak apa-apa kak, tadi baby A menendang terlalu kencang jadi sedikit sakit. Sepertinya dia juga ingin disapa oleh ayahnya," ujar Rara.


📞"Oh ya ampun, aku sampai lupa. Coba kamu dekatkan ponselnya ke perutmu, aku mau bicara dengan anak kita."


Rara pun mendekatkan ponselnya ke perutnya hingga Revan bisa melihat perut buncit sang istri.


📞"Assalamualaikum sayangnya papah, maaf ya papah lupa menyapamu. Apa kamu juga merindukan papah? Papah janji akan pulang secepatnya, kamu juga harus janji ya tidak boleh menyusahkan mamahmu dan tunggu papah pulang baru boleh keluar."


Rara tersenyum bahagia mendengar perkataan suaminya dan entah bagaimana saat ini perutnya tak lagi terasa sakit seperti tadi.


"Sepertinya dia benar-benar mau menunggu papahnya pulang," gumam Rara.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo 🤗


Sehat selalu pembacaku tersayang ❤️

__ADS_1


__ADS_2