
°°°
Seminggu kemudian, keadaan Febby bukannya semakin membaik tapi malah semakin memburuk. Mual dan muntah masih rutin terjadi di pagi hari dan saat mencium bau nasi. Tapi jika sudah siang hari dan menjelang malam dia akan terus merasa lapar.
Tubuhnya sudah sangat kurus dan tidak terawat. Karena melihat keadaannya yang tidak kunjung sembuh, akhirnya hari ini Febby pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.
"Bi apa mobilnya sudah di siapkan?" tanya Febby.
"Sudah non, apa perlu saya temani?" Bibi sangat khawatir melihat nonanya seperti itu. Apalagi sampai saat ini ibunya sama sekali tidak peduli.
Pernah waktu itu pulang sebentar, bibi yang melihat sang nyonya pulang pun langsung menceritakan keadaan putrinya. Tapi reaksinya sungguh diluar dugaan. Bukannya khawatir dan segera melihat keadaan putrinya, dia malah hanya mengatakan kalimat yang seharusnya tidak diucapkan dari mulut seorang ibu.
"Biarkan saja, dia sudah besar. Kan ada kalian dirumah ini. Kalian kan sudah digaji, jadi kalian saja yang merawatnya."
Setelah mengatakan itu, Wina sang ibu langsung pergi membawa koper.
Bibi tentu tidak akan tega memberi tau hal itu pada nonanya, lebih baik ia bilang saja jika ibunya itu belum pulang.
"Tidak usah Bi, aku bisa sendiri."
Febby pun pergi ke rumah sakit dengan di antar supir. Dia terus menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah. Iya pikir apakah tubuhnya mengidap penyakit yang berbahaya.
,,,
Di perusahaan Fresh Grup. Seorang pria tinggi kekar dan berwajah campuran. Baru saja selesai menemani tuannya untuk pelantikan Direktur utama yang baru.
Seminggu ini dia benar-benar sibuk mengurusi masalah perusahaan, terutama agar acara hari ini berjalan lancar. Tidak ada yang berani menghambat jalannya pergantian pemimpin.
Mike sedang ada di ruangan nya, entah kenapa tubuhnya juga sering pusing belakang ini. Ia kira itu mungkin karena terlalu sibuk. Tapi anehnya keadaan emosionalnya juga buruk. Dia gampang marah dan kesal jika apa yang dia inginkan tidak berjalan dengan semestinya.
Mungkin aku butuh istirahat. Tuan Revan sudah tinggal menjalankan perusahaan seperti yang sudah direncanakan. Dia pasti sudah bisa sendiri. Aku akan meminta ijin beberapa hari untuk self healing.
Pikir Revan, dia berencana akan pergi berlibur. Tapi sebelumnya dia akan melakukan sesuatu yang lebih penting. Dia sudah sangat rindu pada seseorang, kata anak buahnya sudah seminggu Febby tidak keluar rumah. Dia khawatir jika wanita itu sakit atau terjadi sesuatu
Baru saja memikirkan Febby, tiba-tiba orang suruhannya menelepon.
__ADS_1
"Hallo, ada apa?" tanya Mike to the point.
📞"Hallo Tuan, hari ini nona Febby keluar dari rumah. Setelah kami ikuti ternyata nona datang ke rumah sakit."
"Apa!! Rumah sakit! Kenapa tidak bilang sejak tadi, bukannya sudah aku bilang kalau dia keluar harus mengabari ku." Mike merasa khawatir jika wanitanya sedang sakit.
📞"Maaf, Tuan. Tapi saya sudah mencoba menghubungi anda sejak tadi."
Mike pun baru teringat jika tadi ia tidak membawa ponselnya ke ruang rapat.
"Baiklah, kalian terus awasi jangan sampai lengah. Aku akan kesana sekarang."
Mike segera memakai jas yang tadi ia lepas, kemudian dengan langkah lebar dan tergesa-gesa dia langsung menuju lift.
Bahkan disaat genting seperti ini pintu lift tidak juga terbuka. Mike sudah tidak sabar untuk menunggu lagi, dia pun menuju tangga darurat. Padahal sekarang ia ada di lantai 15, apakah langkahnya bisa lebih cepat dari lift.
Ternyata pekerjaannya di dunia gelap tidak sia-sia, membuatnya pandai bela diri. Dan saat ini ia gunakan untuk menuruni tangga darurat. Dimana kakinya dengan lincah melewati pembatasan tangga untuk lompat ke tangga yang berada di bawahnya.
Mike terus berpacu dengan waktu, gerakannya sangat gesit hingga ia sampai di lantai paling bawah sebelum pintu lift terbuka.
Bisa di bilang Mike adalah pria idaman ke dua setelah Revan di perusahaan itu. Para perempuan akan terpikat oleh pesona wajah blasteran Indonesia-Belanda yang ia punya.
Mike segera menuju mobilnya, sambil terus memantau perkembangan kondisi Febby lewat orang-orangnya.
"Bagaimana? Apa dia sudah diperiksa?" tanya Mike dengan nada beratnya.
📞"Belum Tuan nona masih mengantri."
"Mengantri? Lalu apa gunanya kalian ada disana kalau dia masih harus mengantri. Apa kalian tidak bisa mengurus hal kecil seperti itu."
Mike yang sudah kesal langsung meluapkan kekesalannya pada bawahannya yang tidak becus saat bertugas.
📞"Maaf Tuan, saya kira anda mau kesini jadi menunggu anda datang saja agar nona ada yang menemani."
Huuhh hampir saja, untung dengan cepat anak buahnya bisa mencari alasan yang tepat. Jika tidak maka tidak tau apa jadinya.
__ADS_1
"Ya sudah, sebentar lagi aku sampai. Kalian terus awasi."
Setelah itu Mike mematikan sambungan teleponnya.
Dia menambah kecepatan mobilnya, meliuk-liuk di jalanan yang cukup ramai. Yang ia pikirkan saat ini adalah cepat sampai ke rumah sakit. Tapi tidak perlu khawatir karena ia cukup pandai dalam mengendarai mobil.
Benar saja, dengan cepat ia sudah sampai di rumah sakit swasta yang cukup ternama. Setelah mendapatkan informasi jika saat ini Febby sudah masuk kedalam ruangan pemeriksaan, Mike langsung menuju kesana. Kali ini ia bahkan berlari agar cepat sampai.
Sementara Febby, sudah selesai diperiksa kini ia duduk dan mendengarkan keterangan dari dokter.
"Apa anda sudah lama mengalami ini Nona?" tanya dokter itu.
"Sudah seminggu lebih Dok, kira-kira saya sakit apa Dok. Apakah penyakit saya ini berbahaya?" tanya Febby dengan raut wajah gelisah. Ia sudah mengatakan semuanya, yang ia keluhkan dan kini ia sedikit khawatir akan hasilnya.
Dokter itu nampak mengulum senyum setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Febby.
"Sepertinya Anda harus memeriksakan diri anda ke dokter obgyn untuk memastikan dugaan saya." Ujar sang dokter.
Raut wajah Febby kini penuh tanda tanya, kenapa tidak di katakan sekarang saja. Kenapa harus di periksa lagi. Apa penyakitnya ini tidak bisa di sembuhkan.
"Katakan saja sekarang Dok, kenapa harus di periksa lagi. Apakah penyakit ini berbahaya, apa dokter tidak bisa menyembuhkan sampai dilempar ke dokter lain." Nada bicara Febby bahkan terdengar putus asa.
Ia merasa ini adalah karma untuknya karena sudah banyak hal buruk yang ia lakukan selama ini. Pandangan matanya bahkan sudah berkabut, ia siap mendengar kenyataan pahit yang mungkin menimpa dirinya.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1