
°°°
Sampai di lampu merah, mobil Revan pun berhenti. Ternyata di pinggiran jalan sudah banyak pengamen dan yang lainnya menunggu lampu merah.
Lampu merah bagi mereka ada waktu singkat yang sangat berharga. Di waktu yang singkat mereka mencoba peruntungan, berharap ada orang berhati mulia yang mau membagi sedikit rejekinya.
"Lihatlah, bahkan ada ibu-ibu yang mengajak anak bayinya di malam hari begini," ujar Revan menunjuk salah satu dari mereka yang mendekati mobilnya.
Rara segera menurunkan jendela kaca di sampingnya. Ia merogoh beberapa lembar uang yang ia bawa dan berniat memberikannya pada ibu-ibu pembawa balita.
"Ini untuk ibu. Pulanglah setelah ini, angin malam tidak baik untuknya."
Rara mencoba memberi saran, ia tidak tega melihat bayi nya yang masih sangat kecil.
"Terimakasih Non," ujar ibu-ibu itu dengan mata berbinar dan senyum yang terus tersungging. Setelahnya ia segera pergi.
Revan tersenyum simpul melihat perbuatan baik istrinya. Hatinya sangat mulia, berbeda dengan Febby yang pernah marah saat ada pengemis menghampiri mereka ketika sedang makan di suatu tempat.
Lagi-lagi ia membandingkan istrinya dengan Febby dan ia sadar jika Febby sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Rara.
"Kenapa tidak mencoba mencari pekerjaan yang lain saja," ujar Rara tiba-tiba. Pikirannya masih pada wajah bayi yang ada di gendongan ibu-ibu pengemis tadi.
"Tidak semudah itu mencari pekerjaan dan belum tentu ada yang mau memperkerjakan mereka. Kurangnya pendidikan dan kemampuan pasti menjadi bahan pertimbangan."
Revan menjelaskan pada istrinya.
Rara mengerti dengan apa yang suaminya katakan.
"Apa kamu tau, kakek juga mempunyai sebuah yayasan yang menampung orang-orang seperti mereka. Di sana mereka diajarkan membuat ketrampilan dan berbagai hal agar mereka tidak lagi turun ke jalanan."
Rara tertarik dengan yang suaminya ucapkan.
"Berarti mereka semua bisa ditampung di tempat itu kan, Kak?" tanya Rara.
"Tidak semua, hanya sebagian kecil saja tapi itu terus bergulir bergantian. Pertanyaan mu sama dengan yang aku tanyakan pada kakek dulu. Apa kau tau apa jawaban beliau?"
"Apa Kak?" Rara antusias.
"Waktu itu kakek mengatakan padaku begini 'Kita mungkin tidak bisa membantu dan menampung mereka semua, tapi dari mereka yang masih kekurangan adalah sebagai ladang pahala untuk orang yang berkecukupan tersedia' itulah yang akhirnya membuat aku paham."
Rara mencerna apa yang barusan ia dengar. Ia paham sekarang dengan maksud perkataan kakek. Dimana orang yang punya rejeki lebih mempunyai kesempatan untuk berbagi dengan mereka yang kesusahan dan mendapatkan pahala dari itu.
Kakek memang sangat benar, sebenarnya sangat mudah bagi kita jika ingin berbagi pada mereka yang membutuhkan. Mungkin memang Allah yang menyiapkan itu semua, agar menyadarkan pada hamba-Nya yang sedang diuji dengan kekayaan. Tinggal bagaimana manusia menyikapi, mau berbagi atau tidak.
Sampailah mereka di rumah, setelah perjalanan singkat tapi sangat banyak memberikan Rara pelajaran hidup.
"Terimakasih Kak," ujar Rara pada suaminya.
__ADS_1
"Kenapa berterimakasih?"
"Iya, terimakasih untuk makan malamnya dan untuk terimakasih karena Kakak aku mendapatkan banyak pelajaran hari ini."
Rara sangat tulus mengucapkannya.
"Kau itu, tidak perlu berterimakasih segala. Aku yang justru banyak belajar dari kamu." Revan menyentuh kepala istrinya dan mengusapnya lembut.
Rara tersenyum mendengarnya.
"Ayo masuk," ajak Revan kemudian.
Malam itu begitu berkesan untuk Rara, tidak hanya karena ucapan suaminya yang katanya akan memulai hubungan mereka dari awal tapi karena pelajaran yang baru ia dapat.
,,,
Pagi menyambut, mentari mulai memancarkan cahaya keemasannya dan masuk dari celah-celah yang bisa dilewati.
Rara sudah siap dengan masakannya, tinggal mengurus sang suami.
Kali ini Rara memilihkan setelan jas untuk suaminya karena hari ini Revan akan ikut kakek ke kantor. Ia meletakkannya di ranjang. Senyuman indah terukir di wajahnya, saat mengurus keperluan suaminya adalah hal yang menurutnya sangat menyenangkan.
"Apa kau sudah siapkan bajunya?" tanya Revan, setelah ia keluar dari kamar mandi.
Rara cukup terkejut saat mendengar suara suaminya yang ia kira masih lama mandinya.
"Ini Kak, sudah aku siapkan," jawab Rara tapi ia sama sekali tidak berbalik karena Nia tau kebiasaan suaminya, yang sukanya hanya memakai handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.
Rara mengusap dadanya, rasanya lega saat suaminya sudah masuk lagi ke dalam kamar mandi. Setiap kali melihat suaminya setelah mandi itu membuatnya menahan nafas.
,,,
Revan tetap mengantarkan istrinya ke kampus lebih dulu sebelum pergi ke kantor kakeknya. Walaupun Rara sempat menolak karena tidak ingin merepotkan.
"Kamu selesai kuliah jam berapa nanti?" tanya Revan saat sudah sampai di depan kampus.
"Mungkin jam 11, Kak."
"Baiklah, nanti akan aku usahakan untuk menjemputmu."
"Tidak perlu Kak, aku bisa naik taksi pulangnya." Rara benar-benar merasa tidak enak. Pikirnya, dia bukanlah anak manja yang suka diantar dan dijemput sekolahnya.
"Jangan coba-coba pulang lebih dulu sebelum aku jemput," tegas Revan.
Sepertinya Rara tidak bisa lagi menolak.
"Iya Kak," pasrah Rara.
__ADS_1
Revan pun pergi ke kantornya setelah memastikan istrinya melewati pintu gerbang kampus.
Rara melangkahkan kakinya menyusuri halaman kampus, banyak pria yang memandangnya kagum dan sangat ingin mendekatinya.
Jika saja sebelumnya Revan belum memperingatkan mereka untuk tidak mendekati sepupunya. Pasti saat ini Rara sudah menjadi rebutan di kampus itu.
"Rara..." panggil Lia yang baru saja sampai.
Rara pun menoleh karena mendengar namanya dipanggil.
"Lia, kau baru sampai?"
"Iya ayo masuk."
Banyak hal yang mereka ceritakan jika sudah bersama. Ada saja hal yang dibahas.
Jauh di depan mereka ternyata ada wanita yang sedang menunggu Rara, ia berdiri menghadang jalan yang akan Rara dan temannya lalui.
Rara pun menyadari jika Febby pasti sedang menunggunya.
"Kita cari jalan lain saja," ujar Lia yang tidak ingin berhadapan dengan mantan kakak kelasnya.
"Tidak apa-apa, ayo."
Rara tetap berjalan ke arah Febby yang sudah menunggunya.
"Pagi Kak," sapa Rara dengan sopan. Berbeda dengan Lia yang enggan untuk melihat wajah Febby yang menurutnya bermuka dua itu.
Febby berusaha tersenyum pada istri kekasihnya, karena saat ini banyak mahasiswa yang melihatnya. Dia harus tetap menjaga sikap.
"Dimana Revan? Kenapa aku tidak melihatnya, mobilnya juga tidak ada di parkiran," tanya Febby.
"Kak Revan pergi ke kantor kakek."
Tidak ada yang perlu Rara tutupi.
"Begitu rupanya, ya sudah." Febby pergi begitu saja setelah mendapatkan informasi dimana lelaki pujaannya berada.
Sementara Rara merasa ada sedikit rasa senang karena ternyata suaminya itu tidak begitu intens berkomunikasi dengan Febby. Buktinya wanita itu tidak tau jika hari ini Revan tidak berada di kampus.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...