Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
95. Tumpangan Dari Seseorang


__ADS_3

°°°


Kegiatan Rara juga sama, seperti biasa. Dia pergi ke kampus di antar oleh supir dan untuk pulangnya masih belum tau Revan bisa menjemputnya atau tidak.


Di jalan secara tidak sengaja Rara melihat gadis yang sangat ia kenal, sedang berbicara dengan pria yang juga cukup familiar.


"Bukankah itu Lia, kenapa dia berhenti. Pria itu Sakka kan?" pikirnya menatap kedua manusia yang sedang mengobrol di pinggir jalan.


Apa aku berhenti saja, siapa tau Lia sedang kesulitan.


"Pak tolong berhenti sebentar," ujarnya pada pak supir agar menepikan mobilnya.


"Baik Non." Pak supir pun menghentikan laju mobilnya seperti apa kata sang nona.


"Aku turun sebentar Pak."


Rara baru saja akan membuka pintu tapi ternyata Lia dan Sakka sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil milik Sakka.


"Lia naik mobilnya Sakka, kenapa bisa. Sejak kapan mereka dekat." Rara melamun melihat temannya yang sudah menghilang dari sana.


"Bagaimana Non, apa anda tidak jadi turun." Tanya Pak supir melihat nonanya yang sedang melamun.


Rara pun tersadar dan mobil Sakka yang tadi ia lihat sudah pergi dari sana. Bukannya ia tidak suka jika Lia berhubungan dengan pria itu, hanya saja dia heran karena sebelumnya Lia selalu kesal bila berdekatan dengan Sakka.


"Aku tidak jadi turun Pak, ayo jalan lagi." Rara tidak ingin berpikiran buruk pada temannya. Mungkin saja ia salah lihat atau ada yang terjadi pada mereka.


Di mobil Sakka saat ini, kedua orang itu sama-sama diam tidak tau mau bicara apa. Sebenarnya tadi ban motor yang Lia kendarai bocor dan kebetulan pria itu lewat. Sebagai orang yang sudah di anggap teman, Sakka pun menghentikan mobilnya ketika melihat Lia di pinggir jalan.


"Ada dengan motor kamu?" tanya Sakka membuat Lia tersentak.


"Oh ini ban nya bocor, pasti nginjek paku deh," kesal Lia seraya menendang roda motornya.


"Bukannya kita ada kelas sebentar lagi, kalau menambalnya dulu pasti akan sangat lama dan kau pasti terlambat. Bagaimana kalau bareng aku ke kampus, motor kamu disini saja. Nanti aku suruh orang untuk memperbaiki nya." Sakka tampak memberi pilihan pada Lia.


Apa yang dikatakan dia benar, aku pasti telat kalau menunggu motornya jadi. Tukang tambal ban juga masih jauh di depan. Tapi kalau ikut mobilnya aku malu. Lia tampak berpikir keras untuk memilih.


"Bagaimana, atau mau aku panggilkan taksi saja. Aku tau kamu pasti masih belum yakin padaku kan. Biar aku panggilkan taksi, jangan menolak lagi jika tidak ingin terlambat." Sakka sudah mengeluarkan ponselnya untuk menelepon taksi untuk Lia.

__ADS_1


"Tinggu, tidak perlu menelepon taksi. Aku akan ikut mobilmu saja," ujar Lia, dia rasa satu mobil dengan pria itu bukan masalah besar. Bukankah mereka sudah berteman, wajar saja jika saling membantu bila ada yang kesusahan.


Sakka pun tersenyum mengingat kejadian tadi. Tidak menyangka dirinya akan berada dalam satu mobil dengan gadis yang ia sukai. Jujurly sampai detik ini Sakka tidak bisa membuang perasaannya.


Sementara Lia, dia diam saja karena merasa sangat gugup apa lagi hanya berdua dengan Sakka.


"Terimakasih karena sudah memberi ku kesempatan menjadi temanmu." Sakka berusaha menyampaikan perasaannya.


"Iya sama-sama, terimakasih juga karena sudah memberiku tumpangan," jawab Lia.


"Tidak usah sungkan begitu, bukankah sekarang kita teman. Sudah seharusnya kita saling membantu bukan." Sakka tersenyum.


Dalam hatinya dia berkata tidak apa-apa jika ban motor Lia bocor setiap hari. Dia akan memberikan tumpangan dengan senang hati.


,,,


Sampai di kampus Rara kembali melihat Lia yang baru turun dari mobil Sakka. Segera ia turun dan menghampiri temannya.


"Lia...," panggil Rara.


Lia yang menoleh sangat keget ternyata ada Rara di belakangnya. Ia takut jika temannya itu melihatnya turun dari mobil Sakka. Takut Rara berpikiran yang tidak-tidak.


Hal itu tentu membuat Rara menatapnya penuh selidik.


"Kenapa kau jadi begitu gugup melihat ku?" tanya Rara.


"Tidak, siapa yang gugup. Ayo masuk." Lia tidak ingin Sakka menghampiri nya dan Rara melihat hal itu.


Tadi di mobil mereka sudah sepakat tidak akan terlalu dekat jika berada di kampus meski saat ini sudah berteman, Lia khawatir akan mendapatkan amukan dari para fans pria itu. Sekarang pun Lia turun sebelum sampai di kampus, tapi malah bertemu dengan Rara.


"Kenapa terburu-buru, ada hal yang mau aku tanyakan padamu, Lia." Rara menatap temannya dengan tajam, dari tatapannya saja sudah membuat Lia menebak jika Rara sudah melihatnya.


"Baiklah, aku akan ceritakan padamu." Lia menyerah pada akhirnya, menutupi hal itu juga tidak ada gunanya.


"Nah begitu dong, itu baru teman. Kalau ada kabar bahagia harus di bagi," ledek Rara seraya menyenggol lengan temannya. Ia bahagia sungguh, jika melihat temannya bisa bahagia. Jika memang Sakka adalah pria yang mampu membuat Lia bahagia, maka Rara akan sepenuhnya mendukung hubungan mereka.


"Apa si Ra, kami tidak ada hubungan seperti itu." Lia mengelak, pipinya sudah memerah.

__ADS_1


"Benarkah, tapi pipi kamu merah dan malu-malu begitu." Rara semakin memojokkan temannya agar mau mengaku.


"Tidak ada Ra, ayo aku ceritakan sambil jalan."


Mereka pun berjalan bersama, menuju kelasnya hari ini.


Lia pun menceritakan semua pada Rara, agar temannya tidak salah mengira lagi.


"Begitu Ra, jadi kami hanya tidak sengaja bertemu di jalan. Dia menolongku dan memberiku tumpangan."


"Begitu rupanya, tapi kalau kalian ada apa-apa juga tidak masalah," ujar Rara.


"Apa si Ra, itu tidak mungkin. Kamu tau kan, dia siapa sedangkan aku siapa. Kami tidak mungkin bisa bersama." Lia tidak berharap lebih.


"Kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya, Li. Seperti pertemuanku dengan kak Revan, sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Jodoh tidak ada yang tau, kalau sudah waktunya Allah pasti akan mendekatkan." Rara paham pada apa yang dirasakan Lia. Dia pasti merasa insecure pada latar belakang Sakka yang dari keluarga terpandang.


"Sudah jangan ngomongin itu lagi, lagian siapa juga yang mau dengannya," ujar Lia.


"Eh tapi Li, sebenarnya kamu ada perasaan nggak sama dia." Rara pun penasaran.


"Perasaan apa Ra, tidak ada. Ayo cepat, nanti kita telat." Lia mengelak dan menarik tangan Rara agar segera jalan.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada Sakka yang mendengar pembicaraan mereka. Tiba-tiba senyumnya mengembang, setelah mendengar beberapa kalimat yang keluar dari mulut Lia.


Aku akan buktikan jika pemikiran kamu itu salah.


Status sosial memang terkadang membuat orang menjadi rendah diri dan di pandang sebelah mata.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2