
°°°
Pada akhirnya Rara mengalah karena sang suami terus merengek agar ia mengganti pakaiannya dengan apa yang tadi di bicarakan dengan kakaknya.
Mbak Luna kenapa harus membicarakan tentang itu sih, bagaimana aku keluar dengan kostum seperti ini.
Rara mematung di depan cermin kamar mandi usai berganti pakaian. Pipinya sudah merah duluan menahan malu. Sepertinya dia ingin mengurungkan niatnya dan berganti pakaian tidur yang tadi saja tapi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan itu pasti suaminya.
"Sayang, sudah belum? kenapa lama?" tanya Revan di depan pintu, dia sudah tidak sabar menunggu istrinya keluar.
Rara menggigit bibir bawahnya, baru mendengar suara sang suami saja tubuhnya sudah bereaksi berlebihan.
"Sayang... kenapa kau diam saja." Revan kembali menggedor pintu.
"Iya kak, aku akan keluar," jawab Rara.
Sebenarnya Rara senang bisa membuat suaminya senang, apalagi sudah lama Rara tidak memakai lingerie saat malam. Keadaan suaminya yang kemarin tidak memungkinkan membuatnya tidak ingin memancing gai rah laki-laki itu. Tidak berpakaian seksi saja kadang tangan Revan berkeliaran kemana-mana saat malam.
Sudahlah, keluar saja. Untuk apa malu kalau kak Revan saja sudah pernah melihat tubuhku tanpa kain. Rara mencoba memberikan keberanian pada dirinya sendiri.
Baru saja Rara memegang handel pintu tapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Nyatanya dia tidak seberani itu untuk berhadapan dengan suaminya dengan pakaian seperti itu.
Ayo Rara, jangan malu... ingat kata mbak Luna kalau kita harus bisa menyenangkan suami agar suami tidak pernah berpaling pada wanita di luaran sana.
Ceklek
Revan yang sudah berte* lanjang da da dibuat melongo saat melihat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi.
Dengan pipinya yang memerah Rara memberanikan diri berjalan mendekati suaminya yang tidak berkedip melihatnya.
Kenapa kak Revan diam saja, apa aku sama sekali tidak menarik menggunakan kostum ini. Pasti terlihat aneh kan, ada telinga dan ekornya juga.
Pikir Rara.
Padahal Revan sudah berkali-kali menelan ludahnya sendiri. Ia sungguh tercengang dengan penampilan istrinya yang menggunakan kostum kelinci seksi. Sangat imut dan menggemaskan.
__ADS_1
"Kak, apa aku jelek?" tanya Rara dengan menunduk malu.
Aaa.... tanpa diduga Revan menarik pinggang istrinya hingga sang istri terduduk di pangkuannya dengan posisi berhadap-hadapan.
"Apa kau tau kalau kau sangat menggemaskan, tidak jelek sama sekali. Pakaian ini sangat cocok untukmu," ujar Revan seraya mengusap punggung istrinya yang terbuka karena memang modelnya terbuka bagian belakang dan bagian bawahnya juga hanya menutupi intinya saja, paha mulusnya terekspos.
Rara semakin malu saat suaminya mengatakan hal itu. Dia ingin turun tapi Revan sudah lebih dulu menarik tengkuknya dan mema gut bibirnya penuh kelembutan. Tentu saja Rara menyambutnya dengan senang hati, dia juga membalas dan membuka mulutnya agar sang suami bisa bebas mengabsen rongga mulutnya.
Cium an itu semakin dalam saat Rara mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Dengan begitu tangan Revan bisa bebas bergerak pada tubuh sang istri yang menggoda nya sejak tadi. Dari punggung dan kemudian perlahan-lahan merayap ke da da istrinya yang masih kencang dan padat.
Rara merasakan miliknya berdenyut saat sang suami menyentuh titik-titik sensitifnya. Baru di bagian atas saja sudah membuat yang di bawah banjir.
Hosh hosh...
Deru nafas mereka terdengar kencang dan bersahutan saat Revan melepaskan bibirnya.
"Kau sudah semakin pintar sekarang, sekarang mari kita berusaha keras untuk segera menumbuhkan benih-benih ku di sini," ujar Revan seraya mengusap perut sang istri yang sampai saat ini belum juga terisi bayi.
Rara mengangguk kecil dan hatinya begitu bahagia saat merasakan telapak tangan suaminya mengusap perutnya. Itu berarti pria itu sangat menginginkan anak darinya dan semoga saja Allah segera menumbuhkan janin di dalam perutnya.
Namun, tiba-tiba pikirannya terlintas sesuatu yang buruk. Bagaimana kalau ternyata dia tidak bisa memberikan apa yang suaminya inginkan. Bagaimana kalau dia tidak bisa menjadi wanita yang sempurna.
"Kak, bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan mu anak. Kakek juga pasti akan sangat kecewa padaku," lirihnya.
"Kenapa kau bicara seperti itu, bukankah setiap kata yang kita ucapkan adalah doa. Bagaimana kalau ternyata malaikat mencatatnya tadi, cepat katakan yang baik-baik," perintah Revan tapi Rara malah diam.
"Kenapa diam, ayo kita berdoa agar Allah memberikan kita anak-anak yang Sholeh dan Sholehah seperti kamu." Revan memegang tangan istrinya lalu mengarahkannya seperti sedang berdoa.
"Ya Allah, maafkan kata-kata istriku tadi. Dia tidak sengaja berkata seperti itu. Kami ingin segera mempunyai anak dari hasil cinta kita, semoga Engkau mendengarkan doa kami dan segera menumbuhkan janin di perut istriku. Aminnn..."
Rara terharu mendengar setiap doa yang suaminya ucapkan dan yang membuat nya sangat terharu adalah karena sang suami yang kini percaya sepenuhnya pada Allah Sang Maha Pencipta. Bahwa tidak ada hal yang bisa terjadi kecuali atas ijin Nya.
Setelah berdoa Revan mencium tangan sang istri, lalu kening dan perut yang berharap segera berisi.
Mereka kembali saling tatap dan dalam hitungan detik Rara berani lebih dulu menempelkan bibirnya lalu melakukan apa yang tadi suaminya lakukan. Dia sudah sedikit belajar walaupun belum terlalu lihai. Tapi itu sudah cukup membuat Revan terkejut dan menikmati apa yang istrinya lakukan.
__ADS_1
Tanpa basa-basi kini mereka berdua sudah sama-sama polos. Apa yang Rara kenakan lagi-lagi rusak oleh suaminya tapi wanita itu tidak protes karena itu tandanya sang suami begitu tidak sabar mengarungi indahnya malam ini dengannya.
Rara memalingkan wajahnya saat sang suami memandangi tubuhnya.
"Kenapa masih malu-malu," bisik Revan di sekitar telinga istrinya, membuat Rara memejamkan matanya saat hembusan nafas laki-laki itu sampai ke ku litnya.
Aaahhh... aahh...
Hanya suara khas itu yang kini memenuhi kamar mereka. Saat Revan mulai menyentuh dan memainkan titik sensitif pada tubuh atas dan bawah milik istrinya.
"Aahhh... a...ku aku... ah..." Rara tidak bisa lagi menahan sesuatu dibawah sana. Padahal suaminya belum memasukkan miliknya tapi dia sudah beberapa kali keluar.
"Keluar kan saja sayang...," ujar Revan yang sedang men ji lati dan memainkan jarinya pada daging lembek dan basah itu.
Aahh uhhh aahh
Kini giliran Revan beraksi, miliknya sudah sangat keras dan mene gang. Dia mulai naik dan menyambar bibir istrinya yang mulai lemas. Revan mulai menyerang lagi dengan memberikan rang sangaann di setiap titik. Dan ya Rara pun kembali hanyut oleh permainan suaminya.
"Sekarang giliran ku, apa kamu siap?" tanya Revan dengan suara beratnya karena menahan sesuatu. Kali ini ia bertekad akan memberikan sensasi yang lain dan lebih lama dari biasanya.
Satu jam kemudian.
Peluh keringat keduanya sudah bercucuran membasahi tubuh mereka tapi si pria belum juga ingin mengakhiri malam mereka. Dia terus memompa dan menu sukkan miliknya hingga memenuhi lu bang istrinya.
"Sebentar lagi aku keluar sayang, kita sama-sama... Aaahhh..." Tusukkan itu semakin dalam hingga menyentuh dinding rahim sang istri. Cairan kenikmatan keluar di dalam sana, mengalir kan kehangatan dan kepuasan dari kedua insan itu.
"Terimakasih sayang... semoga mereka bisa cepat tumbuh disini," ujar Revan yang kini sudah tergeletak di samping istrinya, memeluk dan mengusap perut yang masih sangat rata itu.
Rara hanya tersenyum tipis dan mengamini dalam hati. Tenaganya seperti terkuras habis malam ini.
to be continue...
°°°
Semoga cepet jadi ya...🤭🤭
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️