Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
86. Mari Berteman


__ADS_3

°°°


Setelah berpikir sejenak, Lia memutuskan untuk mengikuti saran dari temannya.


Lia pun mencoba menghubungi nomor telepon Sakka yang baru ia dapatkan dari gadis penggemar garis keras nya di kampus itu. Sangat mudah, walaupun harus berbohong sedikit agar mereka mau membagi nomor sang idolanya.


Lia melirik Rara yang duduk disampingnya, seolah meminta pendapat apa yang dia lakukan itu benar.


Rara pun mengedipkan matanya, sebagai pertanda bahwa yang Lia lakukan itu sudah benar.


Tut, tut, tut.


Ternyata panggilan itu langsung diangkat oleh Sakka.


📞"Hallo..."


Terdengar suara pria itu. Lia pun memaku, kenyataannya dia tidak seberani itu. Begitu mendengar suara Sakka, tubuhnya menegang dan jantungnya memompa lebih cepat.


📞"Hallo Lia..." Sakka bersuara kembali karena tidak kunjung mendengar suara si penelepon.


Lia pun tercengang begitu Sakka menyebutkan namanya. Bukankah ini pertama kalinya mereka saling terhubung dalam sambungan telepon. Lalu bagaimana pria itu tau jika yang meneleponnya adalah Lia.


"Bagaimana kamu tau..." Lia bersuara, walaupun sedikit terbata-bata.


Kekehan kecil terdengar ditelinga Lia dan ia yakin itu adalah suara Sakka.


📞"Tentu saja aku tau, aku sudah menyimpan nomor telepon mu sejak lama. Tidak menyangka jika kamulah yang lebih dulu menghubungi ku.


Ya melihat siapa pria itu pasti gampang lah kalau hanya mendapatkan nomor telepon seorang gadis.


Lia pun memutar bola matanya jengah mendengar Sakka menyondongkan diri.


📞"Oh iya ada kamu menelpon? tumben. Bukannya kemarin katanya..."


"Aku hanya ingin tau kenapa kamu tidak ada di kampus, tapi sepertinya kamu baik-baik dan masih bisa tertawa." Potong Lia secepat kilat.


Gelak tawa renyah Sakka memenuhi telinga Lia, gadis itupun sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.


📞"Kenapa kamu masih saja galak, tapi aku suka. Terimakasih karena sudah memikirkanku." Kini suara Sakka berubah lirih.


📞"Beberapa hari ini aku sudah memikirkan sikapku memang sudah salah, pantas saja kamu tidak ingin dekat denganku. Aku akui juga bahwa aku memang pria brengseek, bukan salahmu jika melihatku dengan tatapan jijik."


📞"Tapi aku sudah berubah, tidak pernah melakukan hal itu lagi. Tidak apa-apa jika kamu tidak percaya tentang perubahanku. Asalkan kamu tau saja sudah cukup. Dan mengenai kenapa aku terus mendekatimu, memang benar awalnya aku hanya penasaran tapi belakangan aku sadar perasaan ku lebih dari itu."


Lia memaku, perkataan Sakka terdengar tidak sedang berbohong. Lia bisa merasakan hal itu.


📞"Aku mungkin tidak akan pergi ke kampus beberapa hari ke depan, atau aku akan mengambil cuti. Butuh waktu untukku agar tidak lagi tergoda untuk mendekatimu."

__ADS_1


📞"Tidak apa-apa aku baik-baik saja, mari kita bersikap seperti saat kita belum mengenal. Tapi aku minta ijin, jangan melarangku untuk melihatmu dari jauh jika kita bertemu di kampus atau dimana pun. Aku berjanji tak akan mengganggumu lagi."


Kenapa rasanya menusuk saat Sakka yang mengatakan hal itu, padahal Lia sendiri yang mengatakannya kemarin.


Hati Lia seolah tidak rela bila pria itu menjauh, lalu bagaimana dia bisa mengatakannya. Sedangkan dia yang menginginkan seperti itu.


📞"Hallo... apa kau masih disana?"


"Haa... iya." Lia tersentak.


📞"Masih disana rupanya, aku kira tidak mendengarkan ku sejak tadi." Kekehan kecil kembali terdengar.


Entah kenapa suara tawa kecil Sakka justru terdengar hanya pura-pura, untuk menutupi keputusasaan yang mendera.


"Aku... aku minta maaf," ujar Lia. Ia sudah kalah, pada akhirnya perasaan telah mengalahkan ego-nya.


"Sebenarnya aku tidak bermaksud begitu, aku juga tidak marah karena kamu mendekatiku. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku selalu terbawa emosi jika melihatmu."


Mungkin lebih baik memang saling memaafkan dan tidak memendam perasaan.


📞"Ini salahku sendiri yang meninggalkan kesan buruk di matamu. Kamu pasti sudah tau kelakuan ku, yang suka bergonta-ganti pasangan dan minum-minuman keras."


Ya Lia tidak menyangkal hal itu. Dirinya memang merasa seperti itu pada awalnya.


📞"Aku menyadari itu, kamulah yang membuatku sadar."


"Mari kita berteman," ujar Lia.


📞"Benarkah, apa aku tidak salah dengar?" Bisa dibayangkan bagaimana raut wajah Sakka saat ini.


"Kau tidak salah dengar, kita bisa berteman jika kamu mau." Lia sudah sangat yakin dengan ucapannya.


Entah Lia salah dengar atau tidak tapi ditelinga nya terdengar Sakka sedang memekik kegirangan, seperti anak kecil.


📞"Tentu saja aku mau, trimakasih. Aku seperti bermimpi di siang bolong."


Lia yang terkekeh geli mendengar ucapan Sakka. Tidak menyangka reaksi pria itu akan sangat excited.


"Kalau begitu, aku matikan dulu teleponnya. Sebentar lagi akan ada kelas," ujar Lia.


📞"Oh iya, silahkan. Have a nice day, Lia."


📞"Sekali lagi terimakasih."


Sontak pipi Lia memerah, mendengar kata-kata manis Sakka.


"Iya. Kamu juga."

__ADS_1


Apa sih Lia, kenapa kamu berkata seperti itu. Kalian kan hanya teman.


Lia menutupi wajahnya sendiri.


"Apa sekarang sudah lega," tanya Rara, yang membuat Lia tersentak kaget. Keasyikan berbicara ditelepon sampai lupa jika sejak tadi ada temannya disampingnya.


"Rara...," pekik Lia.


Berarti tadi Rara mendengar semuanya, mau ditaruh dimana


Rara paham pada reaksi Lia yang terkejut melihatnya ada disana. Dia pasti sedang khawatir jika Rara mendengar pembicaraannya dengan Sakka.


"Tenang saja aku tidak menguping," ujar Rara. "Kalian asyik sekali sampai tidak sadar aku pergi tadi, kebetulan tadi kak Revan telepon jadi aku menjauh dari kamu." Rara tidak ingin temannya merasa malu pun menjelaskan apa yang terjadi.


"Oh... hehehe," Lia menyengir kuda.


"Apa lagi senyum-senyum begitu, jadi gimana? Kalian sudah baikan?" tanya Rara.


"Iya Ra, ternyata benar apa kata kamu. Setelah meluruskan kesalahpahaman diantara kami, sekarang aku merasa lebih lega," jawab Lia seraya berbinar bahagia.


"Lega dan...?" goda Rara seraya melirik kearah temannya.


"Ihhh... apa si Ra, cuma lega aja rasanya. Plonggg gitu rasanya. Ternyata kalau kita tidak punya rasa dendam, kesal atau membenci orang, rasanya bisa tenang." Lia menatap langit biru di atasnya, karena saat ini mereka sedang duduk di atas rerumputan.


Yang Lia katakan benar, pada dasarnya bila kita ingin tenang maka berdamailah dengan hatimu dan juga orang lain.


"Sekarang sudah lega kan, lalu rencananya hubungan kalian mau bagaimana?" tanya Rara kembali menggoda.


"Rara... kami hanya berteman, tidak lebih dari itu. Yang penting sekarang aku sudah tidak memendam perasaan benci lagi. Dan kesalahpahaman kami juga sudah teratasi." Lia tersenyum malu-malu.


"Kalau sudah tidak membenci berarti mencinta sekarang," Ujar Rara lagi-lagi menggoda temannya. Lalu ia kabur dari sana sebelum mendapatkan amukan dari Lia.


"Rara...." Teriakan Lia melengking tinggi, mendengar ucapan temannya.


"Hai... mau kabur kemana kamu." Lia membulatkan matanya karena ternyata Rara sudah tidak ada disampingnya, padahal dia mau menggelitik temannya itu karena sudah menggodanya.


to be continue...


Berawal dari pertemanan ya girls...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2