Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
102. Papah Janji


__ADS_3

°°°


Mike yang dilahirkan tanpa seorang ayah dan tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah, merasa dirinya harus menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak.


Dia janji akan melindungi calon anak dan ibunya dengan segenap jiwa dan raganya. Mike tidak akan membiarkan anaknya merasakan apa yang dulu ia rasakan.


Hidup di lingkungan yang keras tanpa kasih sayang yang penuh dari orang tuanya, membuat Mike menjadi laki-laki berdarah dingin. Hingga ia terjelembah ke dunia gelap dan tak segan menghabisi musuhnya.


Ibunya dulu adalah seorang pekerja malam, itu sebabnya tidak jelas siapa ayahnya. Sang ibu juga tidak begitu peduli pada Mike, setiap malam dia pulang membawa laki-laki kedalam rumah.


Mike yang sudah muak dengan hidupnya, akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun bukannya hidup lebih baik, dia malah bertemu dengan orang-orang yang membuatnya masuk dalam lingkaran hitam.


"Aku tidak akan membiarkanmu kekurangan kasih sayang nak, aku akan menjaga kalian." Mike berbisik kecil di atas perut Febby, kemudian ia mencium nya sebagai bukti kasih sayang seorang ayah pada anaknya.


Mike kembali menegakkan tubuhnya, kini pandangannya beralih pada wajah wanita yang masih memejamkan matanya.


"Saat kamu bangun nanti mungkin kamu akan membenciku, tapi aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu." Mike mengusap lembut rambut hitam Febby. Ia berharap Febby bisa menerima kehamilannya dan tidak membenci darah dagingnya sendiri.


Entah kapan lagi Mike bisa menyentuh perut Febby lagi, saat wanita itu bangun pasti tidak mungkin membiarkannya mendekat begitu saja.


Mungkin nanti papah tidak bisa menyentuhmu lagi, tapi papah janji akan berjuang mendapatkan hati mamahmu.


Mike memeluk tubuh Febby dan tidak lupa tangannya mengusap perut rata itu puas-puas. Karena setelah ini, dia harus berjuang agar Febby mau menerimanya.


Sorenya, Mike masih tetap di rumah sakit dan tidak beranjak sedikitpun dari samping Febby. Dia tidak ingin saat bangun nanti wanita itu merasa sendirian.


Bibirnya sudah tidak sepucat tadi saat pingsan, menandakan tubuhnya tidak lagi dehidrasi. Sudah lima botol infus habis dan dua kantong darah, setiap setengah jam sekali dokter juga datang untuk memeriksa.


Tentu saja itu ada perintah dari Mike yang ingin agar tubuh Febby cepat membaik.


"Bagaimana Dok, kenapa dia belum bangun juga sampai saat ini?" tanya Mike dengan mimik muka yang terlihat kelelahan.


"Sebentar lagi mungkin Tuan, jika dihitung dari jam pemberian obat penenang. Anda sabar saja Tuan, saat ini kondisi tubuh nona sudah sangat baik." Dokter itu mencoba mengurangi rasa khawatir yang dirasakan Mike.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Dokter dan perawat itu pamit keluar.


Mike kembali mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di samping brangkar. Tangannya juga kembali menggenggam tangan Febby.


Tiba-tiba saja, dia merasakan gerakan kecil yang berasal dari jari jemari Febby.


"Kau sudah sadar?" mata mike berbinar bahagia, akhirnya yang ia tunggu sejak tadi bangun juga.


Terdengar lenguhan kecil dari Febby, "Eugghh..."


"Kepalaku pusing sekali," ujar Febby seraya mengerjapkan matanya perlahan.


"Apa ada yang sakit, bagian mana yang sakit?" Mike mendekat.


Silaunya cahaya lampu membuat Febby menyipitkan matanya. Sepertinya masih belum sadar dirinya sedang berada dimana saat ini.


"Apa kau baik-baik saja, bagian mana yang sakit?" tanya Mike lagi semakin mendekatkan wajahnya.


Febby yang mendengar suara laki-laki yang ia pikir ada di dalam kamarnya pun , langsung membelalakkan matanya.


,,,


Sementara, di kediaman keluarga Herwaman. Semua orang semakin sibuk menjelang matahari terbenam. Lampu yang menghiasi taman yang sudah diubah menjadi tempat pesta kecil-kecilan pun sudah menyala. Semakin indah saat lampu-lampu itu menyinari bunga-bunga di sekitarnya.


Umi, Abi dan Luna juga sebentar lagi sampai. Ternyata kakek diam-diam mengundang besannya untuk datang merayakan kenaikan jabatan cucunya. Tentu saja mereka bertiga terkejut saat tiba-tiba ada mobil suruhan kakek Tio datang untuk menjemput.


Namun, setelah supir itu menjelaskan akhirnya mereka mau juga untuk ikut. Tentu mereka tidak mungkin menolak niat baik dari kakek Tio.


"Umi, Abi ini pertama kalinya aku datang ke rumah adik ipar," ujar Luna yang duduk di sebelah ibunya, seraya terkekeh geli.


"Iya nak, kau pasti nanti terkejut melihat rumah kakek Tio yang begitu besar." Umi pun merasa senang bisa bertemu dengan putrinya lagi.


Luna merasa bahagia melihat umi dan Abinya yang terlihat sangat berseri-seri. Dirinya sangat tau sampai saat ini kedua orangtuanya masih saja merindukan putri nya yang telah menikah. Itulah yang membuat Luna berat untuk mencari pekerjaan yang jauh dari rumah saat ini.

__ADS_1


Di desa jasa psikolog sangat jarang di butuhkan, bahkan tidak ada yang sadar akan kondisi psikologis yang kadang bisa sangat berbahaya bila tidak segera ditangani.


Saat ini Luna, hanya mengisi waktu luangnya dengan mengajar anak-anak TK. Mungkin dengan ilmu yang ia pelajari setidaknya, ia bisa menanamkan nya pada anak-anak sejak dini.


Ada keuntungannya juga, dia jadi lebih mengerti dunia anak-anak dan bisa mudah mendekati muridnya.


"Apa masih jauh umi, hoaammm...," keluh Luna yang mulai mengantuk.


"Sepertinya masih, kamu tidur saja bila mengantuk. Nanti umi bangunkan jika sudah sampai." Ujar umi seraya mengusap surai hitam rambut putrinya. Dengan senang hati Luna pun segera memejamkan matanya


Abi yang melihat tingkah putri sulungnya di belakang pun tersenyum lembut. Tingkah kedua putrinya memang tidak beda jau, mudah sekali tidur dimana saja bila sudah mengantuk.


"Pundakmu bisa pegal, jika Luna terus bersandar begitu," Ujar abi pada istrinya.


"Tidak apa-apa, suamiku. Biarkan Luna beristirahat, mengurusi anak kecil itu sangat melelahkan." Umi mengusap tangan putri sulungnya.


Kasih sayang umi dan Abi pada Luna sama besarnya pada Rara. Walaupun kelihatannya mereka lebih sayang pada Rara, tapi mereka juga sangat menyayangi Luna.


Mungkin kasih sayang mereka begitu terlihat pada Rara, karena mereka menganggap Rara masih seperti putri kecilnya. Dan karena takdir yang menimpa Rara jugalah yang membuat mereka lebih dominan merasa lebih perhatian pada putri bungsunya.


Jika Luna, mereka yakin gadis itu sudah tumbuh dewasa dan akan mengerti. Tapi tetap tidak mengurangi kadar kasih sayang mereka. Malahan belakang ini mereka di buat terharu oleh sikap Luna yang rela berkorban untuk kepentingan warga sekitar. Saat di desa mereka kekurangan tenaga pendidik, Luna dengan senang hati membantu.


Sungguh orangtua mana yang tidak bangga bila putri mereka mau membantu sesama, ketimbang pergi kerja di kota.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2