Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
93. Belajar Bersama


__ADS_3

°°°


Kedua insan manusia itu masih berpelukan, hanyut dalam suasana. Heningnya malam menjadi saksi bagaimana sepasang suami istri itu saling mengungkapkan perasaannya.


Revan bahkan masih belum memakai pakaiannya, ia lupa pada semuanya. Rasa bahagia membuatnya lupa.


Sementara Rara juga sama ia merasa lega karena ternyata suaminya tidak marah padanya. Tidak ia pungkiri jika saat ini ia merasa gugup, dipeluk oleh lelaki yang ia cintai dengan bertelaanjanng dada. Tapi ia tidak ingin merusak momen romantis itu.


Setelah cukup lama mereka saling berpelukan akhirnya Revan melepaskan istrinya. Yang sudah pasti merona pipinya.


Revan menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya, lalu ia mendaratkan kecupan di kening, mata, hidung, pipi dan yang terakhir ia cukup ragu untuk melakukannya.


"Bolehkah aku mencium di sini?" tanyanya seraya mengusap bibirnya mungil istri tercinta dengan ibu jarinya.


Rara mengangguk kecil, seraya tersenyum malu-malu.


Apa memang seperti itu orang yang akan berciuman, harus meminta ijin dulu? pikirnya.


Setelah mendapatkan lampu hijau Revan pun perlahan mendekatkan wajahnya. Sudah beberapa kali mereka berciuman tapi keduanya masih canggung dan belum menikmati.


Revan mendiamkan cukup lama bibirnya, ia ingin membuat istrinya terbiasa dengan itu. Setelah cukup lama Revan menjauhkan wajahnya, membiarkan Rara menghirup oksigen sebanyak- banyaknya. Karna ia tau tadi istrinya itu menahan nafasnya.


"Kenapa kau menahan nafas, kau bisa kehabisan nafas jika aku melakukannya dengan waktu yang lama," ujar Revan seraya tersenyum lembut.


"A...aku gugup Kak, aku belum terbiasa melakukannya." Pipi Rara saat ini sudah sangat merah. Dia tidak tau harus bagaimana ketika melakukannya. Malu, gugup dan tegang bercampur menjadi satu.


"Tidak apa-apa, kita belajar sama-sama, aku juga tidak ahli tapi aku bisa melakukannya. Kamu juga wanita pertama yang aku cium." Revan menempelkan keningnya. Bukan hanya Rara yang gugup, suaminya juga sama. Revan takut akan membuat istrinya takut.


"Bisakah kita mencobanya lagi?" tanya Revan.


"Bisa tidak jangan tanya dulu kalau mau melakukannya, Kak. Aku malu," Lirih Rara, ia sudah sangat malu di tambah suaminya yang terus bertanya.


"Jadi aku boleh menciummu kapan saja," ujar Revan dengan mata berbinar bahagia.


"Kak...," rengek Rara yang sudah sangat malu rasanya, Ia memukul pelan dada bidang suaminya.


"Hahaha... iya iya, tidak tanya-tanya lagi. Kalau mau aku bisa langsung menciummu." Revan yang gemas semakin suka menggoda Rara.

__ADS_1


Sontak Rara kembali menghujani dada suaminya dengan pukulannya. Walaupun sebenarnya tidak terasa apa-apa pada Revan, lebih seperti gelitikan malah.


Revan segera menggenggam tangan istrinya yang masih memukul-mukul dadanya. Tidak seperti tadi yang penuh proses dan penghayatan. Kali ini tiba-tiba saja bibirnya sudah mendarat di bibir istrinya yang sedang kesal.


Rara pun membulatkan matanya dengan serangan mendadak itu, tapi anehnya tidak lagi segugup yang pertama. Perlahan Rara memejamkan matanya dan menikmati ciuman itu. Dengan sedikit demi sedikit mengambil nafas seperti yang suaminya katakan tadi, meski ia tidak tau caranya benar atau tidak.


Setelah dirasa istrinya mulai menikmati, Revan pun menggerakkan bibirnya perlahan. Meluumaat dan menghisap bibir istrinya penuh perasaan.


Sementara Rara diam dan menikmati apa yang suaminya lakukan.


"Buka mulutmu sayang," bisik Revan disela-sela ciumannya agar sang istri mau membuka mulutnya.


Rara yang tidak mengerti masih tetap diam, pikirnya untuk apa membuka mulut. Tapi saat itu juga Revan menggigit kecil bibir bawah istrinya, hingga Rara membuka mulutnya hendak protes.


Namun, lagi-lagi rara terpaku saat merasakan lidah Revan menari-nari dalam rongga mulutnya. Yang awalnya terasa aneh, tapi lama-lama Rara pun terbuai oleh permainan yang Revan ciptakan.


Revan tidak tinggal diam saat sang istri mulai menikmatinya, ia menahan tengkuk Rara dan menekannya lebih dalam. Tangannya yang satunya juga tidak tinggal diam, ia gunakan untuk menarik pinggang istrinya agar mereka semakin dekat.


Lama... hingga suara kecapan memenuhi ruangan itu. Revan tidak melepaskan istrinya dengan mudah. Ia sudah menunggu kesempatan ini, tentu tidak mau menyia-nyiakan lagi.


Lumaataan itu kini semakin dalam dan Rara juga sudah sedikit mengimbangi permainan suaminya. Walaupun masih sedikit kaku.


Hosh... hosh....


Nafas mereka terengah-engah setelah Revan melepaskan bibirnya. Walaupun sudah berusaha bernafas tapi ciuman yang begitu lama membuat mereka tetap kehabi nafas.


Revan mengusap lembut bibirnya istrinya yang membengkak, bibir mungil itu kini jadi tebal akibat ulahnya.


Dengan posisi seperti itu membuat wajah Rara lebih tinggi darinya, sehingga Revan bisa melihat dengan jelas wajah yang malu-malu itu.


"Kak...," lirih Rara yang tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Bagaimana tidak, saat ini ia duduk tepat di atas sesuatu yang mengeras. Ingin loncat turun tapi tangan Revan menahan pinggangnya.


"Kenapa?" tanya Revan yang gemas melihat istrinya malu-malu begitu.


"Aku turun dulu Kak, kak Revan kan belum memakai baju." Sungguh Rara serba salah, ingin bergerak pun takut jadinya.


"Kenapa harus memakai baju, nanti juga di lepas lagi," ujar Revan seraya merapikan rambut Rara yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


Sontak Rara kembali gugup mendengar ucapan suaminya.


Melihat istrinya yang gugup membuat Revan menahan tawanya, padahal ia hanya sedang menggoda. Walaupun di bawah sana miliknya sudah siap untuk melakukan penjelajahan. Tapi dia tidak ingin melakukannya malam ini.


Revan ingin melakukan hal itu di tempat dan waktu yang tepat, tidak seperti malam ini. Karena untuk pertama kalinya bagi sang istri pasti membutuhkan waktu yang lama, agar tidak jadi melukai bagian inti istrinya jika terburu-buru.


"Kau tidak usah takut karena aku tidak akan melakukannya malam ini," ujar Revan.


"Kenapa Kak?" tanya Rara, sepertinya ia sedikit kecewa atau khawatir jika Revan harus mandi air dingin di tengah malam.


"Apa kau kecewa karena aku tidak melakukannya sekarang?" tanya Revan seraya terkekeh.


"Aa... bukan begitu Kak. Aku takut kak Revan sakit jika mandi air dingin lagi malam ini." Ucapan polos Rara benar-benar membuat Revan tidak percaya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menanganinya."


"Bagaimana caranya Kak?" Rara menatap ingin tau caranya.


Sontak tawa Revan pecah dan membuat Rara cemberut.


"Kenapa kak Revan tertawa?" Rara merengut.


"Apa kau tau, kau itu menggemaskan. Tidak ada cara apa-apa sayang, hanya perlu tidur saja, ayo."


Sementara Rara masih menatap bingung pada suaminya, jika dengan tidur juga bisa kenapa harus mandi air dingin.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2