
°°°
Seperti dugaan Rara, saat ini Revan sudah berhasil keluar dari ruang kerjanya. Sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak keluar, tetap saja rasanya ingin sekali menyusul istrinya yang katanya mau makan. Setiap kali mendengar istrinya mau makan dia juga lapar.
Sekarang sudah tidak ada lagi perut kotak-kotak apalah itu. Perut Revan bahkan hampir sama buncitnya dengan sang istri yang sedang hamil.
Revan turun dengan tergesa-gesa sampai sang kakek pun melihatnya heran.
"Kau mau kemana buru-buru seperti itu?" tanya kakek Tio dengan melipat kedua tangannya.
Revan pun menggaruk kepalanya. "Aku mau ke bawah Kek," ujarnya.
"Mau apa? Pasti mau mengganggu cucu menantu ku lagi. Sudah sana kembali ke ruangan kerjamu saja, kasihan Rara kalau terus kamu ganggu," tegas kakek.
"Baik Kek." Revan kembali menaiki tangga untuk kembali ke ruangan kerjanya tapi saat melihat sang kakek sudah pergi dari sana, dia pun kembali meneruskan rencananya.
Maaf Kek, ini juga bukan kemauan ku.
Sampai di bawah ternyata sang istri tidak ada di sana.
"Bi di mana istriku?" tanya Revan pada bi Mur.
"Nona... saya tidak tau Tuan," bohong bi Mur.
"Bi, aku tau bibi pasti dilarang oleh Rara untuk memberitahuku di mana dia berada. Tidak apa-apa bi, biar aku cari sendiri."
"Maaf Tuan."
Revan mencari di setiap situasi rumah hingga lelah tapi tak juga menemukan sang istri.
Di mana sebenarnya istriku.
Revan pun kelelahan dan memilih untuk mendudukkan dirinya di sofa. Lalu beberapa saat kemudian sang istri datang dari belakang dengan membawa piring kosong di tangannya.
"Sayang, kau dari mana?" Revan menghampiri istrinya dengan wajah berbinar.
"Aku dari belakang, kenapa kak Revan bisa keluar? Pasti mau mengambil makanan ku lagi," sungut Rara.
"Tidak, mana mungkin aku seperti itu. Kan tadi aku sudah berjanji. Buktinya aku tidak mengambil makanan mu," tatap Revan penuh kekecewaan saat melihat piring yang dibawa istrinya sudah kosong.
"Benarkah? Syukurlah kalau memang kak Revan bisa menepati janji. Jadi besok-besok aku tidak perlu bersembunyi lagi," ujar Rara seraya berlalu meninggalkan suaminya yang lemas seketika.
Nak, kenapa kau menyiksa ayahmu seperti ini. Tidak bisakah kau ingin makan yang lain, kenapa harus menginginkan makanan yang dimakan ibumu sendiri. Revan mengusap wajahnya frustasi.
__ADS_1
,,,
Beberapa hari kemudian.
Umi dan Abi sudah di rumah besannya. Atas permintaan Rara yang ingin kedua orangtuanya ikut menemani saat ia melahirkan nanti. Umi juga bisa membantu Rara merawat baby A nantinya.
Ya, memang Rara dan Revan sudah sepakat mau anak mereka berjenis kelamin laki-laki atau perempuan nama awalannya huruf A. Jadi mereka memanggil nya baby A.
"Bagaimana kabar mbak Luna, Umi?" tanya Rara yang saat ini sedang menikmati opor ayam buatan umi nya.
"Dia baik-baik saja nak, dia sedang sangat sibuk sekarang. Semenjak tahu buatan pabrik kita mulai diekspor ke luar negeri."
"Aku bangga sekali pada Mbak Luna, dia berhasil membawa tahu dari desa kita ke luar negeri. Berkat mbak Luna juga sekarang pengangguran di desa sudah berkurang," sanjung Rara.
"Kau benar nak, umi juga bangga sekali pada Luna. Kalau bukan karena usahanya pasti saat ini pabrik tahu kita jalan di tempat," ujar umi.
Banyak sekali perubahan yang Luna bawa dalam memajukan masyarakat desanya. Bahkan para perangkat desa juga turut serta mendukung apa yang Luna lakukan.
"Mbak Luna sekarang sudah jadi CEO pabrik tahu barokah." Rara terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
Sementara umi malah tidak tau apa artinya CEO.
"Ceyo itu apa nak?" Tanya umi, bahkan mengejanya saja ceyo.
"C E O umi, bukan ceyo. Itu loh umi, sebutan untuk pemimpin perusahaan, hehehe...," jawab Rara.
"Iya umi, bosnya bos."
Rara menghabiskan nasi dan opor ayamnya tanpa gangguan kali ini karena sang suami sibuk mengobrol dengan kakek dan Abi.
,,,
Makan malam.
Semua orang sudah duduk di meja makan untuk makan malam. Menu makanan kali ini adalah atas permintaan Rara semuanya. Dia sudah lama ingin memakan masakan uminya.
"Jadi bagaimana nak, sebaiknya kamu cepat rapatkan pada para dewan untuk mengangkat tahu sebagai produk baru perusahaan kita," ujar kakek Tio. Rencananya memang Revan berniat bekerjasama dengan pabrik tahu milik mertuanya, dia mau membuat makanan kemasan dari olahan tahu.
"Nanti aku siapkan proposal nya Kek, setelah itu aku akan ajukan pada dewan. Semoga saja mereka setuju," jawab Revan dengan tidak fokus karena sejak tadi dia melihat ke arah sang istri yang sedang makan.
"Aku yakin mereka setuju, ini juga bagus untuk mengangkat produk lokal agar lebih mendunia dengan berbagai olahan." Kakek dan Abi pun mengangguk.
"Abi setuju saja kalau memang nak Revan berencana untuk bekerjasama dengan pabrik tahu kami. Nanti Abi akan memberitahu Luna tentang rencana ini. Dia biasanya punya ide-ide yang unik dan menarik," ujar Abi.
__ADS_1
"Nah... bagus itu. Aku tidak menyangka Luna sangat pandai berbisnis, kalau dikembangkan terus pasti akan sukses nantinya," puji kakek dan diamini oleh semua orang.
Mereka pun melanjutkan makan malam sambil sesekali berbincang santai. Berbeda dengan Revan yang sejak tadi frustasi karena tidak bisa menyerobot piring milik istrinya. Tentu hal itu karena ada sang mertua di hadapannya. Dia tidak mau sang mertua mengira dirinya suka menindas sang istri.
"Sssttt... sayang," panggil Revan dengan berbisik.
Tapi Rara sama sekali tidak mendengar.
Revan pun menggunakan tangannya untuk memanggil sang istri, dia menepuk paha sang istri.
"Sayang...," panggilnya lagi.
Rara pun melirik malas, dia sudah bisa menebak apa yang suaminya mau.
"No!"
Revan melongo melihat mulut Rara yang mengucapkan kata 'No'.
Sayang, semoga kamu tidak ileran kalau sudah lahir nanti. Papah tidak bisa memaksa mamahmu untuk memberikan makanannya.
Revan sama sekali tidak berselera makan walaupun berbagai menu ada. Dia pun memilih untuk pergi lebih dulu.
"Aku sudah selesai makan, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku. Kalian lanjutkan saja," pamit Revan. Padahal perutnya sudah kelaparan.
Selesai makan malam.
"Nak, kamu bawakan makan malam untuk suami mu. Sepertinya tadi umi lihat nak Revan sama sekali belum makan," perintah umi.
"Iya umi, aku juga melihatnya."
Itu karena dia tidak mendapatkan piringku umi.
"Ya sudah, kamu cepat bawakan dia makan malam. Tidak baik kalau sampai telat makan."
Rara pun naik ke atas menyusul suaminya dengan membawakan makan malam.
"Kak, aku bawakan makan malam untuk kak Revan." Rara masuk setelah mengetuk pintu.
Revan awalnya menolak makanan yang istrinya bawa, alasannya sama seperti tadi. Akhirnya Rara pun punya ide dengan memakan makanan itu di depan suaminya dan idenya berhasil. Revan langsung meminta dan menghabiskan sisanya.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️