
°°°
Melihat istrinya tersenyum membuat Revan ikut senang, sudah bisa ditebak kalau sang istri pasti baru mendapatkan kabar baik.
"Kak, apa kau tau siapa yang menelepon ku tadi," ujar Rara dengan wajah berbinar bahagia.
"Siapa? Apa itu kakek?" Revan sengaja asal menebak.
"Bukan kak, itu temanku Lia yang tadi kita bicarakan."
"Panjang sekali umurnya baru dibicarakan langsung memberi kabar," ujar Revan.
"Ihhh bukan itu yang penting kak. Apa kakak tau katanya dia akan kembali ke Jakarta dan katanya masalah panti juga sudah selesai kak." Rara sangat senang mendengar permasalahan yang menimpa panti asuhan tempat Lia tinggal dulu sudah selesai.
"Apa kau senang sekarang, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi mulai sekarang," ujar Revan seraya membawa istrinya dalam dekapannya. Menaruh kepala sang istri agar ia bersandar di dada suaminya.
"Iya kak, aku sangat senang mendengarnya. Tapi masih ada yang aku pikirkan kak, bagaimanapun aku masih memikirkan kak Febby. Aku kasihan melihatnya," ujar Rara seraya merapatkan tubuhnya pada sang suami.
Revan menciumi pucuk kepala sang istri dan mengusapnya lembut.
"Kamu tenang saja, demi anaknya Mike pasti bangun dan Febby juga sangat kuat orangnya. Dia sangat gigih dan pantang menyerah. Kamu cukup temani saja dia sesekali, tapi juga jangan terlalu sering karena aku juga perlu kamu temani," ujar Revan usil dan sontak membuat Rara tersipu.
"Aku tau tugasku sebagai istri kak, tidak mungkin aku menelantarkan suamiku sendiri."
"Terimakasih selama ini selalu bertahan di sisiku." Revan menghujani istrinya dengan ciuman.
"Kak, sudah hentikan. Nanti dilihat pak supir." Rara malu karena suaminya jadi tidak tau malu sekarang.
"Kau tenang saja, semua pekerja sudah dibayar dengan mahal agar bisa selalu paham dengan situasi dan kondisi. Jadi dia tidak akan berani melihat ke belakang dan tidak akan pernah ikut campur urusan tuannya." Revan semakin gencar menciumi seluruh wajah istrinya yang sudah sangat ia rindukan karena di rumah sakit tidak begitu leluasa.
Sementara Rara melongo mendengar perkataan suaminya. Apa orang kaya bisa begitu semua pikirnya.
,,,
Akhirnya mobil yang Revan dan istrinya tumpangi sampai juga di kediaman keluarga Herwaman.
Kakek sudah sangat antusias menyambut kepulangan cucunya, dia sudah berdiri di depan rumah setelah mendengar kalau cucunya sudah melewati gerbang rumah.
"Pelan-pelan kak," ujar Rara seraya membantu suaminya turun dari mobil.
__ADS_1
"Mau pakai kursi roda Kak?" tawarnya.
"Tidak usah kamu bantu aku saja untuk jalan, aku sudah bisa berjalan kok."
"Tapi kata dokter kaki kakak jangan banyak bergerak dulu sebaiknya," Rara bukan tidak mau membantu suaminya berjalan tapi dia khawatir kalau kaki suaminya jadi semakin memburuk.
"Sudah-sudah... suamimu ini memang keras kepala nak. Biarkan saja apa maunya nanti kalau ada apa-apa jangan mau mengurus nya." Kakek yang melihat perdebatan sang cucu dan istrinya akhirnya menghampiri mereka.
"Kakek... kenapa mendoakan ku yang buruk-buruk. Bukannya berdoa agar aku cepat sembuh," kesal Revan pada kakeknya.
"Bagaimana mau cepat sembuh kalau kamu tidak mau mendengarkan istrimu." Kakek tentu saja membela Rara.
"Iya iya... kalian menang. Kalian curang... aku tidak ada yang membela disini." Revan akhirnya mengalah dan hal itu membuat Rara dan kakek saling melempar senyum.
"Pak tua tolong ambilkan kursi roda di belakang," perintah kakek Tio pada pak Ahmad.
"Baik Tuan." Pak Ahmad segera mengambilkan kursi roda yang ada di bagasi mobil.
"Mari Tuan," ujar pak Ahmad seraya membantu Revan untuk duduk di kursi roda. " Biar saya saja Non, nona pasti lelah." Pak Ahmad mendorong kursi roda itu.
"Terimakasih pak, ayo masuk."
Di dalam rumah...
"Apa kakek sudah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kecelakaan itu kek?" tanya Revan.
"Kakek sudah mengantongi bukti ditambah bukti-bukti yang kamu punya tentang runtuhnya bangunan proyek yang menewaskan dua pekerja. Merasa sudah sangat keterlaluan. Merasa sama sekali tidak segan-segan mengorbankan nyama manusia demi keuntungan pribadi." Padahal kakek selama ini diam tapi justru mereka semakin menjadi.
"Kakek benar, aku tidak akan membiarkan mereka lolos kali ini. Aku juga tidak akan membuat pengorbanan Mike jadi sia-sia." Revan mengepalkan tangannya.
"Jadi kapan kita akan bergerak untuk mengurus mereka Kek?" tanya Revan.
"Senin besok orang-orang itu mau mengadakan rapat dewan direksi untuk menentukan pemimpin baru tanpa memberi tahu kakek. Kakek memang sengaja menyembunyikan keadaan kamu, jadi setau mereka kamu juga koma seperti Mike. Kita akan muncul disaat yang tepat."
"Kamu fokus sembuhkan kakimu dulu, biar kakek yang mengatur segalanya," ujar kakek yang sedang memegangi tongkatnya untuk bertumpu.
"Baiklah kalau begitu aku akan berusaha keras agar segera sembuh," Revan setuju dengan usulan kakeknya.
Di sela pembicaraan yang serius itu, Rara datang dari belakang membawakan teh dan cemilan untuk suami dan kakeknya.
__ADS_1
"Apa kau yang membuat ini semua, nak? tanya kakek.
"Tidak kek, itu buatan bibi. Aku hanya membuat teh saja tadi, mana mungkin secepat itu aku bisa membuat itu semua." Rara meletakkannya di meja, lalu membawakan teh untuk suaminya agar lebih mudah meminumnya.
"Kamu jangan terlalu lelah nak, fokus saja pada suamimu. Urusan rumah bisa diurus oleh pelayan. " Kakek pun tersenyum pada Rara.
"Iya Kek, aku akan menjaga kak Revan 24jam."
Sontak membuat Revan dan kakek sama-sama tersenyum.
"Diminum kak," Rara menyerahkan cangkir tehnya pada sang suami.
"Terimakasih istriku..." Ujar Revan dengan senyum manisnya membuat Rara tersipu malu.
Kakek pun geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya.
"Ingat kakimu belum benar-benar sembuh, tahan diri dulu," sindir kakek pada sang cucu.
"Aku tau Kek, kakek tidak usah membahas hal itu di depan istriku. Lihatlah pipinya sudah begitu merah karena kakek," ujar Revan yang lalu mendapatkan pukulan kecil dari sang istri.
"Itu karena kamu, dasar cucu tengil." Kesal kakek.
"Ahmad, cepat kau bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau mengganggu mereka lagi," ujar kakek pada pak Ahmad.
"Tidak seperti itu Kek, kami sama sekali tidak merasa terganggu. Kakek jangan ambil hati omongan kak Revan." Rara merasa tidak enak pada kakek Tio.
"Tidak apa-apa nak, kakek mana mungkin marah pada kalian, kakek hanya lelah saja dan ingin beristirahat ke kamar. Kalian juga sebaiknya beristirahat, di rumah sakit kalian pasti tidak bisa beristirahat dengan benar." Kakek lantas meninggalkan mereka.
Revan tersenyum pada kakeknya yang begitu pengertian dan saat kakeknya melihat ke arah dia memberikan dua jempolnya pada sang kakek.
Kakek memang T O P...
to be continue...
°°°
Akhirnya pulang juga yakkk... 😍
Yuk tebar bunganya buat mereka 🤭🤭
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️