
°°°
Masih flashback
Mike masih mencoba menenangkan Febby yang menangis meraung-raung, untunglah Mike sudah mengosongkan satu lantai itu hanya untuk wanitanya. Jadilah tidak ada pasien lain yang akan terganggu.
"Tenanglah, jangan menangis lagi. Atau mau aku cium lagi?" goda Mike.
Bukannya berhenti menangis setelah mendengar ancaman itu Febby malah menaikkan volumenya. Anehnya dia seperti menginginkan hal itu lagi.
Mike juga merasa demikian, makanya dia sedikit terkekeh. "Jadi kau benar-benar ingin aku cium lagi."
Sontak Febby berhenti menangis, takut ketahuan jika memang dirinya ingin lagi.
"Apa kau sudah ingat ada dimana sekarang? kalau sudah ada yang mau aku bicarakan." Mike tidak ingin menunda lagi, memberitahu lebih cepat akan lebih baik.
Febby nampak berpikir dan bola matanya menatap sekeliling.
Ini bukan kamarku, akhirnya ia sadar.
Pikirannya pun mulai mengingat kejadian sebelum ia berakhir di ranjang rumah sakit.
Bukankah tadi aku sedang memeriksakan diri ke dokter, lalu dokter bilang...
Febby menutup mulutnya saat mengingat perkataan dokter yang telah memeriksanya.
Aku hamil, bagaimana mungkin bisa. Dokter pasti salah, aku tidak mungkin hamil. Ya ya dokter itu hanya asal bicara saja kan.
Febby mencoba meyakinkan hatinya jika apa yang terjadi tidaklah benar.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mike yang melihat raut keterkejutan di wajah Febby. Ia yakin saat ini wanita itu sudah mengingatnya.
"Dimana dokternya, aku mau bicara dengannya."
Febby hendak turun dari ranjang.
"Tunggu kau tidak boleh kemana-mana, lihatlah tanganmu masih menancap jarum infus dan tubuhmu masih lemah." Mike segera menahan agar Febby tidak turun sembarang.
"Siapa kamu berhak mengatur ku, minggir!!" bentak Febby.
"Dengarkan aku dulu, tetaplah disini." Mike tidak mau menyingkir.
__ADS_1
"Minggir lah, kau itu siapa tiba-tiba ada di sini dan urusan ku tidak ada hubungannya denganmu." Febby ingin segera mencari kebenaran.
"Tetap diam ditempat aku bilang!" Mike sudah dalam mode serius.
Namun, Febby tidak peduli itu. Yang dia butuhkan saat ini adalah mencari kebenaran jika dirinya tidak benar-benar hamil.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu, cepat minggir dari hadapan ku." Febby balas menatap tajam.
Mike mendekatkan wajahnya, lagi-lagi ia mendaratkan bibirnya agar wanita itu tetap ditempatnya.
Febby yang mendadak dicium pun membelalakkan matanya dan berusaha mendorong tubuh pria itu. Meski ia bukan wanita baik-baik, tapi diperlakukan seenaknya oleh pria yang tidak ia kenal itu rasanya menyakitkan. Entah kenapa hatinya mendadak melemah, lelehan air mata pun mengalir begitu saja.
Saat menyadari jika saat ini wanita itu terisak, Mike pun melepaskan ciumannya. Sungguh ia tidak bermaksud membuat Febby sedih. Mike hanya ingin supaya wanita itu mau mendengarkan nya terlebih dahulu.
"Maaf...," ujar Mike.
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipi Mike hingga memerah.
"Apa kau menganggapku wanita yang sangat hina, hingga seenaknya mencium ku seperti itu." Febby dalam isakkannya. Hatinya tiba-tiba melembut dan gampang tersinggung.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kamu dengarkan dulu penjelasanku. Kau mau mencari dokter untuk menanyakan kehamilan mu kan?"
"Apa ini?" tanya Febby seraya membuka secarik kertas putih itu.
Sontak matanya menatap tidak percaya, tangisnya kembali luruh. "Ini tidak mungkin, bagaimana aku bisa hamil."
Pertanyaan itu tentu saja Febby terngiang-ngiang dalam benaknya. Bagaimana bisa ia hamil jik sudah sangat lama ia tidak melakukan hal intim dengan pria. Dan selama ini juga selalu menggunakan pengaman. Lalu darah daging siapa yang sudah tumbuh tanpa ijin di perutnya.
"Ini tidak mungkin, tidak mungkin ada bayi di dalam perutku. Kau pasti bohong kan, ini semua palsu kan?" Air matanya kembali mengalir deras. Dia tidak bisa menerima hal itu sedangkan dia tidak tau siapa ayah dari bayinya.
"Katakan kalau ini tidak benar... hiks ..." Terisak penuh penyesalan. Dia tidak ingin bayi diusianya yang masih muda seperti sekarang. Masa depannya masih sangat panjang, Kenapa ujian harus hadir disaat Febby sudah mulai berubah.
Mike yang melihat Febby menangis dengan begitu pilu pun merasa sangat bersalah, karenanya wanita itu harus mengandung di usia yang masih muda.
"Jangan menangis lagi, kau tidak sendiri. Ada aku disini, aku akan bertanggung jawab." Mike menggenggam tangan Febby.
Sontak Febby memandang lelaki yang ada didepannya.
"Kau siapa, selalu datang tiba-tiba dihaadapanku. Lalu sekarang bilang mau bertanggung jawab. Cih...,"
__ADS_1
"Apa kau tidak ingat, saat kau datang ke club' malam sendiri lalu mabuk-mabukan disana." Mike mencoba mengingatkan Febby agar dia tau apa yang terjadi.
"Dari mana kau tau?" Febby ingat dan malam itu setelah ia mabuk tidak ingat apapun lagi dan pagi harinya dia seperti sudah menjadi korban pemerkosaan.
"Karena aku yang membawamu pergi," ujar Mike berkata jujur, dia siap jika Febby akan mengamuk.
"Apa maksudmu? Apa kau adalah laki-laki yang sudah..."Febby menggantung kalimatnya.
"Iya, akulah yang sudah menidurimu," jawab Mike tanpa ragu.
Plakk,
Tamparan itu kembali mendarat, kali ini terasa lebih sakit karena bekas yang tadi saja masih belum hilang.
"Jadi kau laki-laki brengseek yang sudah memperkosaku, lalu pergi begitu saja." Febby meluapnya emosinya.
"Maaf, aku tidak bermaksud kabur. Percayalah aku memang berniat bertanggung jawab, makanya aku selalu muncul di sekitarmu."
"Lalu malam itu bukan salahku sepenuhnya, jika bukan kamu yang menggodaku lebih dulu. Aku juga tidak mungkin tergoda." Mike mencoba membela diri.
Sontak amarah Febby pun semakin membuncah hebat, mendengar laki-laki itu menyalahkannya.
"Setelah apa yang kau lakukan, lalu kamu menyalahkan ku. Kamu yang telah memanfaatkan wanita yang sedang mabuk."
Tidak habis pikir Febby, dia yang sedang mabuk pasti tidak ingat apa yang terjadi.
"Bukan aku menyalahkan mu, aku hanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Agar kau tidak menyalahkanku. Sekarang aku ingin bertanggung jawab dan menjadi ayah untuk janin yang kau kandung." Mike menerangkan maksudnya.
Febby memalingkan wajahnya, rasanya hal ini masih belum bisa ia percaya. Apalagi ada laki-laki yang tiba-tiba mengaku sebagai ayah dari janinnya.
"Keluarlah, aku ingin sendiri. Aku lelah dan pusing memikirkan semua ini. Jangan ganggu aku sekarang." Febby menyuruh Mike untuk keluar dari ruangan itu. Dia ingin mencari jalan keluarnya sendiri.
Flashback end
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...