Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
113. Menyingkirkan Benalu


__ADS_3

°°°


"Mike berikan pada mereka!" perintah Revan pada assistennya.


Mike pun melemparkan bukti-bukti kecurangan mereka selama menjabat sebagai manajer dan wakil manajer.


"Kalian lihat baik-baik, apa kalian masih pantas dipertahankan di perusahaan ini," ujar Revan seraya memainkan bolpoin di tangannya dengan kaki yang masih atas meja.


(Kalian bayangkan sendiri bagaimana posisi Revan saat ini ya, author bisa ngebayangin tapi tidak bisa menuliskan. wkwkwk)


Lutut kedua orang itu melemas dan bergetar. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit. Nafas mereka tercekak saat ini. Tamat sudah riwayat mereka.


Perlahan mereka mengambil berkas yang tadi dilemparkan oleh assisten Mike, mereka membukanya dengan cepat. Satu persatu halaman menuliskan bukti transfer dan akun yang digunakan mereka selama ini.


"I...ini...," mereka tidak percaya dengan apa yang ada ditangannya. Selama ini mereka sudah bermain dengan cantik dan sama sekali tidak meninggalkan bekas, tapi kenapa bisa ketahuan sekarang.


"Kalian sudah lihat sendiri kan, bagaimana apa masih kurang?" tanya Revan lagi.


"Bagaimana anda bisa tau...?" tanya sang manager, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.


"Jangan kira aku tidak tau apa yang kalian lakukan selama ini dibelakang kakekku. Mungkin kakek diam selama ini, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian semakin menggerogoti perusahaan ini." Revan berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam sakunya, lalu pergi meninggalkan dua orang yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Tunggu Tuan," cegat mereka ketika Revan sudah hampir melewati pintu. Revan pun berhenti untuk mendengarkan apa yang mau mereka katakan.


Walaupun takut setengah mati tapi tidak membuat dua orang yang sudah membuat tugu perusahaan itu menyerah begitu saja. Mereka mengutarakan senjata terakhirnya, berharap bos yang baru itu tidak jadi menghempaskan mereka dari perusahaan.


"Tuan Danu tidak akan tinggal diam, kalau anak buahnya diusik, Tuan." Tantang mereka.


"Kalian akhirnya menyebutkan dalang dari semuanya juga." Revan tersenyum menyeringai.


"Katakan pada bos kalian, datang padaku jika tidak terima dengan apa yang aku lakukan," ujar Revan lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu, sangat memuakkan berhadapan dengan para benalu. Bukannya menyesal dan meminta maaf tapi malah mencari pembelaan.


"Mike bereskan mereka!" perintah Revan pada assistennya. Mike pun mengerti dan segera menyuruh pihak keamanan untuk menyeret manusia tidak tau diri.


"Tuan, tolong jangan begini. Biarkan kami membereskan barang-barang kami lebih dulu." Pinta dua orang itu.

__ADS_1


"Benar Tuan, kami berhak membawa barang-barang kami."


Sontak Revan pun berbalik dan menatap mereka penuh intimidasi. "Apa kalian barusan bicara tentang hak? Apa kalian pernah berpikir saat menggunakan uang perusahaan ada hak banyak orang di dalamnya."


"Semua barang kalian sudah menjadi milik perusahaan, termasuk beberapa aset yang belakangan kalian miliki setelah mengalirkan dana ke rekening kalian."


"Tidak Tuan, tolong kasihani kami. Kami hanya korban, kami tidak mengambil semua uang itu," mereka memohon dan memeluk kaki Revan.


"Mike!" Revan tidak mau mendengarkan apapun lagi. Masih banyak yang harus dilakukan.


"Bawa mereka keluar," perintah Mike pada petugas keamanan.


"Tolong ampuni kami Tuan, beri kami kesempatan sekali lagi," teriak mereka berdua berusaha mendapatkan bekas kasihan pada tuannya.


"Kalian harusnya bersyukur karena tuan Revan tidak melaporkan kasus ini ke KPK. Semuanya sampai disini, kalian masih bisa mencari pekerjaan di tempat lain."


Peringat Mike agar mereka berhenti memelas.


"Kalau tidak, bukan hanya aset kalian yang disita tapi kalian juga akan mendekam di penjara dan membayar denda." Mike ingin sekali menghajar orang yang bermain curang seperti itu, kalau dalam dunia gelapnya pasti orang itu akan dimasukkan ke kandang buaya.


"Akhirnya selesai juga..." Revan mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di kantornya.


Di ikuti Mike yang masih berdiri di hadapannya.


"Duduklah Mike, kau juga pasti lelah," ujar Revan memerintahkan assistennya untuk duduk juga. Dia tidak pernah membedakan antara bawahan dan atasan kalau hanya untuk duduk.


"Terimakasih Tuan," ujar Mike tapi dia masih tetap berdiri enggan untuk duduk di sebelah tuannya.


Revan pun tidak mau memaksa. "Berapa total yang sudah dibereskan hari ini?" tanyanya.


"Semuanya ada 13 orang Tuan," jawab Mike.


"Baiklah, kau segera buka lowongan pekerjaan. Lebih baik mencari wajah baru dari pada mempertahankan benalu seperti mereka."


"Atau kamu bisa mengangkat karyawan yang sudah lama bekerja disini, tapi harus melihat kejujurannya dan kompetensi mereka dulu dalam bekerja," ujar Revan memberi solusi.

__ADS_1


"Baik Tuan, saya akan melakukan apa yang anda perintahkan." Entah kenapa, Mike sedikit suka dengan kinerja bos mudanya.


"Oh iya, Si Danu itu pasti akan mencari ribut denganku sebentar lagi karena aku berani mengusik orang-orangnya. Kamu sudah menyiapkan apa yang aku suruh kan?" Revan harus sedia payung sebelum hujan, dengan begitu pihak musuh tidak akan bisa berkutik.


"Sudah Tuan, anda tenang saja semaunya sudah sesuai keinginan anda." Mike paling bisa diandalkan.


"Ya sudah, kau bisa kembali ke ruanganmu." Revan mengusir assistennya agar Mike bisa beristirahat, karena Revan tau jika assistennya itu masih disana pasti tidak akan mau duduk bersamanya.


"Saya permisi," ujar Mike seraya membungkukkan tubuhnya.


Revan pun menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan matanya. Memikirkan apa yang sudah ia lakukan apa sudah benar, atau malah bisa jadi bumerang baginya.


Karena apa yang Revan lakukan termasuk hal yang ekstrim. Jika Revan tidak mempunyai persiapan pasti dirinya lah yang akan kalah.


Kakek pun diam-diam mengawasi cucunya dari rumah. Meski sempat kaget dan tidak setuju pada apa yang cucunya lakukan tapi akhirnya kakek tidak menghalanginya. Ia malah kagum pada cucunya yang berani untuk menegakkan keadilan.


Bukannya kakek tidak tau apa yang terjadi, tapi kakek khawatir bila mengganti karyawan lama dengan karyawan baru. Pasti harus mengajari mereka dari awal dan perusahaannya itu butuh orang yang berpengalaman. Begitulah pemikiran kakek.


Tapi kini kakek Tio yakin jika cucunya yang masih muda pasti bisa membawa perubahan sehingga perusahaan bisa berkembang hingga kancah internasional. Dan sepertinya Revan juga ingin karyawan barunya tidak malas dan giat bekerja. Mungkin mencari yang muda adalah pilihan yang tepat.


"Aku tidak akan menghalanginya melakukan apapun, karena aku yakin anak itu sudah mempersiapkannya," ujar kakek pada pak Ahmad yang berdiri di sisi kirinya.


"Iya Tuan, saya yakin taun Revan mampu."


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2