
°°°
Esok paginya, perlahan Rara mengerjakan matanya yang masih terasa lengket. Tapi ia harus segera bangun untuk membersihkan tubuhnya sebelum adzan subuh berkumandang.
Entah jam berapa mereka selesai dengan ritual pembuatan bayi, yang pasti malam tadi adalah malam yang sangat istimewa bagi mereka berdua. Sungguh indah bukan saat kita sudah halal ditambah saling mencintai lalu memadu kasih bersama pasangan. Kebahagiaan itu akan muncul berkali-kali lipat dari pada kita melakukan hubungan suami-istri sebelum waktunya.
Perlahan Rara menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk redam di seluruh tubuh. Apalagi di bagian pinggang dan sel*ngkangan nya, suaminya benar-benar tidak memberinya ampun tadi malam.
Ahh rasanya ngilu sekali pinggangku... apa yang membuat orang-orang begitu menyukai berhubungan badan jika akan sakit seperti ini pada akhirnya. Keluh Rara.
Rara mulai bergeser pelan-pelan agar tidak membangunkan pria yang wajahnya sangat cerah berseri bahkan saat ia tidur. Entah apa yang ada dalam mimpinya sampai ia senyum-senyum sendiri.
Kenapa kak Revan senyum-senyum seperti itu, apa dia sedang bermimpi. pikir Rara.
Tidak mau sampai keduluan dengan suara adzan Rara pun mencoba untuk bangun lagi. Namun sayang rasa ngilu di pangkal pahanya tidak bisa ia tahan, hingga mengeluarkan suara erangan menahan sakit.
"Aaww...," rintih Rara bahkan air matanya mengalir begitu saja saat merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Mendengar suara istrinya merintih, Revan pun bangun dari mimpinya yang begitu indah. Ya setelah percintaan semalam semua terulang kembali di dalam mimpi.
"Sayang, kau sudah bangun... kau mau kemana?" tanya Revan melihat istrinya yang sudah duduk di bibir ranjang.
"Aku mau mandi Kak, sebelum sholat subuh. Tapi...," Rara tidak berani mengatakannya, ia malu bila harus membahas hal seperti itu.
"Tunggu sebentar," ujar Revan, kemudian ia segera turun dari ranjang dan memakai celananya. Setelah itu barulah ia berjalan ke arah istrinya.
"Apa begitu sakit?" tanya Revan yang tidak tega melihat istrinya menangis. "Maafkan aku, telah membuatmu kesakitan," sesal Revan. Ia menciumi mata Rara yang terus mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Kak, kenapa kamu meminta maaf. Ini adalah kewajibanku," ujar Rara, yang tidak ingin suaminya merasa bersalah.
"Apa kamu mau mandi sekarang?" tanya Revan yang kini berlutut dihadapan istrinya dan itu sebenarnya membuat Rara risih karena ia belum memakai apapun di balik selimutnya. Lingerie yang semalam ia pakai sudah tidak berbentuk karena suaminya begitu bersemangat tadi malam.
Padahal Rara sudah bilang jika itu adalah pemberian kakaknya dan baru dibeli, tapi Revan dengan entengnya mengatakan akan menggantinya dengan lebih banyak lagi dengan model yang berbeda-beda. Sontak Rara melongo apa artinya ia harus memakai pakaian seperti itu setiap malam.
"Jadi mandi atau mau tidur lagi saja?" tanya Revan lagi karena istrinya malah melamun.
"Mandi Kak, aku tidak mau melewatkan kewajiban ku pada sang pencipta."
"Maaf aku belum bisa menjadi imam yang baik untukmu, tapi aku ingin terus belajar agar bisa menjadi lebih baik." Revan merasa sangat malu saat menyadari dirinya sudah sangat lama melupakan kewajibannya.
"Tidak apa-apa Kak, Allah lebih suka dengan orang yang mau belajar dari pada orang yang sudah merasa pandai tapi tidak mau melakukan kewajibannya." Rara tidak ingin suaminya berkecil hati, karena dirinya juga bukanlah manusia yang sempurna.
"Biarkan aku membantumu untuk ke kamar mandi," ujar Revan lalu ia langsung menangkup tubuh istrinya dan mengangkatnya. Bagaimana pun istrinya kesakitan karena dirinya.
Wajah Rara sudah memerah saat menempel pada kulit tubuh suaminya yang saat ini hanya menggunakan celana pendeknya, otomatis tubuhnya yang hanya di tutupi selimut akan bersentuhan dengan tubuh suaminya.
Sementara Rara menggigit bibir bawahnya, saat sang suami harus membahas tentang itu. Dimana tadi malam dia kembali terluka tapi kali ini lukanya bukan yang menyakitkan tapi penuh kenikmatan. Tidak Rara pungkiri, ia juga menikmatinya tadi malam. Dimana suara merdu yang ia keluarkan menandakan jika permainan suaminya sangat membuatnya melayang.
"Kenapa pipimu memerah, apa kau demam?" tanya Revan yang baru kembali.
"Aa... ku tidak apa-apa Kak," Rara menunduk malu karena terbayang akan pergulatan panas mereka.
"Ya sudah, berendam lah sebentar. Tidak perlu memikirkan apapun," Revan langsung memasukkan tubuh istrinya kedalam bathub dengan hati-hati. "Aku keluar dulu, panggil aku kalau sudah selesai," perintahnya. Ia mencium kening istrinya sebelum keluar dari sana.
Rara pun menikmati berendam air hangat yang cukup membuat tubuhnya rileks dan bagian tubuhnya yang pegal dan kaku cukup mengendur. Satu lagi bagian yang tadi sangat sakit juga sedikit berkurang, tidak sesakit tadi.
__ADS_1
Rara masih tidak menyangka jika dirinya telah menyerahkan tubuhnya pada sang suami sepenuhnya. Ia harap ini adalah awal kebahagiaan dalam rumah tangganya.
Ia ingat semalam bagaimana ia mengeluarkan suara yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya. Walaupun awalnya malu tapi Revan berhasil membuatnya terbuai dengan sentuhannya. Sakitnya ini mungkin sebanding dengan apa yang ia rasakan semalam.
Aaa... kenapa aku membayangkannya lagi. Aku harus cepat menyelesaikan mandiku jika tidak aku akan terus memikirkan hal yang memalukan.
Setelah selesai Rara berusaha keluar dengan tertatih, ia malu kalau harus memanggil suaminya untuk membantu dan mungkin juga laki-laki itu sudah tidur lagi.
"Kenapa tidak bilang jika sudah selesai, kau membuatku jadi laki-laki yang kejam kesannya karena membiarkan istrinya kesakitan akibat ulahnya." Revan langsung mencecar istrinya dengan perkataan, saat melihat wanita yang semalam ia renggut kesuciannya berjalan sembari menahan sakit.
"Aku kira kak Revan sudah tidur lagi, jadi tidak ingin mengganggu tidur kakak," sanggah Rara.
"Sekarang duduklah, biar aku bantu memakai baju," ujar Revan seraya berjalan mendekati istrinya yang hanya memakai handuk kecil yang memperlihatkan sebagian dada dan pahanya.
Sontak Rara pun mundur, walaupun suaminya sudah melihat setiap inci bagian tubuhnya tapi ia masih merasa canggung.
"Tidak usah malu, bukankah aku sudah melihat semuanya," ujar Revan tanpa malu.
"Kak, aku belum terbiasa. Aku juga masih bisa memakai baju sendiri Kak," keluh Rara, ia takutnya suaminya akan kembali meminta haknya sedangkan bagian bawahnya masih sangat sakit.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...