Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
96. Perilaku Aneh


__ADS_3

°°°


Beberapa saat kemudian Sakka masuk ke dalam kelas, seperti biasa para mahasiswi pasti akan histeris dan agresif. Apalagi beberapa hari terakhir Sakka tidak masuk kuliah, pasti membuat mereka merindukan wajah tampan itu.


"Li, lihat tuh. Pangeran kamu sudah datang," ujar Rara.


"Jangan keras-keras Ra, kalau mereka dengar aku bisa jadi bulan-bulanan masa." Tatap Lia pada para gadis yang mengelilingi Sakka.


"Jadi benar kamu menganggapnya pangeran?" goda Rara yang langsung membuat Lia salah tingkah.


"Rara...," Lia merona malu ditambah diam-diam Sakka mencuri-curi pandang padanya sejak masuk ke kelas.


Rara juga melihatnya, dua orang yang saling pandang itu. Terlihat jelas raut wajah mereka yang malu-malu, mungkin itu juga yang terjadi padanya dan suami selama ini. Rara turut bahagia bila temannya bahagia.


Aa ya, ngomong-ngomong soal suami. Sepertinya Rara lupa belum mengirim pesan pada suaminya karena terlalu sibuk memikirkan temannya.


Rara pun mengambil ponselnya untuk mengirim pesan.


"Ra, dosen sudah datang." Lia memperingatkan temannya agar tidak bermain ponsel karena dosen yang mengajar sekarang adalah salah satu dosen yang terkenal tidak segan bila ada mahasiswa nya yang tidak mematuhi aturan.


Mau tidak mau Rara pun kembali menyimpan ponselnya, nanti setelah kelas selesai dia akan menghubungi suaminya.


,,,


Berbeda dengan mereka yang sedang merasakan jatuh cinta. Seorang wanita sedang tersiksa sejak kemarin, selera makannya hilang dan tidak hanya itu belakangan ini setiap pagi dia juga merasa mual. Anehnya lagi dia sering tiba-tiba ingin makan buah yang masam.


Seperti sekarang tubuhnya lemas dan kepalanya berkunang-kunang setelah memuntahkan cairan bening berulang kali. Mau makan pun malah membuatnya bertambah mual.


"Kenapa aku seperti ini, tubuhku rasanya lemas tidak punya tenaga sama sekali. Mamah kemana lagi, enggak pulang-pulang."


Febby sudah berapa hari hanya menghabiskan waktunya dengan tiduran di atas ranjang. Tubuhnya begitu lemas bahkan tidak bisa berangkat ke kampus. Jangankan ke kampus, keluar kamar saja dia tidak sanggup.


Dia masih punya ibu, tapi seperti hidup sendiri. Sang mamah lebih banyak menghabiskan waktu di luar, bersenang-senang dengan teman-temannya. Sedangkan Ayah tirinya sudah tidak pulang berapa bulan yang lalu, mengurus perusahaan yang hampir bangkrut di luar negeri. Hanya bisa minta tolong pada pelayan yang ada di rumah itu.


Tiba-tiba perutnya kembali bergejolak hebat, Febby pun segera berlari ke kamar mandi dengan tubuh lemasnya.


Huek, huek


Bahkan cairan saja sudah tidak menetes tapi rasanya ia ingin sekali mengeluarkan apa yang ada di perutnya.

__ADS_1


"Mamah ... hiks hiks..." Febby sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia sangat tersiksa dengan keadaannya yang semakin memburuk.


Dengan berjalan merambat, berpegangan pada dinding. Febby berusaha untuk kembali ke ranjang. tubuhnya pucat, bibirnya pun pecah-pecah, sepertinya dia sudah dehidrasi akibat terus menerus muntah. Hanya minum air putih pun membuatnya mual.


Tok, tok, tok.


"Permisi Non, saya bawakan makanan." Bibi pelayan mengetuk pintu.


"Masuk Bi, pintunya tidak dikunci," ujar Febby dengan begitu lirih, sudah tidak kuat lagi rasanya.


Bibi pelayan masuk membawa nampan yang berisi makanan seperti pesanannya majikannya tadi.


"Kau bawa apa Bi?" tanya Febby yang sudah begitu lapar.


"Saya bawa pesanan nona, tadi katanya nona ingin makan sate." Bibi pun meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.


Mendadak perut Febby kembali bergejolak saat mencium bau nasi panas yang menyengat. Dia langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"Bi, tolong bawa keluar nasinya. Aku mual mencium baunya." Febby sungguh sudah tidak sanggup lagi mencium bau yang membuatnya mual.


"Tapi dari kemarin nona tidak makan nasi, hanya buah dan daging. Tubuh nona sudah sangat pucat." Bibi yang khawatir pun menolak membawa nasi itu keluar.


"Bi cepat bawa itu keluar...," Febby kembali berjalan ke kamar mandi, seperti tadi dia masih mual-mual.


"Apa nasinya sudah dibawa keluar bi?" tanya Febby sambil memegangi perutnya yang masih merasa mual.


"Sudah saya bawa keluar Non, mari saya bantu."


Febby pun kembali ke ranjang, matanya langsung menatap lapar pada daging yang ditusuk-tusuk lalu di bakar itu. Tidak tunggu lama ia segera menyantapnya.


"Ini enak sekali bi, bibi beli dimana?" ujar Febby dengan mulut yang penuh oleh makanan.


"Itu sate yang biasa saya beli, langganan keluarga ini Non. Nona sudah sering memakannya." Bibi itu masih berdiri disana, ia menatap sang nona dengan wajah yang penuh tanda tanya. Apa yang terjadi dengan nonanya sangat mirip seperti wanita hamil muda, karena ia pernah mengalaminya.


"Apa iya Bi, kenapa rasanya yang ini lebih enak dari yang biasa bibi beli." Entahlah, Febby juga heran kenapa akhir-akhir ini saat menginginkan sesuatu ia akan merasa sangat bahagia jika keinginannya terpenuhi. Lalu akan menangis bila keinginan tidak bisa dipenuhi.


"Apa tidak sebaiknya anda memeriksakan diri ke rumah sakit non, atau mau saya panggilkan dokter kemari non." Bibi memberikan saran.


"Nanti saja Bi, kalau aku mual-mual lagi aku akan periksa." Febby terus memakan satenya. Hingga beberapa menit saja sudah tersisa sedikit.

__ADS_1


"Baiklah Non, kalau butuh apa-apa panggil bibi saja." Bibi pelayan pun menunggu piring kotor yang Febby gunanya, agar sekalian di bawa ke bawah.


"Mamah sudah pulang apa belum bi?" tanya Febby yang masih sibuk memakan sate.


"Belum Non." jawab bibi.


Lagi-lagi Febby mendesah pelan, mamahnya tidak pernah ada saat ia membutuhkan. Hanya tau senang-senang saja. Kartu black card miliknya juga tidak juga dikembalikan.


"Akhirnya aku kenyang juga," ujar Febby seraya mengelus perutnya.


"Oh iya Bi, tolong carikan air kelapa muda dong. Kayaknya segar panas-panas begini minum es kelapa muda." Febby bahkan sudah hampir mengeluarkan air liurnya hanya dengan membayangkan segarnya air kelapa muda.


Semakin menambah kecurigaan bibi pelayan, saat permintaan-permintaan aneh keluar dari mulut Febby.


"Nanti saya akan belikan non, saya permisi dulu."


Bibi pelayan pun keluar dari kamar Febby.


Dibawah ia segera menyuruh orang untuk membelikan apa yang nonanya inginkan.


"Apa lagi kali ini bi," tanya tukang kebun yang bibi suruh untuk membeli makanan.


"Nona ingin minum kelapa muda, cepat carikan."


"Apa bibi tidak curiga pada nona, sejak kemarin dia ingin makan yang aneh-aneh." Tukang kebun mulai berprasangka.


"Aneh apa si, kelapa muda saja apanya yang aneh?" bibi berusaha tidak percaya.


"Ih bibi, nona Febby sebelumnya tidak pernah menginginkan makanan seperti itu. Dia lebih suka makanan dari restoran. Dari kemarin dia minta opor, rujak, mangga muda, terus tadi sate, sekarang kelapa muda. Sudah kayak istriku waktu sedang hamil Bi."


Meski bibi juga memikirkan hal yang sama, dia tidak ingin membicarakan hal yang bisa menimbulkan fitnah.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2