Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
127. Masalah Lia


__ADS_3

°°°


Di kampus Rara sedang makan siang bersama Lia di kantin.


"Kau kenapa lagi Ra, kenapa ijin lagi kemarin?" tanya Lia.


"Tidak apa-apa Li, hanya ada urusan aja kemarin, hehehe..." Rara menyengir kuda, tidak mungkin kan dia cerita penyebabnya tidak berangkat ke kampus.


"Mencurigakan sekali senyum kamu itu, sepertinya ada yang sedang kamu tutupi?" Lia menyipitkan matanya, menatap curiga pada temannya.


"Tidak ada Lia, untuk apa aku menutupinya. Sudah, cepat makan. Setelah ini bukannya kita masih ada kelas." Rara berusaha mengalihkan pembicaraan. Bisa gawat jika sampai ia terpancing dan mengatakan semuanya. Di rumah saja ia sudah sangat malu.


"Oh iya, aku harus cepat."


Mereka pun menikmati makan siang itu bersama. Sampai tiba-tiba seseorang datang dan duduk di samping Lia tanpa permisi.


"Boleh aku gabung?" tanya pria itu dan suaranya sangat tidak asing di telinga Lia.


"Kenapa kau duduk disini?" Lia pun menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Sakka. Tau sendiri bagaimana penggemar beratnya di kampus itu, bisa gawat kalau mereka melihat kedekatan Lia dengan Sakka.


"Apa aku tidak boleh ikut duduk dengan kalian?" tanya Sakka.


"Ihh, pakai tanya segala. Kan sudah aku bilang kalau di kampus itu jangan dekat-dekat denganku, aku nggak mau dimusuhi gadis sekampus," kesal Lia. " Sudah sana, jangan disini." Lia masih berusaha mengusir Sakka dari sana.


Rara geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Sebagai teman dekat Lia, Rara tau bagaimana hubungan mereka berdua saat ini.


"Rara saja tidak masalah, iya kan Ra?" Sakka mulai mencari pembelaan.


"Sudah Li, biarkan saja. Kau kan tidak melakukan apapun, tidak usah takut pada mereka."


"Kamu nggak liat bagaimana mereka ngeliatin aku Ra," ujar Lia, bergidik ngeri saat melihat lirikan mata para gadis disana. Sungguh Lia hanya tidak ingin membuat keributan atau mencari musuh disana, bisa kuliah berkat beasiswa tentunya ada banyak hal yang tidak boleh ia lakukan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mereka tidak akan berani macam-macam denganmu," ujar Sakka.


Rara juga setuju saja, toh mereka hanya berteman jadi tidak ada yang berhak menghakimi Lia karena dekat dengan Sakka. Seharusnya para gadis itu juga melihat kalau Sakka lah yang mendekati Lia.


Akhirnya Lia pasrah dan melanjutkan makannya. Tapi dia tetap menjaga jarak aman dari Sakka. Semoga saja setelah ini tidak ada yang mencari masalah dengannya. Walaupun sebenarnya dia merasa para gadis disana menatapnya dengan tajam.


Sementara Sakka tersenyum senang bisa duduk berdua dengan Lia. Jujur saja perasaannya sampai saat ini masih sama, malahan tambah suka dengan gadis itu. Banyak menghabiskan waktu bersama membuatnya mengenal lebih dekat bagaimana sifat Lia. Tapi ada yang belum ia ketahui yaitu bagaimana perasaan gadis itu padanya.


,,,


Dikelas setelah selesai makan.


"Kamu kenapa si Li, ada yang kamu pikirkan?" tanya Rara yang merasa temannya sedang ada yang dipikirkan.


"Iya Ra, aku sedang sedih." Raut wajah Lia murung.


"Kenapa Li, cerita aja. Siapa tau aku bisa bantu."


"Astaghfirullah, kok bisa begitu. Kalau sudah diwakafkan kenapa diminta kembali," Rara ikut prihatin mendengarnya. "Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Enggak tau Ra, aku juga bingung. Kalau aku punya uang pasti aku beli tanah itu agar tidak ada yang berani mengusik ketenangan anak-anak panti lagi. Tapi nggak ada yang bisa aku lakukan untuk mereka," Air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk mata Lia pun akhirnya terjatuh juga. Lia sangat sayang pada anak-anak yang ada di panti asuhan tempatnya tinggal, setelah ia pergi dari rumah pamannya. Dan sekarang mereka sedang dalam kesulitan, sementara tidak ada yang bisa Lia lakukan.


"Aku ikut sedih mendengarnya Li, kenapa ada orang yang setega itu. Bagaimana kalau aku omongin sama kak Revan, siapa tau dia bisa bantu." Rara mencoba memberi saran, walaupun ia tidak yakin jika Lia mau menerima niat baiknya.


"Aku nggak mau menyusahkan kamu Ra, apalagi suami kamu. Kamu sudah mau mendengarkan ceritaku aja aku sudah senang."


Lia bukanlah orang yang suka memanfaatkan kesempatan, walaupun Rara baik dan mau menolong tapi belum tentu apa yang dipikirkan suaminya juga sama. Bagaimana kalau nanti suami Rara malah mengira Lia hanya memanfaatkan kebaikan temannya. Bisa jadi hubungan persahabatan mereka yang jadi renggang.


"Tapi Li, aku juga sangat ingin membantu anak-anak disana. Bagaimanapun kalau aku mau bantu mereka tidak ada yang bisa melarang kan?"


"Iya tapi ingat, kalau suami kamu nggak mau bantu jangan memaksa ya Ra. Aku yang nggak enak nanti sama suami kamu," pinta Lia.

__ADS_1


"Iya Li, aku tau. Kamu tenang saja jangan banyak pikiran, nanti malah kamu sakit kalau terlalu memikirkan masalah itu." Ujar Rara penuh perhatian.


"Jujur aku memang nggak bisa tidur belakang ini Ra. Beneran aku nggak bisa bayangin kalau sampai mereka diusir, mau kemana mereka. Ibu pengurus panti juga orang yang nggak punya, jadi tidak ada tempat tujuan lain."


Raut wajah sedih Lia tidak bisa disembunyikan, termasuk dari seorang pria yang sejak tadi secara tidak sengaja mendengar obrolan mereka. Tidak menyangka jika Lia dulunya pernah hidup di panti asuhan dan saat mendengar apa yang di pikirkan gadis itu terlintaslah sebuah ide di kepala Sakka.


Semoga ini adalah jalan agar aku bisa semakin dekat denganmu.


"Sabar ya Li, walaupun kamu sedih tapi kamu harus tetap menjaga kesehatan. Bagaimana nanti kalau mereka membutuhkan mu, lalu kamu nya tidak sehat," ujar Rara seraya mengusap punggung temannya.


"Aku yakin selain mereka butuh bantuan materi, mereka juga membutuhkan bantuan moril juga."


Yang dikatakan Rara benar, kalaupun aku nggak bisa bantu secara materi tapi aku bisa memberikan semangat pada mereka.


"Apa kamu berniat akan kesana Li?" tanya Rara.


"Iya Ra, rencananya aku mau meminta bantuan pada pamanku kalau nggak ada cara lain lagi." Ujar Lia tidak yakin.


"Mungkinkah pamanmu mau membantu?"


"Entahlah, aku sendiri tidak yakin. Walaupun apa yang dinikmati keluarga paman sekarang adalah peninggalan papah tapi dengan sifat paman yang seperti itu mungkin akan sulit."


Lia akan melakukan apapun demi anak-anak panti yang tidak bersalah, bagaimana tidak kebanyakan dari mereka hidup di panti karena dibuang oleh orangtuanya. Padahal mereka juga tidak memilih lahir dari rahim ibunya jika akhirnya akan di buang.


to be continue...


°°°


Ada yang kangen sama Lia nggak?


anggap aja ada thor... ,🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2