
°°°
Revan sudah duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Dia bersiap untuk melihat bagaimana jalannya pemilihan karyawan yang akan menjadi sekretaris nya.
Para karyawan pun satu persatu maju untuk diseleksi. Mereka berusaha berpenampilan menarik dan terlihat cerdas. Sebagian juga ada yang sudah sangat percaya diri karena mereka dengan dengan atasannya yang mereka yakini bisa membantu untuk mendapatkan posisi penting itu.
Padahal Revan sudah menyuruh bagian HRD agar terbuka dan transparan dalam menyeleksi. Karena dia tidak mau asal mendapatkan sekretaris apalagi yang menggunakan cara licik.
"Bagaimana ini tuan kenapa tuan Revan datang kesini," takut salah satu bagian personalia yang sudah mendapatkan sejumlah uang dari salah satu karyawan untuk bisa meloloskan nya.
"Bukankah sudah aku bilang kalau tuan Revan paling tidak suka pada orang yang menghalalkan segala cara demi keinginannya. Kau tanggung sendiri akibatnya nanti," kesal rekannya.
Revan pun memperhatikan dengan seksama bagaimana berjalannya pemilihan sekretaris. Terlihat normal dan semuanya bersaing dengan cara yang sehat.
"Silahkan maju berikutnya."
"Rindu, giliran kamu," ujar salah satu karyawan pada Rindu.
"Doakan aku," bisik Rindu yang sejak tadi berdebar karena melihat direktur utama ada disana juga.
Dia pun maju dan mulai mengikuti seleksi dengan lancar. Tampak semua orang pun mengangguk setuju dan kagum padanya.
Termasuk Revan yang tampak terkesan juga.
Sepertinya aku pernah melihat wanita itu tapi dimana? Revan tampak tak asing dengan wajah Rindu.
Sampai bunyi ponsel mengalihkan pandangannya, Revan pun segera keluar dari ruangan itu untuk mengangkat panggilan dari sang istri.
Sementara di dalam, para karyawan protes karena tidak diloloskan sedangkan mereka sudah membayar mahal. Termasuk mereka juga iri pada Rindu yang karyawan baru tapi bisa lolos.
"Kenapa dia karyawan baru bisa lolos, seharusnya kami yang dipilih," protes karyawan tidak terima.
"Maafkan kami, kami sudah memilih menurut prosedur dan dia sangat pas menjadi kandidat sekretaris Dirut," jawab salah satu petugas.
"Tapi kami sudah bekerja lebih lama dan kami juga lebih layak. Apa kurangnya kami." masih tidak terima kalah.
"Maaf semuanya, yang tidak terpilih bisa keluar dari sini dan melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing."
__ADS_1
Kini mereka beralih pada orang yang sudah menerima uang sogokan dengan tatapan penuh amarah.
"Bagaimana ini pak, bukannya katanya bapak bisa membantu kami tapi kenapa jadi seperti ini," protesnya.
"Maaf maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa karena ada pak Dirut disini," dalih orang itu.
"Pokoknya aku tidak mau tau kau harus menjadikan ku sekretaris atau kembalikan uang yang sudah anda terima," kesal wanita itu sudah tersulut emosi.
"Husstt... jangan keras-keras," orang itu takut ada yang mendengar nya.
Sementara sudah terlambat karena sejak tadi Revan sudah berdiri di depan pintu dan mendengar semuanya.
"Ada apa ini?" tanya Revan dengan tatapan yang menyeramkan. Semua orang pun tertunduk, terutama wanita tadi marah-marah..
"Pak Budi, tolong jelaskan ada apa ribut-ribut," perintah Revan pada kepala HRD. Sementara pegawai yang sudah menerima uang panas, sudah berkeringat dingin saat ini. Berharap temannya tidak mengatakan apapun pada sang Dirut.
"Katakan!!" Sentak Revan membuat semua orang kaget.
"Begini Tuan, mereka tidak terima karena tidak terpilih menjadi sekretaris anda," jawabnya sedikit menutupi kesalahan rekannya.
"Benarkah? Kenapa kalian tidak terima, katakan apa alasannya." Revan bersedia mendengarkan keluhan bawahannya.
"Bukankah pihak HRD sudah menjelaskan alasannya, apa masih kurang jelas?" sentak Revan lagi.
"Maaf Tuan, tapi kenapa anda tidak memilih saya yang jelas lebih berpengalaman dari karyawan baru itu." Wanita itu berkata dengan percaya diri.
"Saya paling tidak suka pada orang yang sok pintar dan berkuasa tapi tidak memandang kemampuan nya sendiri. Menjadi sekretaris ku itu tidak mudah, banyak pekerjaan penting yang akan dia pegang. Bukan hanya sekedar jadi pajangan di depan ruanganku." Revan menekankan setiap kalimatnya.
"Kalian bubar dan kembali bekerja kalau memang masih ingin bekerja di perusahaan ini." Revan pun hendak berbalik untuk pergi dari sana tapi tiba-tiba wanita itu kembali bersuara.
Dia masih tidak terima dan ingin balas dendam pada orang yang sudah membohongi nya.
"Tapi saya sudah membayar mahal demi jabatan itu Tuan," katanya dengan lantang membuat orang yang tadi sudah bernafas lega kini kembali dihantam ketakutan.
Revan pun berbalik dengan satu tangan ia letakkan di dalam saku celananya.
"Siapa yang sudah menjanjikan hal itu pada kamu?" tanya Revan.
__ADS_1
"Dia," tunjuk wanita itu pada salah satu bagian HRD.
Orang itu pun langsung lemas dan bersimpuh dihadapan Revan untuk memohon ampun. Dia khilaf katanya dan berjanji tidak akan mengulangi hal itu.
Revan sudah sangat muak pada orang seperti itu, mungkin itu hanya uang tidak seberapa dan tidak merugikan perusahaan tapi bagaimana kalau tadi dia tidak datang. Maka yang menjadi sekretaris nya bisa jadi orang yang tidak kompeten dalam bekerja. Dan tidak adil juga pada yang lain.
"Bukankah sudah saya peringatkan kemarin. Siapa yang bertindak curang akan berakhir seperti orang-orang itu."
"Dan kau juga," tunjuk Revan pada wanita tadi. "Kau juga salah karena sudah curang, menggunakan uang untuk mencapai sesuatu."
"Maaf Tuan, awalnya saya tidak mau tapi dia yang memaksa dan berjanji untuk menjadikan saya sekretaris," kilahnya membela diri.
"Bohong, dia yang datang padaku lalu memohon dan membawa sejumlah uang," sanggah orang HRD. Mereka saling mengalahkan dan ada yang mau mengaku.
Pada akhirnya Revan pun kesal dan menyuruh kepala HRD untuk menertibkan mereka. Mereka diturunkan dari jabatannya yang sekarang dan menjadi karyawan rendahan.
"Tuan tolong maafkan saya," mereka masih terus memohon tapi Revan tidak mau tau dan tidak bisa mentolerir kecurangan, walaupun dalam hal kecil sekalipun.
Dia pergi dari sana dan kembali ke ruangannya.
Sementara kedua orang tadi lemas karena harus turun jabatan dan otomatis gaji mereka juga turun. Mungkin bisa memilih keluar dari sana tapi tidak ada perusahaan sebaik yang fresh grup. Dalam memperlakukan karyawan.
Sementara Rindu pun merasa lega karena masalahnya sudah selesai dan dia akan menjalani uji coba sebagai sekretaris Dirut selama tiga hari ke depan. Kalau ternyata kinerjanya tidak memuaskan maka akan digantikan dengan yang lain.
"Selamat Rin, akhirnya kamu terpilih. Aku sudah bilang kan kalau kamu itu berpotensi dan sangat pintar. Wajar saja kalau bagian HRD memilihmu." Temannya memberi selamat.
Namun, tidak dengan karyawan yang lain. Mereka menatap Rindu dengan tatapan sinis dan iri.
Sepertinya jalan Rindu kedepannya tidak akan mudah.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️
__ADS_1
Happy 200 episode 🎉🎉🎉
Terimakasih yang masih setia disini, semoga cerita ini selalu menghibur hari-hari kalian. Semoga kalian semua selalu bahagia dan sehat selalu. Salam sayang dari othor, peluk jauh untuk kalian semua. 🤗🤗