Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
120. Kehebohan Kakek


__ADS_3

°°°


Revan sudah bersiap pergi ke kantor dan sang istri sedang membantunya memasang dasi.


"Kau istirahat di rumah saja hari ini, aku sudah meminta ijin untukmu," ujar Revan yang tidak tega melihat istrinya masih kesakitan. Membuat dirinya bertanya apakah semalam ia terlalu kasar.


"Iya Kak," ujar Rara patuh karena memang ia tidak mungkin datang ke kampus dengan keadaan seperti itu. Padahal tadi suaminya sempat memberinya salep untuk mengobati lukanya tapi sepertinya belum cukup untuk mengurangi rasa perihnya.


"Maafkan aku ya, tapi kalau sudah terbiasa tidak akan sesakit yang pertama," ujarnya membuat Rara melotot dan memukul dada suaminya.


"Kenapa kamu masih malu-malu begitu, manis sekali jika pipimu merah," ledek Revan pada istrinya.


"Sudah Kak, jangan menggodaku terus. Nanti kakak terlambat datang ke kantor." Rara sudah tidak tahan lagi rasanya bila di goda terus.


"Iya, iya... aku berangkat dulu. Tidak usah mengantarku ke depan, nanti aku akan minta bibi bawakan sarapan kemari," ujar Revan, tentu saja agar luka di bagian inti istrinya cepat sembuh dan bisa mengulangi nya lagi.


"Tapi nanti apa kata kakek dan yang lain Kak, kakak mau bilang apa kalau mereka tanya?" Tidak mungkin kan kakak bilang jika kita sudah....


"Bilang saja kalau kamu kelelahan karena sudah..."


Ucapan Revan terputus saat Rara menutup mulutnya, sang istri tau apa kata selanjutnya yang akan dikatakan pria itu.


"Kakak jangan bilang seperti itu pada mereka, apa yang akan mereka pikirkan nanti." Rara kesal pada suaminya.


"Iya sayang, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak mungkin mengatakan hal seperti itu, kamu cukup tunggu saja di kamar. Pulihkan tenaga dan tubuhmu untuk persiapan malam nanti." Revan tersenyum menyeringai seraya mengedipkan sebelah matanya.


Satu pukulan lagi mendarat di dadanya, Rara mencebikkan bibirnya. Sakitnya saja masih belum hilang, sudah membahas mengenai itu lagi.


Tawa Revan pun pecah saat melihat istrinya kesal, padahal ia hanya menggoda saja. Mana mungkin ia tega memaksakan kehendaknya pada sang istri, ia bukan pria gilaa yang tidak punya perasaan.


Tadi pagi saja ia sudah berusaha menahan gairahnya yang kembali bangkit saat melihat tubuh polos istrinya, kalau tidak ingat istrinya masih sakit dan hari ini akan ada meeting pasti ia akan melahap habis apa yang ada di depannya.


,,,


Di meja makan, kakek sudah menunggu cucu laki-lakinya dan sang cucu menantu untuk sarapan bersama. Namun, matanya penuh tanda tanya saat cucunya turun seorang diri.


"Pagi Kek," sapa Revan pada kakeknya. Revan sudah bisa menebak ada banyak pertanyaan dari raut wajah kakeknya.


"Dimana cucu menantuku, kenapa dia tidak turun? Apa dia sakit?" ujar kakek penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Tenang Kek, duduk dulu." Revan menenangkan kakeknya.


"Jawab dulu pertanyaan kakek, ada apa dengan Rara. Apa kamu menyakitinya lagi?" Kakek menatap cucunya tajam.


"Astaga Kek, kenapa kakek selalu berprasangka buruk pada cucumu sendiri," nada Revan sudah sangat memprihatikan. Dia terus dituduh seperti bukan cucu kandung sang kakek atau jangan-jangan Revan cuman cucu pungut.


"Itu karena kamu yang biasanya menyakitinya," sindir kakek.


Revan hanya tersenyum miris meratapi nasibnya yang tidak ada membelanya di rumah ini. Semua orang berpihak pada istrinya sekarang.


"Tenanglah Kek, bukannya kakek bilang ingin cepat punya cicit," ujar Revan dengan bangganya.


"Maksudnya kamu sama Rara sudah..." Kakek menyatukan kedua jarinya, sementara Revan mengangkat kerahnya dan berlagak di depan kakek.


"Lihatlah, cucumu ini tidak pernah mengecewakan bukan." Revan berbangga diri.


"Kau memang cucuku, kakek tidak salah menilai mu. Bagus nak," bangga kakek pada cucunya.


"Ahmad, kau dengarkan barusan. Sebentar lagi aku akan mempunyai cicit," ujar kakek dengan begitu gembira.


Revan melongo saat kakek mengumumkan pada semua orang di rumah itu. Sedetik kemudian ia menepuk keningnya sendiri, ia lupa siapa kakek. Pria tua itu kan selalu heboh jika mendengar sesuatu.


Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud mengumumkan pada semua orang. Salahkan saja kakekmu itu. Ujarnya dalam hati.


,,,


~Rara


Aku hari ini nggak berangkat Li, kamu sendirian dulu ya. (Emoticon melet)


Rara senyum-senyum sendiri mengingat wajah kesal temannya.


Tok, tok, tok


"Non, bibi bawa makanan."


Terdengar suara bi Mur di balik pintu, Rara pun segera menyahut, "Masuk saja Bi."


Bi Mur masuk membawa nampan yang berisi sarapan untuk nonanya, tapi ada yang aneh dengan wajah bi Mur. Dia senyam-senyum sendiri melihat ke arah Rara.

__ADS_1


"Makam dulu Non," ujar bi Mur.


"Iya Bi, taruh saja disitu nanti saya makan," ujar Rara yang masih memainkan ponselnya.


Bi Mur masih diam disana, tidak langsung keluar dari kamar setelah meletakkan makanan itu di atas meja. Membuat Rara pun menautkan alisnya, pikirnya mungkin ada sesuatu yang ingin bi Mur sampaikan padanya.


"Apa ada sesuatu yang ingin bibi sampaikan?" tanya Rara.


"Itu Non, saya disuruh kakek untuk memastikan nona sarapan dan memakan sup yang bibi buat. Juga ada susu dan vitamin untuk Nona." Bi Mur tidak enak mengatakannya.


"Iya nanti aku makan bi, emang sup apa yang bibi buat?" tanya Rara jadi penasaran, ia pun berjalan ke sofa untuk melihat apa yang dibawa oleh bibi.


"Anu itu Non, sup asparagus," ujar bi Mur.


"Wah gimana rasanya itu bi, sepertinya aku belum pernah makan sebelumnya. Jadi penasaran, aku cicipi ya Bi." Rara yang sudah lapar akibat tenaganya yang terkuras pun segera mengambil nasi dan sup yang ada di depannya.


"Emmm... enak juga bi," ujar Rara seraya mengunyah makanannya.


"Syukurlah kalau Nona suka, makanlah yang banyak Non. Sup ini sangat baik untuk kesuburan wanita," ujar bi Mur dan hal itu membuat Rara yang sedang makan hampir saja tersedak.


"Kesuburan...?" tatap Rara dengan bingung akan maksud perkataan bi Mur.


"Iya Non. Kata tuan kakek, beliau akan segera mempunyai cicit. Beliaulah yang menyuruh untuk memasak ini dan juga menyiapkan susu asam folat ini."


Jadi itu susu untuk persiapan hamil.


Rara melongo mendengar perkataan bi Mur, dari semua perkataan bibi bisa disimpulkan jika kakek dan bahkan semua orang di rumah ini pasti sudah tau tentang apa yang terjadi semalam.


Kakak..., geram Rara pada suaminya. Bisa-bisanya sang suami membeberkan hal pribadi pada semua orang. Mau di taruh dimana muka Rara sekarang jika bertemu orang dirumah ini.


Namun, dibalik itu semua Rara terharu atas sikap kakek dan semua orang yang peduli padanya. Tidak menyangka jika akan ada banyak cinta di rumah itu untuknya.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2