Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
65. Apa Rara Hamil?


__ADS_3

°°°


Rara masih dalam gendongan dan Revan membawa istrinya hingga ke dalam rumah.


"Kenapa dengan Rara nak?" tanya kakek dengan panik karena melihat cucu menantunya tidak berjalan sendiri melainkan berada dalam gendongan suaminya.


Revan yang mendengar suara kakeknya pun menghentikan langkahnya yang hendak ke kamar.


"Kak, turunkan aku dulu. Ada kakek," ujar Rara setengah berbisik. Ia malu jika terlihat oleh kakek Tio sedang dalam posisi seperti itu.


"Diamlah, kau itu sudah lemas."


Perkataan suaminya ada benarnya dan membuat Rara tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang suaminya. Berharap kakek tidak akan melihatnya.


"Apa yang terjadi?" tanya kakek lagi.


"Tidak apa-apa Kek, dia hanya sedikit mual tadi di jalan."


Ya memang seperti itu kejadiannya, Revan tidak salah mengatakan itu pada kakeknya. Namun, berbeda dengan kakek dan pak Ahmad yang menangkap arti yang lain. Mereka bukannya khawatir tapi malah mengembangkan senyuman.


"Apa sudah diperiksa, cepat bawa istrimu ke kamar dan biarkan dia beristirahat. Ingat jaga mereka baik-baik, jangan biarkan istrimu kelelahan. Nanti kakek akan minta bi Mur untuk membuatkan sup pereda mual dan untuk mengurangi rasa mual."


Sontak Revan dan Rara pun melongo mendengar ucapan kakeknya. Kenapa Kakek bilang mereka, apa kakek pikir Rara sedang hamil?


Ya sepertinya Revan kurang lengkap dalam menceritakan keadaan istrinya pada sang kakek.


"Tunggu apalagi, sana bawa istrimu masuk ke kamar," perintah kakek lagi, agar Revan segera beranjak.


Revan dan istrinya saling pandang, mereka harus secepatnya menjelaskan kejadian sebenarnya atau kakek akan lebih salah paham nantinya.


"Kek, bukan seperti yang Kakek kira. Rara itu hanya mual dan..." ucapan Revan terputus.


"Iya kakek tau, sudah sana masuk saja."


"Tapi Kek, Rara tidak...." lagi-lagi terpotong.


"Bi Mur, cepat kau buatkan sup pereda mual dan siapkan makanan yang bergizi untuk cucu menantuku." Kakek dengan antusias mengatakannya pada Bi Mur.


Raut kebahagiaan sangat jelas tercetak di wajah yang sudah keriput itu, baru kali ini Revan melihat kakeknya begitu bahagia. Apa jadinya jika beliau tau yang sebenarnya. Tidak tega Revan membayangkan betapa kecewanya sang kakek.


"Kak, bagaimana ini. Sepertinya kakek sudah salah mengira," ujar Rara yang merasa bersalah.


"Biar nanti aku yang bicarakan pada kakek, sekarang aku akan mengantarkanmu ke kamar untuk beristirahat."


Revan pun berjalan menaiki tangga, dengan Rara yang masih dalam gendongannya.


"Apa aku tidak berat Kak?" tanya Rara yang khawatir jika suami terbebani.

__ADS_1


"Mengangkat lima kamu saja aku bisa."


Rara cukup terkejut mendengarnya, apa artinya burat badannya terlalu enteng sampai suaminya itu sama sekali tidak terlihat kelelahan saat menaiki tangga.


Revan menurunkan istrinya di atas kasur dengan hati-hati, tak lupa juga menyelimutinya.


"Beristirahatlah, aku turun sebentar untuk mengambil sup pereda mual."


"Kak, masalah kakek bagaimana?" tanya Rara.


"Tidak apa-apa, nanti aku jelaskan. Jika tidak bisa maka tidak ada jalan lain selain membuatnya menjadi nyata."


Rara masih terpaku mendengar ucapan suaminya, apa maksudnya membuatnya menjadi nyata? Ia masih berusaha memikirkan artinya.


Kakek kan mengira aku hamil tapi aku tidak hamil, lalu kak Revan bilang membuatnya menjadi nyata. Itu berarti aku harus hamil sungguhan, begitukah?


Rara menutup mulutnya yang terbuka karena ia baru saja menyadari arti kalimat yang suaminya ucapkan. Itu berarti mereka harus melakukan hubungan suami-istri dulu agar bisa hamil sungguhan.


Kenapa tiba-tiba aku malu memikirkannya, aaa...


Rara menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. Pipinya memerah dengan pemikiran yang ia ciptakan sendiri.


,,,


Di bawah.


Revan yang baru saja keluar dari kamarnya langsung mencari bi Mur agar membuatkan wedang jahe untuk istrinya. Ia rasa minuman itu tepat untuk mengurangi mual dan menghangatkan tubuhnya.


"Iya Tuan, apa Nona perlu sesuatu?" Bi Mur sangat bersemangat karena ia juga senang saat mendengar nonanya tengah berbadan dua.


"Iya, tolong buatkan wedang jahe Bi?" perintah Revan.


"Sudah saya siapkan Tuan, saya juga sedang membuat sup kacang merah untuk Nona. Dulu saat mendiang nyonya mengandung Tuan Revan juga sering saya buatkan." Bi Mur dengan wajah bahagianya.


Revan memijit pelipisnya, ternyata dugaan kakek sudah tersebar luas hanya dalam waktu beberapa menit saja.


"Bi dengar, istriku tidak sedang hamil dia hanya mabuk kendaraan. Kakek yang sudah salah mengira." Revan mencoba menjelaskan agar salah paham itu tidak semakin tersebar luas.


"Tapi bisa juga nona benar-benar hamil Tuan, karena bawaan bayi makanya nona mual." Bi Mur menerka.


Revan memijit pelipisnya lagi, susah sekali menjelaskan kejadian sebenarnya. Apa dia harus bilang jika mereka belum melakukan apapun, lalu bagaimana bisa Rara hamil.


"Sudahlah Bi, tolong bawakan itu ke kamar. Aku mau menemui kakek." Revan berlalu meninggalkan bi Mur, berniat menemui kakeknya dan berharap sang kakek akan mengerti.


Revan mencari keberadaan kakeknya, ternyata beliau ada di depan dan terlihat juga ada orang berbaju putih yang baru datang.


"Selamat malam dokter Gunawan, maaf saya mengganggu anda malam-malam begini," ujar kakek pada orang yang ternyata adalah dokter keluarga.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tuan, sudah tugas saya. Jadi siapa yang sakit?" tanya dokter Gunawan.


"Tidak ada yang sakit Dok, maksud dari memanggil anda kemari adalah untuk memeriksa cucu menantu saya. Sepertinya dia sedang hamil, tolong diperiksa apakah keadaannya baik-baik saja. Karena dia baru saja melakukan perjalanan jauh." Terang kakek dengan bahagianya, tidak jauh berbeda dengan pak Ahmad yang berada di samping Kakek.


Perkataan kakek tentu saja membuat Revan tercengang, ia tidak menyangka jika kakek akan memanggil dokter untuk menanyakan hal itu.


"Kek," tegur Revan.


"Ini dia cucuku, Dok. Dia hebat sekali baru sebentar menikah sudah berhasil membuatkanku cicit."


Tawa semua orang yang ada di sana pecah mendengar perkataan kakek Tio. Sementara Revan terlihat frustasi, sepertinya ia sudah tidak punya kesempatan untuk menjelaskan.


Revan sudah pasrah, biarlah dokter yang memeriksa dan mengatakan yang sebenarnya. Percuma jika ia sendiri yang menjelaskan, semua orang sudah larut dalam kegembiraan.


Di kamar, bi Mur membawakan minuman jahe dan sup kacang merah yang ia buat untuk nonanya.


"Permisi Non," ujar bi Mur sebelum memasuki kamar.


"Masuk Bi."


"Saya bawakan ini untuk mengurangi rasa mual Non, ayo diminum."


Bi Mur menyerahkan segelas wedang jahe itu pada Rara.


"Bagaimana Non, apa masih mual?" tanya bi Mur.


"Sudah mendingan Bi, cuma masih pusing dan agak lemas." Terlihat memang dari wajah pucat Rara.


"Itu wajar Non, memang jika di trimester pertama itu agak berat tapi nanti jika sudah lewat akan lebih enakan."


Ishh... Rara membulatkan matanya. Bukan hanya kakek yang salah mengira ternyata.


"Saya tidak hamil Bi," ujar Rara.


"Bagaimana Nona bisa yakin, apa Nona sudah mengeceknya?" tanya bi Mur yang curiga karena tadi tuannya juga bilang jika Rara tidak hamil.


"Karena kami tidak pernah..."


to be continue...


Masuk aja belum, bagaimana bisa hamil.


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2