Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
111. Apa yang Harus Aku Lakukan?


__ADS_3

°°°


Di rumah sakit internasional Jakarta. Febby seorang diri di sana, dari semalam dalam hatinya terus menunggu laki-laki yang katanya ayah dari janinnya itu kembali tapi ternyata tidak.


Kini wanita itu menyesali sikapnya pada pria itu, ia ingat bagaimana tatapan matanya yang begitu putus asa saat mendengar Febby mau menggugurkan kandungannya.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat Febby berbinar, ia tebak pasti pria itu sudah kembali. Senyumnya langsung merekah di wajahnya.


Akhirnya dia datang juga.


Namun, seketika senyum Febby memudar saat yang datang bukanlah orang yang diharapkan.


"Saya bawakan sarapan untuk anda Nona," ujar perawat yang baru saja masuk.


"Sus, apa kamu lihat laki-laki yang semalam keluar dari ruangan ini. Apa dia ada di luar?" tanya Febby.


"Tidak Nona, dari semalam saya tidak melihatnya lagi. Apa ada yang nona inginkan?" tanya perawat itu.


Febby menggeleng lemah, yang ia inginkan tidak mungkin bisa perawat itu penuhi pikirnya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Kalau anda memerlukan bantuan atau menginginkan sesuatu jangan sungkan untuk menekan tombol bantuan." Setelah itu perawat itu pun keluar.


Sebenarnya keadaan Febby saat ini sudah lebih baik, hanya morning sickness nya masih ada. Tapi sudah tidak separah kemarin-kemarin.


Kalau Febby mau pasti dokter juga sudah mengijinkannya pulang, tapi dia masih menunggu seseorang. Yang bahkan tidak ia tau namanya apalagi kenal.


Dimana pria itu, apa dia berubah pikiran dan tidak mau bertanggung jawab. Lalu bagaimana dengan janin ini, aku tidak mungkin merawatnya sendiri atau aku gugurkan saja.


Pikirannya berkecamuk, membayangkan apa jadinya ia bila merawat bayi seorang diri. Namun, sejujurnya ia juga tidak tega bila harus menggugurkan janin yang sedang tumbuh di rahimnya.


Febby mengusap perutnya nya yang masih datar, sampai sekarang ia masih tidak percaya jika ada kehidupan di dalam perutnya.


Siapa pria itu sebenarnya, auranya bukan hanya seperti seorang assisten. Begitu kuat dan mendominasi.


Sedangkan Mike sendiri sebenarnya tidak pergi kemanapun, sejak tadi malam ia berada di mobilnya. Walaupun begitu, Mike tetap memantau kondisi Febby. Dia juga meminta perawat untuk selalu bertanya pada wanita itu, apa ada yang diinginkannya. Karena setelah sempat mencari tau seputar kehamilan, Mike menemukan jika wanita hamil sering tiba-tiba menginginkan sesuatu.


Mike melihat jam tangannya, sudah hampir waktunya berangkat ke kantor. Sebelum itu Revan menyempatkan diri untuk pergi ke minimarket di dekat rumah sakit itu.

__ADS_1


Membeli beberapa kotak susu hamil dengan berbagai rasa karena Mike tidak tau apa yang disukai oleh wanita itu. Setelah mendapat apa yang ia cari Mike pun bergegas ke lantai dimana Febby di rawat.


Ting


Sampailah Mike disana, tapi dia tidak langsung menuju ruang rawat Febby. Namun, dia pergi mencari perawat yang berjaga.


"Pagi Tuan," sapa mereka saat Mike datang.


"Apa dia sudah memakan makanannya?" tanya Mike.


"Sudah Tuan, nona memakannya sampai habis." Terang mereka.


"Apa dia masih mual pagi ini?" tanya Mike lagi, dia tidak ingin terlewatkan satu informasi pun tentang wanita yang ia suka dan calon anaknya.


"Hanya mual sedikit, tidak terlalu parah. Itu sangat wajar terjadi pada wanita hamil trimester pertama Tuan. Asalkan kebutuhan asupan makanannya tercukupi, maka ibu dan janinnya tidak akan kenapa-napa."


Setelah mendengar penjelasan mereka Mike pun menyerahkan susu hamil yang tadi ia beli.


"Berikan ini padanya, tanya dia mau yang rasa apa."


"Baik Tuan," ujar perawat itu.


Mike pun membalikkan tubuhnya, untuk pergi dari sana. Ada rasa berat saat melewati pintu ruangan dimana Febby berada. Rasanya ingin sekali masuk menemui wanita itu dan mengusap perutnya, tapi Mike tidak ingin kalau sampai tindakannya akan membuat Febby semakin marah.


Mike berhenti tepat di depan ruangan Febby, ia berdiri menatap penuh arti. Tidak pagi ini, dia akan membicarakannya lagi nanti setelah pulang dari kantor.


,,,


Revan yang sudah berhasil mendapatkan maaf dari semua orang pun sudah bernafas lega. Hubungannya dengan ayah mertuanya juga semakin akrab setelah tadi dia berhasil mengajak Abi untuk lari pagi.


"Sayang, maafkan aku tidak bisa menemanimu pergi dengan kakak ipar." Revan baru sehari menjabat sebagai Dirut, tidak mungkin dia ijin di hari keduanya.


"Tidak apa-apa Kak, kamu kan harus kerja," ujar Rara seraya memasangkan dasi suaminya.


Revan yang gemas akan jawaban istrinya pun menarik pinggangnya, "Bagaimana jika aku ingin libur."


Dengan jarak sedekat itu pasti membuat Rara gugup dan berdebar. "Kakak tidak bisa libur seenaknya walaupun kak Revan ini bossnya."


Sontak Revan tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban istrinya yang sangat lugu. Dimana-mana bukannya bos itu bisa bertindak seenaknya ya, tapi ini dia malah tidak diperbolehkan untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


"Kenapa kakak tertawa?" ujar Rara mengerutkan hidungnya.


"Katamu bos tidak bisa seenaknya, lalu apa bos harus menuruti karyawannya." Revan yang masih tertawa seraya memegangi perutnya.


"Itu karena seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti Kak. Aku hanya mengingatkan kak Revan agar tidak bertindak seenaknya dan semena-mena," ujar Rara, dia sangat kesal karena suaminya mentertawakannya.


"Iya, aku mengerti Rara sayang." Revan lebih memilih untuk mengalah karena tidak ingin membuat istrinya kesal.


"Aku minta maaf, karena menertawakanmu," ujarnya lagi. "Aku tidak akan menjadi pemimpin yang semana-mena, kau tidak perlu khawatir." Untuk kali ini mungkin tidak, tunggu sampai ia sudah bisa membawa perusahaan dalam kemajuan barulah ia akan seenaknya meminta libur. Tidak sabar menantikan hari itu tiba.


"Iya sudah, ayo kita keluar," ajak Rara.


"Tunggu," cegat Revan. "Ada yang ketinggalan," ujarnya.


"Apa Kak," tanya Rara menaikkan alisnya.


Bukannya menjawab Revan malah menarik tubuh istrinya hingga menahan pinggangnya sehingga tubuh mereka berhimpitan.


"Ini..., Cup..." Revan mencium bibir istrinya. Melu-maat dan menghisapnya lembut penuh perasaan.


Rara cukup terkejut dengan apa yang suaminya lakukan, tapi kemudian ia mulai menikmatinya dan sedikit membahas walaupun masih kaku.


"Sudah cukup pintar," ujar Revan seraya mengusap bibir istrinya yang basah akibat perbuatannya. "Sepertinya harus sering melakukannya agar terbiasa.


"Kak, jangan katakan hal seperti itu." pipi Rara sudah bersemu merah.


"Kenapa, apa kau malu?" tebak Revan yang diangguki oleh istrinya.


"Tidak usah malu, kita ini suami istri."


"Sudah, ayo keluar nanti kakak terlambat." Rara mengingatkan suaminya.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2