Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
168. Keadaan Mike


__ADS_3

°°°


Seminggu berlalu, keadaan Mike masih sama tidak ada yang berubah. Dia masih menggunakan alat-alat medis untuk menopang hidupnya.


Febby selalu di sampingnya, menemani dan berbagi cerita. Tidak pernah ia merasa bosan apalagi jenuh. Hanya dengan bisa melihat Mike saja sudah membuatnya bahagia. Kalaupun mau pergi juga tidak tau mau kemana.


Pulang? Tidak, tidak ada tempat untuk ia pulang selain pulang ke sisi Mike.


"Dokter, bagaimana keadaannya? Kenapa dia belum juga bangun?" tanya Febby pada dokter yang sedang mengecek kondisi Mike. Setiap kali dokter datang pasti pertanyaan yang sama keluar dari mulut Febby.


"Pasien koma memang tidak bisa ditebak Nona. Kadang ada yang sehari dua hari ada juga yang berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan agar pasien bisa cepat sadar," jawab dokter yang tidak membuat Febby puas. Harapannya bisa mendengar kalau Mike akan segera sadar tapi tak pernah ada dokter yang mengatakan kalimat itu.


"Tapi sejauh ini organ-organ vital tuan Mike sudah membaik dan menunjukkan kemajuan yang signifikan. Saya tidak bisa memastikan kapan tuan Mike akan bangun tapi saya bisa pastikan kalau tuan Mike pasti bangun. Dilihat dari perkembangan kondisinya, sepertinya dia mempunyai tekad untuk bertahan dan kembali membuka mata."


Dokter hanya manusia tidak bisa memastikan kapan manusia bisa sembuh ataupun meninggal. Tangannya mungkin terkadang ajaib karena bisa menyembuhkan luka ataupun penyakit seseorang. Namun, manusia kadang lupa siapa sang pemilik tangan ajaib itu dan pemilik seluruh tubuh dokter.


Ya dialah Sang pencipta alam semesta, bukan dokter yang menyembuhkan tapi Tuhanlah yang menyembuhkan seseorang lewat tangan sang dokter.


"Apa ada lagi yang mau nona tanyakan?" tanya dokter itu pada Febby.


"Tidak ada lagi Dok, terimakasih." Febby sedikit membungkuk hormat.


"Sama-sama Non, kalau begitu saya permisi dulu." Rombongan dokter dan perawat itu pergi meninggalkan ruangan itu.


Bertepatan dengan mamah Wina yang baru saja datang. Sudah seminggu ini sikap mamah Wina juga sangat baik pada Febby. Tapi lebih tepatnya karena Febby lah sumber uangnya saat ini.


"Sayang, apa dokter sudah memeriksa nya? Bagaimana apa ada tanda-tanda dia akan sadar?" tanya mamah Wina yang sudah memasuki kamar rawat Mike.


"Tidak ada perubahan," jawab Febby singkat.


"Sayang sekali laki-laki setampan ini harus berbaring tidak berdaya. Kalau kamu mau mamah bisa kenalkan kamu pada pria yang tidak kalah tampan, nak." Rupanya mamah Wina sudah bersiap berpindah haluan, kalau-kalau Mike tidak juga sadar.


"Mah, cukup mah!! Sudah berapa kali aku bilang, kalau aku mencintai Mike. Aku akan menunggunya sadar selama apapun." Febby jengah setiap hari mendengar mamahnya akan menjodohkannya dengan pria kaya. Sudah cukup selama ini Febby hanya dimanfaatkan, kali ini tidak lagi sekalipun itu ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Maaf sayang, mamah hanya ingin melihat kamu bahagia. Tidak membuang waktu di rumah sakit seperti ini. Kamu cantik, pasti masih banyak laki-laki yang mau menikah dengan mu."


"Mah!! stop!! Aku mohon jangan membicarakan hal ini lagi. Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali Mike." Febby meninggikan suaranya.


"Ya sudah, maafkan mamah. Mamah tidak bermaksud apa-apa, semua demi kebahagiaan kamu nantinya," ujar mamah Wina yang sepertinya sedang mencari alasan.


Kenapa anak ini jadi susah diatur sih. Aku jadi tidak bisa memorotin para laki-laki kaya itu kalau Febby tidak mau menikah dengan mereka. kesal mamah Wina.


"Aku akan bahagia hanya dengan Mike, Mah," ujar Febby.


,,,


Sementara di ruangan sebelah.


Setelah seminggu, keadaan Revan sudah membaik. Paska operasi di kakinya juga sudah membaik dan sekarang Revan sudah bisa menggerakkan kakinya, walaupun belum bisa untuk berjalan dan harus menggunakan kursi roda sementara waktu.


Setelah dokter memeriksa Mike, dia datang ke ruangan Revan untuk memeriksa keadaannya.


"Apa saya sudah boleh pulang dok?" tanya Revan.


"Benarkah dok?" kini Rara yang bertanya dengan wajah berbinar.


"Iya nona, nanti seminggu lagi bisa datang ke rumah sakit untuk pengecekan," jelas dokter.


"Alhamdulillah, terimakasih atas bantuan dokter selama ini," ujar Rara.


"Sama-sama Nona," ujar dokter itu.


Revan juga sama dia senang mendengar sudah diijinkan untuk pulang. Walaupun fasilitas yang disediakan rumah sakit begitu bagus tetap saja rumah sendiri adalah tempat yang paling nyaman.


"Bagaimana keadaan Mike Dok? Apa ada kemajuan? Apa dia akan bangun?" tanya Revan, rasa senangnya tiba-tiba hilang saat teringat sang assisten belum sadarkan diri.


Dokter itu tampak menghela nafasnya setelah mendengar pertanyaan dari Revan. Nampaknya begitu berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

__ADS_1


"Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kami hanya manusia biasa yang tidak bisa menentukan apakah pasien bisa sembuh atau justru berakhir."


"Apa maksud anda, Dok! Bukankah kau bilang semuanya bagus, tidak ada masalah dengan Mike." Revan tidak terima, dia kesal mendengar hal itu.


Rara yang melihat sang suami marah pun menenangkannya dengan menggenggam tangannya.


"Benar tuan, tapi masalah di otaknya setelah kami periksa sepertinya cukup serius ada gumpalan darah disana dan di bagian dadanya juga ada sedikit kerusakan."


"Tunggu apa lagi, cepat kalian ambil tindakan. Kenapa membiarkannya begitu saja!! Apa kakekku belum cukup banyak membayar kalian." Emosi Revan semakin memuncak mendengarnya.


"Kak, kita dengar dulu penjelasan dokter," ujar Rara menenangkan suaminya.


"Begini tuan, rumah sakit ini kekurangan dokter bedah handal dan kasus tuan Mike harus ada seorang ahli yang melakukannya," terang sang dokter.


"Kalau begitu cepat datangkan dokter yang hebat kesini, aku pastikan akan membuat rumah sakit ini semakin berkembang dengan investasi dari perusahaan." Revan sungguh ingin Mike selamat, dia ingin mengucapkan terimakasih secara langsung saat Mike sadar.


"Kami sedang berusaha Tuan, dokter yang kami minta masih belum bersedia datang. Kami akan terus berusaha agar dokter-dokter yang hebat bisa datang untuk mengoperasi tuan Mike."


"Ya sudah, kalian bisa pergi sekarang," ujar Revan.


"Kami permisi Tuan, Nona," ujar dokter seraya membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Semua ini karena aku, seharusnya bukan Mike yang mengalami itu semua." Revan terus menyalahkan diri atas keadaan yang menimpa Mike.


"Assisten Mike pasti mempunyai alasan kenapa dia lebih memilih menyelamatkan kak Revan. Jangan terus menyalahkan diri sendiri kak, lebih baik kak Revan selesaikan apa yang assisten Mike mau."


Rara ada benarnya, apa yang Mike lakukan pasti sudah dia pikirkan sebelumnya. Untuk apa mengorbankan nyawa kalau tidak ada maksud dan tujuan tertentu. Revan pun mulai memikirkan perkataan istrinya.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2