Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
56. Pangkuan Umi


__ADS_3

°°°


Setelah selesai dengan perayaan kecil-kecilan yang berakhir dengan mandi lumpur. Mereka semua kini sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Rara dan Luna sedang berada di kamar orangtuanya, membantu mereka berkemas. Ya umi dan Abi akan pulang hari ini. Usaha kedua putrinya untuk membujuk mereka agar lebih lama berlibur, sama sekali tidak berhasil.


"Kenapa si, kalian tidak menginap lebih lama lagi," gerutu Luna yang masih rindu dengan kedua orangtuanya.


"Kamu tau kan, bagaimana Abi kalian. Semewah apapun hotel ini tidak senyaman di rumah." Umi memberi pengertian pada putrinya tapi Luna masih saja mengerucutkan bibirnya.


Luna belum bisa ikut pulang karena masih ada beberapa hal yang perlu ia urus. Berharap umi dan Abi akan menunggunya, tapi itu tidak mungkin terjadi.


Sementara Rara juga tidak bisa apa-apa, dia tau betul Abinya yang tidak bisa lama-lama jauh dari rumah.


Setelah selesai membereskan pakaian, mereka melanjutkan dengan bermanja-manja pada sang ibu. Mengenang dimana saat mereka masih tinggal bersama. Berebut pangkuan umi salah satunya, untuk meletakkan kepala mereka.


"Dek, gantian dong. Mbak pengin diusap-usap juga sama Umi." Luna tidak mau kalah.


"Nanti Mbak, aku aja baru sebentar." Rara enggan untuk memberi ruang pada kakaknya.


"Kamu kan sudah dari tadi, Dek," ujar Luna seraya menarik tangan adiknya agar bangun.


"Nanti Mbak," tolak Rara.


Jadilah tarik menarik antara kakak beradik itu, begitulah mereka jika sudah bersama. Suka merebutkan hal kecil, membuat umi geleng-geleng kepala melihatnya. Namun, itulah yang mereka rindukan saat berjauhan.


Sementara Revan dan Abi sedang duduk di balkon ruang tamu yang ada di kamar mereka. Kamar presiden suite memang mirip seperti apartemen dengan segala perlengkapan yang lengkap. Di dalamnya pun dibagi menjadi beberapa ruangan, ruang tamu, dapur dan dua kamar.


Saat ini ada Revan dan Abi yang sedang menikmati senja di kota istimewa itu, dengan secangkir kopi jos khas Jogjakarta. Rasa kopi yang tidak begitu manis cocok untuk Abi yang memang mengurangi gula, diusia yang tidak lagi muda ia lebih menjaga kesehatan agar bisa lebih lama melihat putri-putrinya.


Menurut Revan, rasa kopi khas Jogja itu cukup cocok di lidahnya.


"Terimakasih, sudah menjaga Rara dengan baik," ujar Abi.


"Abi tenang saja, itu sudah kewajibanku. Aku akan menjaga Rara dengan baik dan membahagiakannya." Revan sungguh berjanji dalam hatinya, bukan sekedar menyakinkan ayah mertuanya.


Abi tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Baguslah jika memang demikian, tapi jika Abi tau, Rara tidak bahagia atau kamu menyakitinya. Abi akan membawanya pergi jauh dari hidupmu."


Perkataan Abi sontak membuat Revan tercekak. Bagaimana mungkin wanita yang hampir memenuhi hatinya itu dibawa pergi darinya. Ia rasa tidak akan sanggup berjauhan dengan istrinya.


Revan harus berhati-hati mulai sekarang, ia tidak ingin sang istri dibawa pergi dari hidupnya.


Sebenarnya Abi juga tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, melihat pancaran kebahagiaan dari raut wajah putrinya saat bersama suaminya membuat Abi yakin jika Rara sudah jatuh cinta pada suaminya. Ia harap Revan pun bisa mencintai istrinya dengan sepenuh hati dan mereka hidup bahagia.


,,,


Semua sudah siap, Abi dan umi akan segera bersiap untuk pulang.


Rara dan yang lain mengantarkanmu mereka hingga di lantai bawah. Perpisahan yang penuh haru pun terjadi.


"Sudah nak, kita kan beberapa hari lagi juga bertemu. Tidak perlu bersedih lagi." Umi menenangkan putri sulungnya yang terus saja menangis.


"Abi, Umi berhati-hatilah di jalan. Beri kabar jika sudah sampai," ujar Rara yang terlihat lebih tegar.


"Kalian juga jaga diri baik-baik, jangan bersedih lagi. Kami kan hanya pulang ke rumah, bukannya mau pergi jauh."


Rara tersenyum pada Abi lalu mencium tangan mereka bergantian.


Semua orang tertawa melihat kakak beradik itu. Termasuk Revan yang sejak tadi ikut terbawa suasana dalam kehangatan keluarga sang istri.


Setelah beberapa saat, akhirnya Luna membiarkan kedua orangtuanya untuk pulang karena hari semakin malam.


Umi dan Abi pulang menggunakan mobil yang sudah Revan siapkan tentunya. Dengan dua supir yang akan bergantian menyetir, takut salah satunya mengantuk dan bisa bergantian. Revan juga berpesan jika mertuanya lelah maka harus mencari tempat istirahat yang nyaman.


Perlakuan Revan yang memperlihatkan umi dan Abi tentu membuat Rara dan Luna juga senang dan tidak begitu mengkhawatirkan orangtua mereka.


"Sebaiknya Mbak menginap saja disini, sudah malam," bujuk Rara pada kakaknya, setelah mobil yang ditumpangi orangtuanya pergi.


"Mbak tidak ingin mengganggu kalian, lebih baik aku kembali ke asrama. Umi dan Abi juga sudah pulang," tolak Luna.


"Mengganggu apa Mbak, tidak sama sekali." Rara dengan raut wajah bingungnya.


Luna menatap adik iparnya yang tampak tidak setuju dengan apa yang dikatakan Rara.

__ADS_1


Luna pun tersenyum tipis, adiknya itu kadang-kadang bisa bersikap dewasa tapi juga tidak, dan sepertinya Rara masih belum terlalu mengerti tentang hubungan percintaan.


Berbeda dengan Luna, walaupun ia juga belum pernah berpacaran tapi jurusan kuliah yang ia ambil membuatnya mau tidak mau banyak belajar mengenai perasaan cinta dan yang lainnya.


"Mbak pulang dulu, assalamualaikum." Luna pergi meninggalkan adiknya yang masih mematung.


"Mbak...," panggil Rara tapi kakaknya sudah menghilang dari pandangannya.


"Ayo kita kembali ke kamar, kamu ingin makan malam apa," ajak Revan.


"Apa saja Kak."


Kenapa rasanya aneh, padahal kami sudah biasa hanya berdua tapi kali ini terasa berbeda.


Sejak bercerita pada kakaknya dan mendapatkan penjelasan, Rara sedikit canggung saat dekat dengan suaminya. Bukannya tidak suka, tapi ia malu karena dengan polosnya ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada suaminya semalam.


Jika ditanya dia siap atau tidak kalau Revan meminta haknya, jawabannya Rara siap. Sejak awal ia menerima perjodohan tentu ia sudah menyiapkan dirinya termasuk berhubungan suami-istri. Namun, karena banyak yang terjadi ia jadi melupakan hal itu.


Ketika mengingat akan hal itu, kini ia merasa canggung tapi jika suaminya memintanya sekarang ia tidak akan menolak.


Revan pun merasakan jika istrinya seperti sedang menghindarinya. Ia jadi bertanya-tanya, apakah dirinya membuat kesalahan.


Sampai di kamar, mereka berdua masih saling berdiam tidak ada yang membuka mulut.


"Aku akan memesan makanan," ujar Revan dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Rara.


Kemudian Revan kembali keluar dari kamarnya. Padahal pesan dari kamar saja bisa tapi ia memilih untuk pergi keluar.


Sementara Rara...


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2