
°°°
Rara langsung bergegas mau menghampiri kedua orangtuanya, setelah kakaknya mengatakan umi dan Abi juga datang.
"Hai... tunggu," cegah Luna.
"Ada apa Mbak?" tanya Rara heran.
"Apa kau mau keluar dengan seperti itu," tatap Luna pada tubuh adiknya yang masih menggunakan celemek dan penuh tepung.
"Oh iya, hehehe..." Rara menyengir kuda. Setelah itu ia bergegas melepaskan celemek dan mencuci tangannya.
"Ayo Mbak," Rara menarik tangan Luna, dia sudah tidak sabar untuk bertemu kedua orangtuanya.
Sementara di ruangan tamu kakek sedang bercengkrama dengan besannya. Kakek sangat antusias saat membicarakan kebun yang Abi garap. Katanya saat ini kebunnya adalah kebun yang paling subur di desanya. Ternya kakek Tio tidak pernah bercanda dengan ucapannya.
Kakek Tio benar-benar mengirimkan seseorang sarjana pertanian untuk terjun mengajari Abi, agar tanaman di kebunnya tumbuh subur seperti yang ada di belakang rumah itu.
"Syukurlah jika apa yang kakek berikan bermanfaat untuk mu dan warga desa disana."
Kakek tidak menyangka jika Abi akan membagi ilmu yang telah ia pelajari pada warga yang lain, sungguh besannya itu ada orang yang sangat baik. Bukannya ia menyombongkan diri, malahan Abi merangkul warga yang lain agar tanamannya juga tumbuh subur.
"Itu semua berkat kakek Tio yang mendatangkan orang untuk mengajar saya. Sekarang bahkan banyak warga dari luar desa datang untuk melihat-lihat kebun kami kek."
Abi menceritakannya dengan perasaan bahagia, saat banyak orang yang datang untuk melihat-lihat sekaligus berwisata di kebun warga. Otomatis para warga yang awalnya tidak mempunyai penghasilan harian dan hanya mengandalkan hasil kebun yang tidak seberapa. Kini warga desa sana bisa mendapatkan rejeki setiap harinya.
"Kakek tidak melakukan apapun nak, kamulah yang membantu mereka. Kakek sangat bangga padamu, Abdullah juga pasti bangga mempunyai putra seperti mu." Ujar kakek.
Abi juga menceritakan keadaan pabrik peninggalan ayahnya dan kakek Tio yang ia kelola. Kini pabrik tahunya sudah mulai merambah pasar mancanegara. Banyak orang dari luar daerah memesan tahu di pabriknya.
Tentu semua itu berkat Luna yang secara besar-besaran memasarkan tahu hasil pabrik itu di internet. Dan semakin lama banyak orang yang mengenal tahu buatan Abi.
"Alhamdulillah, tidak sia-sia Abdul mempercayakan pabrik itu padamu nak. Bukan hanya bisa mempertahankan tapi kau juga berhasil mengembangkannya." Kakek sangat bangga.
Rara yang sudah sedang tidak sabar bertemu orangtuanya, akhirnya sampai juga di ruang tamu. Dimana mereka sedang mengobrol dengan kakek.
"Umi... Abi...," Rara langsung menghampiri mereka dan memeluk mereka bergantian. Hingga air mata kerinduan pun mengalir begitu saja.
"Umi dan Abi, apa kabar?" tanya Rara setelah melepaskan pelukannya.
"Kami baik-baik saja, nak. Kamu sendiri bagaimana?" tanya umi seraya menghapus air mata yang membasahi pipi putrinya.
__ADS_1
"Aku juga baik, Umi." Rara kembali menghambur ke pelukan uminya.
Kakek sangat senang melihat Rara bahagia, dia yang amat menyayangi Rara seperti cucunya sendiri.
"Terimakasih kalian sudah mau datang," Ujar Rara.
"Berterimakasih lah pada kakek, beliau yang mendatangkan orang untuk menjemput kami Dek." Luna duduk disebelah umi.
"Yang mbakmu katakan benar nak, berterimakasih lah pada kakek Tio. Beliau sudah sangat baik, hingga memikirkan kebahagiaan mu." Umi membenarkan ucapan putri sulungnya. Begitupun Abi yang mengangguk setuju.
Rara pun pun bangun dan mendekati kakek Tio.
"Terimakasih Kek, aku tidak tau lagi bagaimana caranya membalas kebaikan Kakek. Kakek sudah sangat banyak memberikan perhatian padaku, tapi aku masih banyak kekurangan selama menjadi istri kak Revan." Rara bersimpuh di hadapan kakek yang sedang duduk.
"Bangunlah, duduk di sini," kakek menepuk sofa disebelahnya agar Rara duduk di atas.
"Kau tidak perlu melakukan apapun untuk Kakek, kamu sudah mau menjadi menantu di rumah ini saja kakek sudah sangat bahagia."
"Terimakasih Kek." Rara pun memeluk kakek Tio.
,,,
Masih di rumah sakit, Mike sedang menunggu di luar ruangan Febby. Dia tidak di perbolehkan masuk oleh wanita yang tadi sore sudah sadar dari pingsannya.
Flashback
"Kau !! dasar pria mesum!!" teriak Febby yang mengira ada pria di dalam kamarnya. Apalagi posisi Mike saat Febby membuka mata, sangat dekat dengan wajahnya seperti mau mencium.
"Cepat kau keluar dari kamarku pria mesum!!" Febby masih saja belum sepenuhnya menyadari dimana dirinya berada saat ini.
Mike yang dipukuli menggunakan bantal hanya melongo melihat tingkah Febby. Tapi kemudian ia sadar jika kesehatan ibu hamil itu masih lemah. Segera ia mendekat dan memegang kedua tangan Febby.
"Apa yang mau kau lakukan pria mesum!!" Febby melototi Mike.
"Tenanglah, kamu masih lemah. Lihatlah baik-baik sekarang kamu ada di mana," ujar Mike mencoba menenangkan Febby agar tidak banyak bergerak lagi.
"Tentu saja ini di kamarku, cepat kau keluar atau aku teriak agar kau ditangkap dan dihakimi warga." Febby masih kekeuh dengan pemikirannya.
Mike tidak menyerah dia mengungkung tubuh Febby sekarang.
Sontak membuat Febby memekik karena terkejut. "Aaa...."
__ADS_1
"Kau!! jangan dekat-dekat aku bilang, cepat menyingkir atau aku benar-benar akan berteriak."
"Tidak, sebelum kamu sadar sekarang ada di mana," ujar Mike tidak mau mengalah.
"Maka aku akan benar-benar berteriak, jangan mentang-mentang kamu tampan lalu aku mau diapa-apain sama kamu ya."
"Minggir!!" Febby menatap tajam.
Pandangan mereka saling berperang seperti mengalirkan sengatan listrik, sama-sama tajam dan menusuk.
Febby yang hampir terbuai oleh mata coklat itu pun segera memalingkan wajahnya.
Kenapa aku jadi terpesona pada pria itu, sadar feb. Dia itu pria mesum.
"Aku hitung sampai tiga kalau kau tidak mau menyingkir aku akan teriak." Ancam Febby.
"Teriak saja," Mike berkata dengan acuh. Berteriak juga tidak ada gunanya, batin Mike.
Febby pun merasa tertantang melihat pria itu semakin berani.
"Satu... dua...ti..."
Cup, Mike menempelkan bibirnya pada bibir Febby yang terus berceloteh. Sontak mata Febby membulat dan berusaha melepaskannya. Namun, usahanya sia-sia saat tenaga Mike jauh lebih besar darinya. Febby diam-diam merasakan sesuatu yang lain saat bibir itu menempel pada bibirnya.
Ada apa dengan perasaan ku, padahal pria itu hanya menempelkan bibirnya. Bukannya aku sudah biasa dengan ciuman yang lebih panas.
"Apa masih mau teriak?" tanya Mike setelah menjauhkan wajahnya.
"Kenapa kau menciumku, huaaa...," tangis Febby melengking memenuhi ruangan dan memekakkan telinga.
Mike menepuk keningnya sendiri, kenapa wanita itu jadi seperti itu sekarang. Apa memang seperti itu aslinya, sama sekali belum dewasa.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...