
°°°
Sejak kejadian tadi hati Rara belum bisa mengontrol debaran jantungnya.
Dag dig dug di dadanya terdengar begitu keras, bahkan ia takut jika lelaki di sampingnya itu akan mendengarnya juga.
Tidak butuh waktu lama karena mereka sudah sampai di restoran mewah yang kakek siapkan.
"Kita sudah sampai," ujar Revan setelah ia berhasil memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup sempit diantara banyaknya mobil.
Bisa di bayangkan seramai apa di dalam sana, karena ternyata itu adalah akhir pekan. Pastilah banyak pasangan memilih untuk makan di luar.
"Tunggu," cegah Revan saat Rara hendak membuka pintu mobil.
"Kenapa Kak?" Tatapan mata Rara dipenuhi tanda tanya.
Bukannya menjawab Revan malah keluar dari mobil meninggalkan Rara sendirian, tapi tunggu dia tidak pergi. Namun, ia memutari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Rara sempat melongo mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya. Kalau hanya membuka pintu mobil ia rasa masih bisa sendiri.
"Turunlah," perintah sang suami.
"Berikan tanganmu," titahnya lagi setelah Rara turun dari mobil.
Rara menatap tidak mengerti pada suaminya. Namun kemudian ia melihat pasangan yang berjalan melewati mereka. Terlihat sang wanita melingkarkan tangannya pada lengan si pria.
Kemudian Rara mempraktekkan apa yang ia lihat tadi. Ia melingkarkan tangannya ke lengan suaminya.
Hal itu membuat sudah bibir Revan terangkat keatas.
Mereka mulai memasuki restoran itu, ramai seperti bayangan Revan tadi. Tidak satupun kursi yang kosong di sana, mereka pasti tidak akan bisa dapat tempat jika sebelumnya belum reservasi.
"Kak kita duduk di mana?" tanya Rara yang melihat kursi nampak sudah terisi semua.
"Tenanglah Kakek sudah memesankan untuk kita."
Mereka berjalan melewati keramaian, orang-orang yang sedang menghabiskan malam akhir pekan bersama pasangan dan keluarga. Ada juga yang nongkrong bersama teman-temannya.
Namun, Revan tidak peduli dengan semua itu. Sampai ia melihat mata para pria tertuju pada sang istri barulah ia mempercepat langkahnya.
Padahal mereka sudah punya pasangan tapi masih melihat milik orang lain. Geram Revan.
Rara yang memakai sepatu agak tinggi pasti lah sedikit kesusahan menyamai langkah suaminya. Untung saja tadi ia tidak memilih sepatu yang jauh lebih tinggi.
Saat sampai di lorong yang sepi barulah Revan memelankan langkah kakinya.
"Ada apa Kak?" tanya Rara, melihat suaminya terus menoleh ke belakang.
"Haa... tidak ada, hanya sedang mencari ruangan yang kakek pesan."
__ADS_1
Padahal ia sedang melihat apakah masih ada laki-laki di sekitar sana.
Setelah mengkonfirmasi pada penjaga ruang VVIP barulah mereka diantarkan ke ruangan itu.
Akhirnya Revan bisa bernafas lega, tidak ada lagi yang bisa memandangi istri cantiknya.
"Kak, apa disini kita hanya berdua," polosnya. Dia masih bingung dengan kehidupan orang kaya.
"Ini ruangan VVIP, jadi tidak akan ada yang bisa masuk selain yang sudah memesan."
"Ohh... jadi kenapa mereka tidak memesan ruangan seperti ini saja sehingga tidak berdesakan seperti itu." Menurut Rara saat ini, jika ada ruangan yang nyaman untuk apa berdesakan di luar.
"Tidak semua orang bisa masuk kesini, hanya orang yang menjadi anggota khusus baru bisa dan kita juga harus membayar untuk memesan tempat ini."
Bingung Revan harus bagaimana menjelaskan pada istrinya.
"Duduklah, kita nikmati makan malamnya." Revan berusaha mengalihkan istrinya dari hal-hal yang tidak perlu dipikirkan.
"Terimakasih," ujar Rara pada sang suami yang sudah menarikan kursi untuknya.
Revan pun duduk di hadapan istrinya.
Ruangan itu benar-benar ditata sedemikian rupa sehingga terkesan romantis. Lilin-lilin putih di atas meja dan beberapa di sudut ruangan. Lampu di buat temaram, tidak terlalu terang. Alunan musik klasik terdengar lirih namun tetap menambah kesyahduan malam itu.
Rara terbuai dalam balutan keromantisan yang disajikan untuk dirinya dan suaminya.
"Apa kau suka?" tanya Revan.
"Sangat suka Kak, ini sangat indah."
Rara tidak berhenti mengagumi keindahan dekorasi ruangan itu.
Revan juga tidak menyangka kakeknya akan memikirkan hal seperti mendekor makan malam romantis. Ia pikir hanya makan malam biasa, pantas saja Kakek menyuruh mereka memakai pakaian formal.
Seseorang mengetuk pintu, meminta ijin untuk masuk. Setelah mendapatkan izin dari tamunya barulah mereka masuk, mereka karena tidak hanya ada satu pelayan tapi beberapa berjalan berurutan. Masing-masing membawa nampan yang berisi berbagai macam makanan dan juga minuman.
"Silahkan menikmati makan malamnya Tuan dan Nona. Kami permisi."
Salah satu dari mereka berbicara mewakili semuanya. Membungkuk hormat sebelum akhirnya keluar meninggalkan sepasang suami-istri itu.
"Makanlah, kau mau yang mana?"
"Tidak Kak, biar aku saja."
Rara mencegah suaminya yang hendak melayani dirinya.
"Kau duduk saja, kali ini biar aku yang melayani mu."
Revan mengambilkan makanan yang mungkin Rara sukai karena semua yang ada di meja makan adalah makanan western.
__ADS_1
"Cicipi lah, kalau kau tidak suka aku akan minta untuk diganti."
Rara mulai menyantap makanan yang telah suaminya ambilkan, ia mengecap rasa yang baru di mulutnya. Rasanya mungkin sedikit aneh tapi masih bisa di terima oleh lidahnya. Walaupun sebenarnya ia tidak begitu suka dengan keju, karena makanan western identik dengan tambahan keju.
"Ini lumayan," komen Rara.
"Jika kau tidak suka bilang saja, tidak usah dipaksakan," ujar Revan tersenyum simpul.
Makanan itu bahkan belum berkurang sedikitpun, lalu jika menggantinya mau diapakan makanan yang sudah ada.
Rara bukan orang yang suka mubazir. Lebih baik ia mencobanya, sekalian belajar beradaptasi antara lidah dan berbagai macam makanan dari negara lain.
"Tidak Kak, ini saja. Aku akan mencoba semuanya, ingin tau seperti apa rasanya."
Revan terkekeh kecil mendengarnya.
"Jika ada makanan yang ingin kamu coba, katakan saja. Kita bisa pergi membelinya," ujarnya setelah terkekeh tadi.
"Apa ini steak, makanan yang sering aku lihat di drama-drama." Rara antusias ingin mencicipi makanan itu.
"Iya, kau mau."
Rara mengangguk, tidak sabar ia ingin merasakan makanan yang biasa di makan orang kaya itu. Begitulah anggapan orang mengenai steak. Potongan daging sapi tebal dan lebar, sudah pasti harganya mahal.
"Mau aku potongkan?"
"Tidak, biar aku sendiri saja." Rara benar-benar sudah ingin mempraktekkan adegan drama yang pernah ia tonton saat ada adegan makan malam seperti itu.
Sementara Revan, ia berdiri dan berjalan ke belakang istrinya.
Rara yang melihat itu tentu saja bingung, mau apa suaminya itu sudah berdiri di belakangnya.
Rara tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh tangannya, tidak hanya satu tapi kedua tangannya kini di genggam oleh suaminya.
"Aku akan mengajarimu," katanya.
Posisi itu membuat wajah keduanya berjarak sangat dekat, saling pandang sudah pasti terjadi seperti di drama-drama yang pernah Rara tonton.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1