
°°°
Umi, Abi dan kakek Tio sedang duduk di kursi yang ada di taman belakang saat ini.
Abi Aziz tidak berhenti berdecak kagum melihat hasil kebun kakek Tio. Tanamannya tumbuh subur, tidak kalah seperti di daerah pegunungan.
"Bagaimana bisa ada kebun yang sangat subur di tengah kota seperti ini."
Pandangan Abi terus tertuju pada sayuran dan buah-buahan yang sangat memanjakan mata.
"Subhanallah, benar kata Rara selama ini. Jika di rumah suaminya ia suka berkebun, awalnya kami tidak percaya tapi sekarang kami melihat dengan mata kami sendiri."
Umi yang selama ini tidak percaya pada cerita putrinya pun sama kagumnya.
Bagaimana tidak, tanaman sayuran dan buah-buahan benar-benar terawat. Tidak ada satu daun pun yang berlubang akibat di gigit ular. Buahnya pun besar dan super, sangat menggiurkan.
Padahal selama ini di desa, Abi dan Umi seringkali mengalami gagal panen akibat hama yang menyerang tanaman mereka.
Namun, sepertinya itu tidak berlaku di kebun milik kakek Tio. Bahkan Abi sampai ingin belajar dari kakek.
Kakek Tio pun berjanji akan menyuruh orang kepercayaannya yang merawat kebun miliknya itu untuk mengajari langsung orangtua Rara.
Abi dan Umi pasti tidak akan menyangka, jika orang yang kakek percaya untuk merawat kebun kecil miliknya itu adalah seorang sarjana pertanian dengan nilai terbaik di kampusnya. Terang saja kebunnya bisa subur begitu.
Rara membawakan teh dan cemilan untuk kakek dan orangtuanya yang sedang mengobrol di belakang. Dibantu para pelayan yang lain karena cukup banyak yang ia bawa.
"Kakek, Umi, Abi ini tehnya. Minumlah selagi masih hangat."
Rara sangat tau Abinya, kalau sudah mengobrol tentang tanaman atau binatang peliharaan pasti susah untuk berhenti.
"Terimakasih nak." Kakek Tio menyahut.
"Ayo nak Aziz dan nak Ani, kita minum dulu tehnya." Kemudian kakek mempersilahkan besannya untuk duduk.
"Ayo nak, kau juga duduk," perintahnya pada Rara.
Rara pun menurut ia duduk di samping umi nya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bermanja-manja pada umi.
"Jadi kalian akan pergi ke Jogja besok?" tanya kakek.
"Iya kek, kami ingin mengajak Rara untuk pergi bersama kami. Kakaknya pasti akan sangat senang melihat keluarganya hadir di acara wisudanya," jawab Abi.
Kakek nampak menimbang-nimbang ucapan Abi.
"Kakek setuju, kau harus hadir di sana besok tapi dengan suamimu juga."
__ADS_1
Abi nampak diam saja, ia tau jika putrinya saat ini sudah mempunyai suami. Tentu saja alangkah baiknya jika bisa pergi bersama, tapi Abi tidak yakin jika Revan mau pergi bersama.
"Apa kau sudah bilang pada suamimu, nak?" tanya umi pada putrinya. Ia paham dengan apa yang dipikirkan suaminya.
Rara gelagapan, ia belum sempat bilang tadi. Waktu itu dia sudah bilang tapi belum menanyakan lagi.
"Rara rasa kak Revan sibuk Kek, bukankah dia sudah mulai masuk ke kantor." Rara coba mencari alasan.
"Kau tenang saja, Kakek akan memberinya libur. Kalian juga belum pernah berbulan madu kan, tidak ada salahnya berjalan-jalan sebentar di Jogja."
"Tapi kak Revan..."
"Aku akan pergi bersama besok, Kek."
Revan muncul tiba-tiba dan memotong ucapan istrinya. Untunglah ia muncul tepat waktu.
Rara menatap suaminya penuh rasa syukur dan gembira.
Abi dan umi pun sama, mereka bersyukur karena rumah tangga si bungsu baik-baik saja.
"Kakek senang mendengarnya nak. Nanti kamu suruh Mike untuk memesan kamar hotel untuk kalian nanti di sana," perintah kakek pada cucunya.
"Ajak kakakmu juga untuk berlibur, kalian juga nak Aziz dan nak Ani," ujar kakek menatap ketiga orang dan anak itu secara bergantian.
"Kami tidak bisa pergi lama Kek, biar anak-anak saja."
"Siapa mereka nak?" tanya kakek Tio mengangkat kedua alisnya, sama halnya dengan Revan.
"Mereka kambing kesayangan Abi, Kek." Jawaban polos Rara sontak membuat semua orang tertawa.
"Benarkah Abi mu memberi mereka nama yang sangat bagus pada kambingnya?" Kakek masih tidak percaya.
"Iya Kek, Abi itu sayang sekali pada mereka. Aku bahkan sempat iri melihatnya." Rara melipat kedua tangannya.
Kakek terpingkal-pingkal mendengar cerita Rara tentang Abi dan kambingnya.
Sementara Revan tidak berhenti memandangi wajah istrinya, baru kali ini ia melihat sisi Rara yang seperti ini. Jika biasanya gadis itu akan terlihat dewasa dan pendiam tapi kali ini dia seperti seorang anak yang sedang ngambek.
Tidak menyangka jika dibalik besarnya rasa sabar dan kuatnya Rara. Di dalam hatinya ia masih sifat manja dan kekanak-kanakan, tapi itu justru membuatnya terlihat menggemaskan bagi Revan.
"Jadi besok kamu dan istrimu akan berlibur ke Jogja, nanti kamu suruh yang supir terbaik untuk mengantarkan Abi dan Umi mertuamu."
Kakek menjelaskan kesimpulannya.
"Tidak perlu repot-repot Kek, kami pulang dengan mobil yang kami bawa saja."
__ADS_1
"Tidak ada penolakan, mobilmu biar nanti ada supir yang mengantarkan ke rumah. Kalian pergi bersama dengan supir yang aku siapkan. Ke Jogja itu jauh, pasti akan sangat lelah jika menyetir sendiri di umurmu yang sekarang ini, nak Aziz."
"Kakek benar, Abi sebaiknya tidak menyetir sendiri. Aku juga mengkhawatirkan kesehatan Abi."
Bukan hanya Rara yang setuju, umi dan Revan pun menganggukkan kepalanya. Akan sangat berbahaya kalau sampai Abi kelelahan di tengah perjalanan.
"Baiklah." Akhirnya Abi menyerah, sebenarnya ia paling tidak suka merepotkan orang lain. Akan tetapi, niat baik kakek Tio ada baiknya juga. Ia tidak mau kalau sampai di hari bahagia putrinya malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Rara dan umi yang paling lega mendengarnya, karena biasanya Abi akan sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan saran orang lain.
Perbincangan hangat mereka tidak berakhir sampai di sana. Hingga matahari mulai menyembunyikan sinar jingganya, mereka masih asyik mengobrol.
"Sepertinya langit mulai gelap, sebaiknya kami pergi mencari penginapan," pamit Abi.
"Untuk apa kalian mencari penginapan?" tanya kakek Tio.
Abi dan umi saling pandang.
"Kami akan mencari tempat untuk menginap malam ini, sebelum besok paginya pergi ke Jogja Kek."
Umi mencoba menjelaskan, mereka sudah membicarakan itu saat di perjalanan menuju rumah menantunya. Abi tidak ingin merepotkan kakek Tio dan Revan jadilah memutuskan untuk menginap di hotel atau penginapan. Umi pun setuju, ia juga sama.
"Untuk apa aku membangun rumah sebesar ini dan ada kamar yang banyak di dalam, jika kerabatku pun tidak mau menginap di rumahku," ujar kakek Tio.
"Bukan begitu Kek, kami hanya tidak ingin merepotkan kalian." Umi merasa tidak enak.
"Kita ini sudah menjadi keluarga bahkan sebelum ada pernikahan diantara cucuku dan putri kalian, aku sedih sekali jika putra sahabatku tidak mau menginap di rumahku ini."
Abi dan Umi serba salah, tidak tau apa tetap akan menginap di luar atau tidak.
"Umi, Abi menginap lah di sini. Rara pasti akan sangat senang bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama kalian."
Revan bersuara.
Abi menatap putrinya, tatapan penuh harap dilihatnya dalam bola mata Rara.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...