
°°°
Sakka mengantarkan Lia hingga di depan kos-kosan nya. Walaupun sudah sering Lia mengingatkan jika tidak perlu sampai mengantarkannya tapi pria itu tetap bersikeras. Nanti saat sampai barulah Sakka akan pulang menggunakan taksi atau dijemput supirnya.
"Terimakasih," ujar Lia.
"Masuklah, aku akan menunggumu sampai kamu masuk." Tempat kos yang sepi di pinggiran kota membuat Sakka tidak tenang memikirkan gadis itu pulang sendiri. Kalau saja Lia mau menerima niat baiknya pasti Sakka sudah mencarikan tempat yang lebih baik.
"Kau juga hati-hati di jalan," ujar Lia sebelum ia masuk ke dalam gang. Gang yang dulunya gelap gulita tapi kini menjadi gang paling terang seantero Jakarta. Tentu itu adalah ide Sakka yang tidak ingin sang pujaan hati merasa ketakutan.
Sakka melihat Lia sampai benar-benar menghilang dibalik gerbang kos-kosannya. Bisa saja ia mengantarkannya sampai didepan pintu kos. Tapi ia tidak ingin nantinya warga sekitar mengecap Lia dengan lebel perempuan yang tidak baik.
Bukannya Sakka tidak pernah berusaha untuk mendekati Lia, tapi semuanya terasa sulit saat gadis itu sangatlah mandiri dan bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Sudah banyak usaha yang Sakka lakukan tapi sia-sia karena Lia selalu menolak kebaikannya dan seperti membuat pembatas di antara mereka.
Taksi yang Sakka pesan sudah datang dan ia segera pergi dari sana, sekali lagi dia tidak ingin membuat nama baik Lia menjadi buruk karenanya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, nama ayahnya tertera disana.
"Ayah... mau apa dia menelepon. Pasti mau marah-marah lagi." Rasanya enggan untuk mengangkat panggilan itu, karena setiap ayahnya telepon pasti yang dibahas hanya masalah Sakka yang terlalu boros, lalu menyuruhnya untuk datang ke perusahaan dan banyak lagi lainnya. Tentu saja tidak ada hal baik yang ayahnya bahas jika itu menyangkut Sakka.
Akhirnya Sakka kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Namun, beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering. Siapa lagi kalau bukan ayahnya.
Ada apa lagi si dengan orang tua satu ini, kesal Sakka yang biasa menyebut ayahnya orang tua.
Akhirnya dia mengangkat panggilan itu.
📞"Dasar bocah nakal, sedang apa kau kenapa tidak mengangkat telepon ku." Cecar sang ayah dengan nada tinggi.
Sontak Sakka pun menjauhkan ponselnya dari telinganya. Begitulah ayahnya yang sukanya marah jika bertemu ataupun telepon.
"Ada apa menelpon ku," tanya Sakka dengan datar.
📞"Apa perlu alasan untuk menelpon putra sendiri?"
Sakka memutar bola matanya jengah mendengar pernyataan ayahnya yang tidak masuk akal, karena biasanya dia akan mencarinya jika ada hal penting saja.
"Tidak perlu basa-basi, katakan saja," ujar Sakka dengan malas. Sikapnya pada sang ayah memang seperti itu, mungkin mereka lebih terlihat seperti teman jika dilihat.
📞"Dasar bocah berandal, pada ayahmu dingin begitu. Baiklah ayah tidak akan basa-basi lagi, cepat kau katakan siapa gadis itu."
__ADS_1
"Gadis yang mana?" tanya Sakka menyerngitkan dahinya. Siapakah gerangan gadis yang dimaksud ayahnya.
📞"Yang membuat kamu memutuskan para pacarmu, bawa dia ke rumah saat akhir pekan. Ayah ingin melihatnya. Ajak dia makan malam bersama."
Tut Tut Tut
Seenaknya saja sang ayah mematikan telepon padahal Sakka belum juga mengatakan apa-apa.
"Dasar pria tua, seenaknya sendiri. Tidak tau apa kalau aku saja masih di tahap berjuang. Bagaimana caranya aku mengajak Lia pulang ke rumah, apa dia mau?"
Sakka kesal pada ayahnya yang selalu mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya dulu padanya. Itulah sebabnya yang membuat dia lebih memilih tinggal di apartemennya, ketimbang di rumahnya yang besar.
,,,
Di kantor direktur utama perusahaan fresh grup.
Revan harus lembur lagi karena lagi-lagi assistennya meminta ijin. Ingin mengamuk rasanya, padahal ia sudah sangat ingin bertemu dengan sang istri yang baru semalam mereka memadu kasih. Jika mengingat itu rasanya dia ingin langsung melesat pulang.
"Kenapa dengan Mike yang suka sekali ijin belakang ini, kalau bukan kepercayaan kakek sudah aku ganti dengan yang baru," kesal Revan pada assistennya karena telah membuatnya harus lembur, terlebih si assisten itu sama sekali tidak memberi tau apa alasannya ijin. Hanya pada kakeknya sang assisten tunduk.
"Ehh tapi tidak mudah juga mencari orang yang setia seperti dia, kerjanya juga sangat bisa diandalkan. Baiklah karena dia sudah bekerja dengan baik aku tidak akan memecatnya."
"Akhirnya selesai juga." Revan tersenyum puas pada kerjaannya sendiri.
Aku akan segera pulang, katanya dalam hati sambil membayangkan senyum istrinya.
Setelah melewati jalanan yang cukup lengang. Akhirnya mobil yang Revan kendarai sampai di depan rumahnya.
Seperti biasa, rumah sepi dan remang jika sudah menjelang tengah malam. Revan langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, langkahnya semakin lebar, perasaannya ingin segera melihat wajah istrinya dan memeluk tubuh wanita itu sangatlah menggebu.
Ceklek
Walaupun Revan sangat bersemangat tapi tetap ia tidak ingin sampai mengganggu tidur istrinya kalau berisik. Sampai di kamar barulah ia melebarkan langkahnya dan mencari sosok yang ia rindukan.
"Sudah pulang."
Revan tersentak mendengar suara indah milik istrinya, ia kira sudah tidur tadi tapi ternyata wanita itu sedang duduk bersandar dan melipat kedua tangannya. Kenapa rasanya ada yang aneh?
"Kau belum tidur, apa kamu menungguku?" tanya Revan.
__ADS_1
Rara, wanita itu turun dari ranjang dan berjalan mendekati suaminya. Alangkah terkejutnya Revan saat melihat apa yang dikenakan istrinya saat ini. Apa dia sedang menggoda suaminya?
Glek
Bahkan Revan hanya bisa menelan salivanya berkali-kali, melihat kemolekan tubuh istrinya tentu saja ia sangat ingin melahap habis santapan lezat itu.
Sedangkan Rara dengan santainya bergerak membantu melepaskan dasi dan kancing kemejanya Revan.
"Iya, aku menunggu kakak," ujarnya masih dengan tangan yang membuka satu persatu kancing kemeja suaminya.
"Apa kau merindukanku?" tanya Revan seraya mengusap pipi istrinya. Kalau saja tidak ingin tubuhnya kotor pasti saat ini ia sudah mengungkung tubuh istrinya.
"Mandilah...," Rara memainkan jarinya di atas dada Revan yang kini terbuka. Entah apa yang sedang direncanakannya, apa ia memang berniat memancing suaminya. Kalau iya, dia sudah berhasil karena saat ini Revan sedang memejamkan matanya saat merasakan jari istrinya bermain di dadanya.
Tapi harapannya harus pupus saat disaat dirinya sudah mengeras. Sang istri berlalu begitu saja.
"Mandilah, sudah sangat malam. Jangan terlalu lama, nanti kakak sakit," ujar Rara tanpa rasa bersalah.
"Apa kau tau, apa yang barusan kamu lakukan itu sudah membangunkan sesuatu?" Revan mendekati istrinya yang tengah menyiapkan baju untuknya.
"Aku tidak tau," jawab Rara dengan polosnya.
Sontak Revan membalikan tubuh istrinya, hingga mereka saling berhadapan sekarang. Tidak perlu basa-basi, dia pun mendekatkan wajahnya hendak mendaratkan bibirnya. Namun, Rara menahan dadanya yang terbuka saat ini.
"Mandi dulu Kak, kau bau," elaknya seraya menutupi hidungnya.
Revan pun menciumi bau tubuhnya sendiri, apa benar aku bau.
to be continue...
°°°
...Aku nggak bisa bikin konflik yang berat ya guys, karena hidupku sudah cukup berat. 🤣🤣...
...Jadi kalau kalian cari cerita yang menantang dan penuh andrenalin, bukan disini tempatnya. 🙈🙈...
...Hanya ada kisah manis dan romantis ðŸ¤...
...Mengharu biru juga tidak ya kayaknya. Wkwkwk...
__ADS_1
...Maaf ya author curhat dikit, mungkin karena enggak ada itu semua jadi sepi pembaca yaðŸ˜...