Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
185. Obrolan Pasutri


__ADS_3

°°°


Malam harinya di dalam kamar.


Rara sedang bersandar pada dada bidang suaminya, dia kelelahan karena kalap hari ini. Tidak menyangka kalau belanja ternyata bisa sangat mempengaruhi mood seorang wanita. Pantas saja banyak wanita yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbelanja.


"Apa kamu senang hari ini?" tanya Revan yang sedang memeluk dan menciumi wangi rambut istrinya.


"Aku senang Kak, tapi aku minta maaf karena memakai uang yang kak Revan berikan padaku terlalu banyak." Ini pertama kalinya Rara menghabiskan uang sebanyak itu tentu ia merasa khawatir kalau suaminya akan marah.


"Kenapa harus minta maaf, uang itu adalah milikmu. Kamu bebas menggunakannya untuk apapun dan yang aku punya juga milikmu juga," ungkap Revan, dia masih sibuk menciumi rambut indah milik istrinya yang hanya diperlihatkan padanya seorang.


"Terimakasih Kak, tapi aku tidak boleh boros-boros lagi lain kali. Kasian kakak yang lelah bekerja siang dan malam, aku harus menghemat dan menabung untuk masa depan kita nanti," cicit Rara, tidak taukah dia kalau uang suaminya itu begitu berlimpah dan tidak akan habis dimakan tujuh turunan dan sepuluh tanjakan.


"Baiklah, semua terserah padamu sayang. Sekarang kau adalah admin dalam keluarga kita, kau bebas mengatur keuangan."


"Benarkah, aku jadi admin? Apa artinya aku juga boleh memegang kartu ATM kak Revan?" canda Rara, dia tidak sungguh-sungguh hanya sedang menggoda suaminya saja.


"Boleh, kartu ATM, kartu kredit dan semua yang ada di dompetku itu milikmu sayang...," ciuman itu kini berpindah ke pipi istrinya dan Rara pun merasakan geli karena bulu-bulu yang ada di dagu suaminya menusuk pipinya.


"Geli Kak...," protes Rara.


"Kenapa ini tidak di cukur, apa kak Revan mau memanjakan nya?" Rara mengusap rahang suaminya yang terasa kasar.


Revan mengangguk seraya berkata, "Ini akan memberikan sensasi yang lain saat kita sedang bercin ta, sayang," godanya.


"Ihh kenapa harus membahas tentang itu," desis Rara, pipinya sudah memerah mendengar pernyataan suaminya.

__ADS_1


"Oh iya, bagaimana keadaan assisten Mike dan kak Febby?" Rara cari aman dengan mengalihkan pembicaraan.


"Masih sama, tapi dibalik itu semua aku jadi melihat sosok Febby yang lain. Dia jadi lebih dewasa dengan banyak latihan bersabar setiap harinya, jauh berbeda dari Febby yang dulu. Saat Mike bangun nanti, dia pasti bangga pada Febby yang mau menunggunya." Tidak Revan pungkiri kalau dia mengagumi Febby yang sekarang.


"Kau benar kak, sekarang kak Febby jauh lebih dewasa. Tapi aku kasihan padanya kak, apa tidak ada cara agar assisten Mike cepat bangun. Apa tidak ada dokter yang bisa mengobatinya?" Entah bagaimana perasaan Febby, sebagai perempuan Rara bisa merasakan kesedihannya apalagi saat ini wanita itu sedang mengandung. Pasti tidak mudah menghadapi itu semua.


"Dokter sudah melakukan beberapa kali operasi dan tidak mungkin terus melakukan operasi karena akibatnya juga bisa jadi membahayakan kondisi Mike. Kita berdoa saja agar keajaiban datang pada mereka. Mungkin Allah sedang menguji mereka," terang Revan dan Rara pun mengangguk setuju.


"Sayang, apa kamu merindukan umi dan Abi?" tanya Revan tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba kak Revan menanyakan hal itu?" cukup terkejut Rara mendengar nya.


"Apa kamu tidak rindu pada mereka?"


"Tentu saja rindu Kak, apalagi saat jauh dengan kak Revan kemarin. Aku jadi teringat umi, Abi dan mbak Luna. Berandai-andai, kalau saja mereka ada disini pasti aku tidak akan terlalu kesepian," harap Rara. Dia menceritakan bagaimana tersiksanya saat jauh dengan sang suami.


"Maafkan aku, aku janji lain kali tidak akan meninggalkan mu selama itu. Aku akan usahakan tidak ada lagi masalah yang mengharuskan aku tinggal di tempat yang jauh dari rumah. Kalaupun diharuskan pergi, aku akan mengajakmu. Aku juga tidak mau jauh-jauh dari kamu seperti kemarin." Ya betapa tersiksanya Revan dan Mike saat mereka berada di luar kota tanpa pasangan.


"Iya sayang, kita bisa sekalian staycation di suatu tempat. Mengeksplor suatu tempat bersama. Sepertinya itu akan menyenangkan, Apalagi perusahaan memang berencana membangun hotel di berbagai destinasi wisata yang ada di Indonesia. Tempat-tempat yang indah tapi yang belum mempunyai fasilitas penginapan. Aku ingin membangun hotel di tempat-tempat seperti itu."


"Bagaimana pun di Indonesia banyak sekali tempat yang indah tapi karena kurangnya fasilitas penginapan jadilah jarang orang dari luar kota atau pulau yang berkunjung."


Revan menjelaskan rencana proyeknya untuk kedepannya. Dan Rara tampak sangat tertarik dengan rencananya yang menurutnya sangat brilian.


"Hebat sekali Kak, aku sangat mendukung rencana kakak. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar," harap Rara agar kedepannya tidak ada lagi masalah yang terlalu berat.


"Oh iya, jadi lupa aku mau ngomong apa. Bagaimana kalau semua masalah ini sudah selesai, kita berlibur ke rumah abi dan umi. Apa kamu mau?" tanya Revan.

__ADS_1


"Benarkah, kakak mau kita berlibur di rumah Abi?" tanya Rara memastikan apa yang ia dengar tidaklah salah dan matanya sampai berkaca-kaca saat sang suami mengangguk kan kepalanya. "Aku mau Kak, aku mau...," katanya.


Revan membawa sang istri dalam pelukannya, merasa sangat bersalah karena tidak pernah mengajaknya untuk pergi mengunjungi orangtuanya.


"Maaf ya, baru sekarang aku mengajakmu mengunjungi mereka. Aku janji setelah semua masalah ini beres kita akan berlibur sepuasnya disana. Aku juga ingin mengenal bagaimana tempat tinggal istriku dulu, bagaimana saat istriku ini masih kecil hingga tumbuh secantik ini."


"Nanti aku akan membawa kak Revan berkeliling di desaku, kak Revan pasti betah disana. Walaupun tidak ada fasilitas seperti di kota, tapi semuanya juga ada disana." Rara sangat antusias menceritakan tempat tinggalnya. Hal yang tidak pernah ia ceritakan pada suaminya. Membuat Revan tersadar kalau selama ini ternyata dia belum cukup banyak mengenal istrinya. Padahal Rara pasti sudah mengetahui apapun mengenai dirinya.


"Tapi sebelum itu kita harus berusaha keras agar saat pulang ke rumah Abi nanti kita membawakan kado yang istimewa untuk mereka," ujar Revan seraya mengedipkan matanya.


"Kado apa Kak? Mereka tidak butuh apapun kalau soal barang atau yang lainnya, bagi Abi dan umi melihat keluarga bisa berkumpul sudah sangat bahagia," ungkap Rara.


"Memang, tapi ada hal yang bisa membuat mereka akan lebih bahagia sayang," bisik Revan.


"Apa itu kak, kalau memang mereka bisa bahagia aku juga mau melakukannya." Tentu saja sebagai anak Rara sangat ingin membuat orangtuanya bahagia.


"Kamu mau tau, sini lebih dekat lagi," tutur Revan.


Rara yang polos pun semakin merapatkan tubuhnya hingga mereka sangat dekat sekarang.


"Kita harus segera memberikan mereka cucu," ujar Revan tanpa menunggu jawaban dari istrinya dia sudah menautkan bibir mereka. Malam ini dia akan bercintaaahh dengan istrinya sampai lelah.


to be continue...


°°°


Buat semua pasangan di luar sana, sempatkan lah sedikit waktu kalian untuk mengobrol dari hati ke hati bersama pasangan. Selain agar kita bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan dan tau apa yang pasangan kita rasakan. Hal itu juga bisa mendekatkan kita dengan pasangan kita. Assyiiikkk🤭🤭🤭

__ADS_1


Semangat semua.😍


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2