Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
81. Saling Bertukar Rahasia


__ADS_3

°°°


"Kamu beneran bahagia, Li?" tanya Rara.


"Iya Ra, aku senang dia tidak lagi dekat-dekat. Tidak mengganggu dan aku bis hidup tenang seperti tidak pernah mengenalnya." Walaupun Lia tidak yakin dengan perkataannya sendiri sebenarnya.


"Cerita aja Li, siapa tau aku bisa memberi masukan." Kekeuh Rara dengan praduga nya.


"Aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari kamu sepertinya." Lia menyerah juga akhirnya.


Hal itu membuat Rara senang karena temannya mau terbuka padanya.


"Begini Ra, tidak tau kenapa saat dia mengatakan itu kemudian berbalik dan pergi. Hati aku mengatakan, bukan seperti itu bukan itu maksudku. Aneh kan?" jelas Lia tentang perasaannya.


Rara tidak langsung menjawab, ia memikirkan apa arti dari perasaannya. Ia juga tidak yakin apa tebakannya benar atau tidak.


"Mungkin karena kamu sudah mulai terbiasa dengan keberadaannya, secara tidak langsung Sakka sudah meninggalkan bekas dalam ingatanmu. Lalu mengenai kamu kesal dan marah padanya, itu menurutku karena kamu selalu mengingat keburukannya."


"Itulah yang membuat tumbuh rasa tidak suka atau benci, tapi tanpa kamu sadari rasa itu malah membuat kamu terus memikirkannya dan lambat laun berubah. Aku tidak tau apakah perasaan kamu itu sebatas terbiasa atau mulai suka. Yang tau kamu sendiri Lia."


Rara mencoba memberikan pengertian sesuai apa yang ia pahami, karena sebenarnya yang lebih tau adalah Lia sendiri.


"Aku... juga tidak tau Ra," ragu Lia.


"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja kamu pahami sebenarnya apa yang kamu rasakan. Mungkin juga Sakka sudah benar-benar berubah. Biar kalian pahami perasaan kalian sendiri," ujar Rara lagi.


Dia juga tidak mau jika temannya dekat dengan pria yang tidak benar, sebaiknya memang mereka saling introspeksi diri. Memperbaiki diri sendiri dan jika nanti Tuhan mendekatkan kembali, mereka sudah dalam keadaan yang lebih baik.


"Terimakasih Ra, maaf karena aku tidak mendengarkan mu. Seharusnya aku tidak memendam perasaan benci padanya. Padahal dia tidak melakukan apapun padaku." Sesal Lia.


"Tidak ada yang perlu disesali Li, kita memang tidak bisa mencegah perasaan tumbuh di hati kita. Tinggal bagaimana kita mengaturnya agar tidak berlebihan dan pas."


Tiba-tiba saja Lia menghambur ke pelukan temannya. Rasanya lega setelah bercerita, beban dalam hatinya sedikit berkurang. Bersyukur sekali mempunyai teman yang mau mendengarkan keluh kesahnya, bukan hanya mau bahagia saja.

__ADS_1


"Sekarang giliran kamu, Ra." Lia menyipitkan matanya.


"Giliran apa Li," ujar Rara pura-pura lupa.


Sontak Lia menyerang temannya itu dengan menggelitiknya. Tawa mereka memenuhi ruangan. Dua gadis muda yang sama-sama dilanda jatuh cinta. Namun, belum mereka sadari artinya.


"Stop, stop. Aku nyerah Li." Sudut mata Rara sampai berair karena geli.


"Cepat cerita Ra, aku sudah sangat penasaran tau dari tadi." Lia yang tidak sabaran.


"Tapi kamu jangan marah ya," pinta Rara yang sedikit khawatir jika temannya akan mengamuk karena tidak jujur dari awal mengenai statusnya.


"Kenapa aku harus marah, memang apa rahasianya?" Jiwa penasaran Lia semakin meronta, tapi walaupun begitu dia tidak suka bergosip. Apa yang ia ketahui akan disimpan dengan baik, seperti kelakuan Febby misalnya. Walaupun ia tau seperti apa wanita itu tapi tidak memberitahu yang lain.


Rara berdiri dan berjalan menuju sisi ranjang, lalu mengambil sesuatu di atas nakas.


"Ini lihat sendiri," ujarnya seraya menyerahkan bingkai foto dirinya dan Revan saat berlangsungnya akad nikah.


"Ini beneran kamu Ra dan ini...." Tatap Lia mencari jawaban.


Satu anggukan kecil dari Rara menjawab semuanya.


"Seperti yang kamu pikirkan."


"Tapi sejak kapan dan kenapa kamu menutupinya dari aku dan semua orang. Lalu kamu bahkan membiarkan suamimu berpacaran dengan wanita lain. Aku sama sekali tidak bisa berkata-kata lagi Ra. Ini sangat mengejutkan."


Wajar jika Lia bersikap seperti itu, karena selama ini mereka berdua cukup dekat. Ada sedikit rasa kecewa, memang itu bukan urusannya dan itu pilihan Rara sendiri.


Namun, sebagai teman Lia merasa Rara tidak benar-benar menganggapnya teman selama ini.


"Maafkan aku, karena sudah menutupinya darimu. Tapi itu semua terjadi begitu cepat bagiku, aku juga tidak punya pilihan selain menutupinya dari orang lain." Rara sangat merasa bersalah.


"Walaupun aku sedikit kecewa tapi aku tidak menyalakan mu, Ra. Mungkin kamu punya alasan sendiri kenapa melakukan hal itu dan kita juga belum terlalu lama saling kenal." Dilihat dari raut wajah Rara yang sendu, Lia rasa dia punya kesulitan sendiri. Ia juga tidak bisa menyalahkan begitu saja tanpa mendengar alasannya.

__ADS_1


"Terimakasih Li." Rara terharu mendengar ucapan temannya. Tidak menyangka dia akan sepengertian itu.


"Tapi kenapa aku juga tidak mendengar kak Revan sudah berganti status, dia juga masih berpacaran dengan Febby. Apa yang terjadi dengan pernikahan kalian, apa mungkin kalian dijodohkan?" tebak Lia asal, tidak disangka tebakannya ternyata benar.


"Kau benar kami menikah karena perjodohan." Rara tertunduk lesu.


"Jadi benar? Pasti kamu tidak mudah melewati semua ini kan. Ya ampun Rara, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perjalanan pernikahan kalian." Banyak prasangka Lia tentang perjalanan pernikahan temannya, ia mengira pasti tidaklah mudah.


Rara tersenyum mendengarnya, memang benar apa yang dikatakan temannya itu. Sangat tidak mudah pada awalnya.


"Kamu benar, ya mungkin kamu sudah tau salah satunya. Saat menikah, kami bahkan belum pernah bertemu. Sampai aku tau kenyataan jika kak Revan masih mempunyai kekasih." Kenyataan yang berhasil menggoreskan luka di hati Rara untuk pertama kalinya.


"Kenapa kamu tidak menolak perjodohan itu, Ra?" tanya Lia.


"Awalnya aku menolak karena aku bahkan masih sekolah SMA saat itu, tapi setelah berdoa dan berserah diri kepada Allah. Aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini. Aku yakin jika sesuatu yang didasari karena Allah akan indah pada waktunya."


"Rara, kamu hebat sekali bisa bersabar saat suamimu bersama wanita lain. Kalau aku pasti sudah aku marahin itu si pelakor, trus aku hancurin wajahnya biar kapok...."


Rara tertawa melihat kekesalan temannya pada wanita itu, padahal yang mengalami itu semua bukanlah dirinya. Tapi memang benar, kebanyakan wanita bila dikhianati pasti akan mengambil sikap seperti yang Lia contohkan.


Entah terbuat dari apa hati Rara sampai ia tidak melakukan apapun untuk memisahkan suaminya dengan Febby. Namun, siapa sangka jika kesabarannya berbuah manis. Saat ini ia merasakan betapa dicintai suaminya tanpa ia minta.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2