
°°°
Saat ini Lia sudah berada dalam satu mobil bersama Sakka. Ya Sakka lah yang telah menyelamatkan Lia dari pernikahan itu, kalau tidak pasti saat ini Lia sudah jadi istri ke empat dari juragan beras itu. Entah bagaimana nasibnya kalau sampai itu terjadi.
"Apa kamu tidak apa-apa, apa mereka melukaimu?" tanya Sakka seraya menyelipkan rambut Lia yang sudah sedikit berantakan.
"Aku baik-baik saja, kamu kenapa ada disini?" tanya Lia yang sebenarnya sudah gatal ingin bertanya sejak tadi.
"Aku akan menjelaskannya padamu, tapi kamu ganti baju dulu sebelum itu. Kebaya ini memang sangat cocok dan terlihat cantik di badanmu tapi aku tidak mau kamu menggunakan kebaya pemberian ban*dot tua itu."
Lia pun mengganti pakaiannya dengan dress yang sudah Sakka siapkan. Setelah selesai mengganti pakaiannya, sesuai janjinya tadi Sakka menceritakan kenapa dia ada di sana.
"Untunglah aku tidak terlambat menemukanmu, kalau sampai terlambat aku akan menyesal seumur hidup," ujar Sakka yang membayangkan bagaimana jadinya kalau Lia sampai menikah dengan pria tua itu.
"Memang kenapa kalau aku menikah dengan laki-laki itu?" tanya Lia.
"Apakah belum cukup jelas? Aku mencintaimu Lia, aku tidak akan rela melihatmu menikah dengan orang lain."
Lia tau akan perasaan Sakka padanya tapi tidak menyangka kalau pria itu sungguh-sungguh dengan perasaannya. Kini Lia tau kalau Sakka benar-benar mencintainya, buktinya dia sampai menyusulnya ke kampung dan menyelesaikan masalah Lia.
"Terimakasih... sudah mau membantu anak-anak panti," ujar Lia.
"Apa hanya terimakasih?"
"Kau mau apa, katakan saja. Kalau aku bisa memberikannya, akan aku berikan."
"Aku mau kau menjadi istriku. Jadilah istriku Lia, menikahlah denganku." Sakka berlutut didepan Lia dan di saksikan anak-anak panti dan pengurus panti yang berteriak agar Lia menerima lamaran itu.
"Terima, terima, terima." Teriak mereka.
"Sakka, bangunlah jangan seperti ini." Lia mencoba menyuruh Sakka untuk bangun, dia malu banyak yang melihat mereka.
"Tidak sebelum kamu menjawab, aku akan tetap seperti ini." Sakka mengeluarkan sebuah cincin dan tanpa menunggu lama dia memakai kan cincin itu di jari manis Lia.
"Sakka... kau?" Lia tersentak kaget saat tau-tau sudah ada cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Sekarang kita sudah bertunangan, lihatlah aku juga punya cincin yang sama. Tidak ada lagi laki-laki yang berani merebutmu dariku."
__ADS_1
Antara kaget dan juga bahagia, kaget karena tidak menyangka pria itu akan melakukan hal itu dengan cepat. Bahagia karena dia juga menyukai Sakka dan masalah panti asuhan juga sudah selesai bahkan ayahnya Sakka berniat membangun kembali tempat itu menjadi lebih layak.
Flashback end
"Begitulah Ra, itu lah kenapa aku saat ini bersama Sakka." Terang Lia.
"Jadi kalian sudah bertunangan? Kalian jahat sekali tidak memberitahu ku." Rara pura-pura marah pada mereka.
"Maaf Ra, kejadian nya begitu cepat dan aku sendiri masih tidak percaya. Kamu salahkan saja dia," Lia menunjuk Sakka.
"Kenapa aku sayang, aku kan hanya tidak mau kehilangan kamu lagi. Kamu juga senang kan?"
"siapa juga yang senang," tukas Lia.
"Apa kalian juga akan segera menikah?" tanya Rara.
"Tidak..." Lia.
"Iya.." Sakka.
"Ishh kalian ini menggemaskan sekali," ujar Rara menatap kedua temannya.
"Syukurlah, niat baik memang sebaiknya disegerakan. Aku akan mendukung apapun keputusan kalian." Sebagai teman tentu Rara akan mendukung apa yang membuat temannya bahagia dan Sakka juga laki-laki yang tepat untuk menjaga Lia. Terlepas dari masa lalu nya yang kelam, semua itu tidak masalah asalkan dia tetap berusaha memperbaiki diri.
Suara dering ponsel Rara menghentikan mereka bertiga yang sedang mengobrol.
"Ehh tunggu sebentar, aku angkat telepon dulu," ujar Rara lalu dia menyingkir dari sana mencari tempat yang lebih sepi untuk mengangkat panggilan dari suaminya.
"Assalamualaikum Kak," ujar Rara.
📞"Wa'alaikumsalam, apa kau sudah selesai atau masih lama di luar?"
Dari pertanyaan suaminya, Rara tau kalau saat ini suaminya ingin ia segera pulang dan Rara juga sudar kalau ia sudah pergi terlalu lama.
"Aku akan segera pulang Kak, Lia juga sudah selesai menceritakan semuanya. Jadi aku akan pulang saja dari pada menjadi obat nyamuk disini," ujar Rara.
Setelah selesai berbicara dengan suaminya, Rara kembali ke kursinya dan berpamitan pada Lia dan Sakka yang masih asik disana.
__ADS_1
"Aku pulang dulu Li, terimakasih juga traktirannya. Assalamualaikum...," Rara mengambil tasnya kemudian pergi dari sana.
"Wa'alaikumsalam, ehh Ra kok aku di tinggal," lirih Lia. Sejujurnya dia masih canggung kalau berduaan dengan Sakka, meski mereka sudah bertunangan.
"Kamu tidak sendiri, kan ada aku. Sekarang kita cari baju untuk di pakai kamu malam ini, ayah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mu." Sakka meraih tangan Lia dan membawanya keluar dari restoran itu setelah membayar makan siangnya tentunya.
Kebetulan restoran tadi ada di dekat mall jadi mereka hanya perlu jalan kaki sedikit untuk kesana.
"Biar aku yang pilihkan." Lia menurut saat Sakka menyuruhnya mencoba beberapa gaun, barulah gaun ke empat Sakka menganggukkan kepalanya. Padahal menurut Lia gaun yang pertama sampai ke tiga juga tidak ada masalah, tapi ya sudahlah dia menurut saja.
Setelah selesai memilih gaun, Sakka mengantarkan Lia pulang ke apartemennya. Bukan apartemen yang dulu ia biasa gunakan untuk bersenang-senang, tapi apartemen yang lain untuk tempat tinggal kekasihnya.
"Beristirahatlah, nanti malam aku jemput," ujar Sakka setelah meletakkan barang belanjaan yang tadi dibeli mereka.
Lia tampak diam dan memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Sakka yang sudah berdiri di depan Lia saat ini.
"Itu... aku agak takut nanti bagaimana kalau paman tidak menyukai ku," ujar Lia, ternyata ia takut kalau ayahnya Sakka tidak menerimanya.
"Jadi kamu memikirkan hal itu sejak tadi," Sakka terkekeh.
"Ihh kenapa kamu tertawa, apa kamu tidak takut kalau paman tidak menyukai ku. Kalau beliau menyuruh kita putus bagaimana, lalu memberiku uang untuk meninggalkan mu?"
"Kamu itu sepertinya terlalu banyak membaca novel, ayah tidak seperti sayang. Dia justru sangat ingin bertemu dengan mu dan tidak sabar menjadikanmu menantunya." Sakka menggoda Lia.
"Aku serius Sakka..."
Sakka menangkup wajah Lia agar menatapnya, "Aku juga serius Lia sayang, ayahku bukannya menyuruh mu pergi tapi menyuruh kita segera menikah. Percayalah, jangan berpikir macam-macam lagi."
Lia menganggukkan kepalanya dan dia sedikit merasa lega sekarang. Walaupun masih sedikit ragu pada perkataan Sakka.
to be continue...
°°°
Untunglah Sakka gercep, kalau tidak Lia nikah sama pak juragan🤭
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍😍
Gomawo ❤️❤️