Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
66. Pupusnya Harapan Kakek


__ADS_3

°°°


Pada akhirnya Rara tidak jadi menjelaskan pada bi Mur. Ia tidak mungkin cerita jika mereka belum melakukan hubungan suami-istri, maka dari itu tidak mungkin ada janin yang tumbuh di rahim Rara.


Saat ini kakek dan yang lain sudah menunggu didepan pintu, menunggu dokter memeriksa keadaan Rara.


Sementara Revan berada di dalam menemani istrinya yang sedang diperiksa. Dia harap-harap cemas memikirkan perasaan kakeknya jika beliau tau yang sebenarnya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Revan sedikit khawatir karena wajah istrinya masih saja pucat.


Dokter itu nampak mengulum senyum setelah selesai memeriksa sang cucu menantu keluarga Herwaman.


"Sepertinya Nona belum isi Tuan, dia hanya mual dan lemas akibat terlalu banyak mengeluarkan cairan. Nanti saya resepkan obat pereda mual dan vitamin."


Revan sudah menduga itu.


"Maafkan kakek saya, Dok. Saya sudah mencoba memberitahu nya tapi beliau tidak percaya dan bersikeras mengatakan istri saya hamil," ujar Revan.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya paham bagaimana perasaan beliau yang ingin segera menimang cicit. Itu tandanya kalian harus berusaha lebih keras lagi."


Perkataan dokter Gunawan membuat sepasang suami istri itu salah tingkah.


Aku sedang berusaha, Dok. Sebelum itu aku harus mengambil hatinya terlebih dahulu. Revan menatap istrinya yang sedang malu-malu.


"Mari saya antar, Dok. Terimakasih Tuan. Saya permisi Nona, semoga anda cepat sembuh dan segera membuatkan cicit untuk tuan besar," seloroh dokter itu lagi membuat Rara tersenyum malu.


"Terimakasih Dok," ujar Rara.


"Beristirahatlah, aku akan mengantarkan dokter Gunawan keluar."


Cup


Revan mendaratkan kecupan manis di kening sang istri. Pipi Rara sudah semerah tomat saat ini.


Kakek dan yang lainnya langsung mendekat saat melihat dokter Gunawan keluar dari kamar cucunya.


"Bagaimana keadaan cicit saya, Dok?" tanya kakek dengan antusias.


Sementara Revan menghela nafasnya.


"Silahkan dokter saja yang mengatakan pada semua orang, jika aku yang mengatakannya tidak ada yang percaya," ujar Revan yang tau arti tatapan mata dokter itu.


"Apa ada sesuatu yang mengkhawatirkan, mereka baik-baik saja kan, Dok?" Kakek Tio tidak sabar mendengarnya.


"Begini Tuan, berdasarkan pemeriksaan tadi saya pastikan jika nona tidak sedang mengandung. Nona hanya mabuk kendaraan yang mengakibatkan mual dan pusing. Beristirahat dan minum vitamin bisa memulihkan kondisinya."


Penjelasan sang dokter memudarkan senyum yang ada di wajah kakek.

__ADS_1


"Mungkin belum rejekinya Tuan, pernikahan mereka baru seumur jagung. Masih banyak waktu untuk memiliki bayi."


Dokter Gunawan mencoba memberikan semangat pada kakek.


"Dokter Gunawan benar Kek, Rara juga masih sangat muda. Bagaimana jika dia belum siap memiliki bayi."


Revan sedang berusaha mencari cara agar kakeknya tidak lagi membahas masalah bayi. Bukan ia tidak mau, tapi ia tidak yakin bisa memberinya dalam waktu dekat.


"Kalian memang masih muda tapi kakek yang sudah terlalu tua, entah masih bisa melihat anak kalian lahir kedua atau tidak jika terlalu lama menunggu," lirih kakek, raut wajahnya dipenuhi oleh kekecewaan yang begitu besar.


Kakek pun membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan mereka yang termenung.


Sebagai cucu Revan bisa merasakan kesedihan kakeknya dan juga rasa kecewanya. Ia merasa sangat bersalah karena dialah penyebab semua itu.


Kakek, maafkan aku.


Setelah itu, bi Mur mengantarkan dokter sampai depan. Sementara pak Ahmad menemani kakek Tio.


Revan pun pergi menyusul kakeknya, ia ingin meminta maaf karena ucapannya mungkin sudah menyinggung perasaan beliau. Sekaligus untuk meminta pengertian agar kakeknya tidak terus mendesak mereka untuk segera memiliki bayi.


Revan menghela nafasnya berkali-kali saat sudah berada di depan pintu kamar kakeknya. Mengatur lagi kata-katanya agar sang kakek mau mengerti. Ia tidak menyalahkan kakek dan ia juga mengerti betapa kesepiannya kakek selama ini.


Setelah merasa cukup berani akhirnya Revan mengetuk pintu itu.


Tok, tok, tok.


"Kakek, apa aku boleh masuk?" tanya Revan.


"Silahkan masuk Tuan." Pak Ahmad mempersilahkan Revan untuk masuk kedalam.


"Apa kakek mengatakan sesuatu padamu Pak Tua?" tanya Revan memastikan.


"Tuan besar hanya mengatakan jika beliau sangat ingin segera melihat anda memiliki anak," ujar pak Ahmad seraya tersenyum.


Setelah mendengar hal itu Revan pun masuk kedalam kamar kakeknya. Ternyata sang kakek sedang berada diatas ranjangnya, duduk dan bersandar seraya membaca dokumen yang Revan tebak mungkin mengenai pekerjaan.


"Kakek," ujar Revan seraya berjalan mendekat.


"Hmm...." Kakek enggan menoleh.


"Maafkan aku karena belum bisa memberikan apa yang kakek minta. Kami belum lama menikah dan awalnya pun tidak saling mengenal. Jadi bisakah kakek memberikan kami waktu, kasihan juga Rara jika kakek terus menanyakan hal itu padanya."


Revan berharap kakeknya mau mengerti sedikit.


Sementara kakek masih diam saja tidak berkomentar apa-apa setelah mendengar ucapan cucunya. Hal itu pun membuat Revan gusar.


"Kakek," panggil Revan.

__ADS_1


"Hmmm..." Masih sama seperti tadi.


"Kakek, tolong beri aku waktu sedikit lagi sampai Rara yakin padaku karena aku sepertinya sudah jatuh cinta padanya."


Tidak bohong, Revan berkata yang sejujurnya. Meski ia tidak tau apa itu cinta tapi hatinya mengatakan jika ia sudah jatuh cinta pada sang istri.


Akhirnya kakek Tio mengangkat kepalanya dan menatap wajah cucunya.


"Duduklah," perintahnya pada Revan.


Revan pun duduk di bibir ranjang menghadap sang kakek.


"Ini salah kakek yang menikahkan kalian secara mendadak dan tidak memperkenalkan kalian terlebih dahulu. Kakek mengerti jika kalian masih harus saling mengenal tapi kakek harap kamu tidak membuang waktu untuk mengurusi hal yang tidak perlu kamu urusi."


"Rara, gadis yang sangat baik dan juga cantik. Jika kamu tidak secepatnya membuatnya jatuh cinta padamu, jangan sampai ada lelaki lain yang membuatnya nyaman."


Kakek seperti tau apa yang selama ini Revan lakukan dan sekarang sedang memperingatkan cucunya itu.


Revan pun tertegun dan berpikir apa kakeknya tau.


Kakek memang tau karena selama ini ia menyuruh orang untuk melindungi sekaligus mengawasi cucunya.


"Kenapa kamu melamun, sudah sana temani istrimu. Kakek mau istirahat," usir kakek.


"Kakek sudah tidak marah?" Alis Revan terangkat.


"Tentu saja masih, kakek masih marah padamu. Bagaimana bisa keturunan keluarga Herwaman tidak bisa membuat cucu dengan cepat. Padahal dulu kakek, setelah menikah langsung jadi," tukas Kakek Tio.


Revan pun melongo mendengarnya, apa maksud kakek meragukan kemampuannya.


"Aku akan buktikan pada kakek jika aku juga hebat dalam urusan membuat anak," ujar Revan tanpa ia sadari.


"Bagus, itu baru cucu kakek. Coba buktikan jika kamu hebat dan jangan mengecewakan kakek lagi." Kakek bersemangat.


"Kakek tunggu saja, tidak lama lagi kakek akan mempunyai cicit." Revan dengan bangganya.


Kakek pun menepuk pundak cucunya.


"Kakek nantikan hari itu tiba."


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2