
...Minta votenya dong yang masih ada sisa-sisa vote...
...Wo ia ni...
°°°
Paginya, hari ini ada yang sedikit berbeda dari biasanya karena Rara sedikit kesiangan. Suara adzan subuh sampai membangunkannya, padahal biasanya dia sudah bangun lebih dulu.
Mungkin karena pelukan sang suami yang membuatnya begitu merasa nyaman, sampai dirinya tidak ingin membuka matanya. Kehangatan dan kenyamanan seolah-olah telah membelenggu pikirannya.
"Sudah adzan subuh, tidak biasanya aku baru bangun." Heran Rara.
Ia pun segera menyingkirkan tangan suaminya perlahan agar tidak mengganggu tidurnya. Mungkin ada baiknya bila Rara mengajak Revan untuk sholat berjamaah. Sayangnya, dia belum cukup berani, ia hanya terus berdoa agar suatu saat suaminya itu mau menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Masih begitu pagi, kau mau kemana?" suara khas bangun tidur Revan mengagetkan Rara, kemudian pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.
Ternyata gerakan kecil Rara telah membangunkan tidur nyenyak suaminya.
"Aku mau sholat subuh Kak, eh Suamiku." Tidak ingin mendapatkan hukuman di pagi buta Rara segera membenarkan panggilannya pada sang suami. Bukan tidak suka mendapat ciuman, tapi akan terlalu lama jika harus ada adegan ciuman segala. Sedangkan adzan subuh sudah lewat sejak tadi dan Rara tidak mau ia melewatkan waktu sholatnya.
Sementara Revan mengulum senyum, hatinya berbunga-bunga setelah pagi ini ia mendengar panggilan sayang dari istrinya. Lelaki itupun segera menarik tangannya agar istrinya bisa segera melaksanakan sholat. Dirinya sudah tidak melakukan kewajibannya dan tidak ingin sang istri juga melakukan hal yang sama.
Revan sadar sebagai suami seharusnya ia menjadi contoh dan imam yang baik untuk istrinya. Tapi hatinya belum tergerak untuk melakukannya. Pelan-pelan nanti ia akan belajar menunaikan ibadah sholat lima waktu kembali.
Setelah Revan menyingkirkan tangannya, Rara segera pergi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat.
Setelah sholat, tidak lupa ia mengucap syukur pada Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia, buah dari kesabarannya akhirnya berbuah manis.
Suaminya sudah menerimanya sebagai seorang istri. Bahkan Revan telah mengungkapkan perasaannya pada Rara. Sungguh hal yang tidak pernah gadis itu duga. Mendapatkan cinta dari suaminya dalam waktu yang begitu singkat.
Hubungan mereka juga sudah semakin dekat. Lagi-lagi Rara teringat kejadian semalam, membuatnya menutupi wajahnya karena malu.
"Astaghfirullah... maafkan aku ya Allah, karena sudah memikirkan hal seperti itu."
Setelah menyelesaikan kewajibannya Rara duduk di tepi ranjang, ia bingung karena tubuhnya masih sedikit lemas. Ia merasa tidak enak karena sudah beberapa hari ini tidak menyiapkan sarapan untuk suami dan kakeknya.
__ADS_1
Apa aku turun saja ya, kak Revan tidak akan marah kan jika aku memasak.
Lalu Rara melihat wajah suaminya yang masih tertidur pulas.
Sepertinya tidak apa-apa kalau cuma masak, nanti sebelum kak Revan bangun aku akan kembali ke kamar. Ya seperti itu saja.
Kemudian Rara melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Pelan-pelan ia berjalan, sesekali juga berpegangan pada dinding dan yang ada di sekitarnya.
Kali ini Rara menggunakan lift untuk turun.
Sampai di dapur, bi Mur dan pelayan lainnya dikagetkan dengan kedatangan majikannya yang sedang sakit.
"Non Rara kenapa turun, apa Nona butuh sesuatu?" tanya bi Mur yang terlihat khawatir.
"Tidak bi, aku ingin melihat kalian masak apa buat sarapan nanti." Rara ingin memasak tapi sepertinya kondisi tubuhnya belum memungkinkan. Akhirnya ia memilih untuk melihat saja.
"Kami masak sup daging merah Non. Apa ada yang Nona inginkan, biar nanti kami buatkan," ujar bi Mur.
"Bisa tolong buatkan bubur kacang hijau Bi, aku ingin makan itu untuk sarapan nanti." Tiba-tiba Rara ingin memakan itu, atau sebenarnya ia rindu masakan buatan uminya.
"Tentu Non, nanti akan kami buatkan. Apa ada lagi yang lainnya?" Bi Mur kembali memberikan tawaran.
Setelah itu Rara memutuskan untuk kembali ke kamar, tapi baru saja ia meninggalkan dapur. Seseorang menatapnya dengan tatapan tajam. Siapa lagi jika bukan Revan, ia bahkan melipat kedua tangannya.
"Dari mana kamu?" tanyanya dingin.
Rara menelan ludahnya sendiri, ia sudah ketahuan keluar dari kamar pasti saat ini suaminya akan marah.
"Aku dari dapur, Suamiku." Semoga saja panggilan baru itu bisa meredam kemarahan pria itu, harap Rara.
"Hemmm..." Revan berdehem untuk menetralkan perasaannya yang hampir luluh setelah mendengar panggilan barunya.
"Aku tau kamu dari dapur, untuk apa kamu pergi ke sana?" Revan berusaha bersikap tenang.
"Maaf suamiku, aku tadi ingin memasak sarapan tapi tidak jadi kok. Ini kau ke kamar lagi," ujar Rara, dengan harapan suaminya tidak marah.
__ADS_1
"Kau itu... kira-kira hukuman apa yang harus kamu terima karena tidak mendengarkan kata-kata suami," matanya menyipit menunggu jawaban dari mulut istrinya.
"Hukuman?" Sementara pikiran Rara saat mendengar kata hukuman membuatnya traveling. Pipinya pun menyiratkan apa yang ada di pikirannya.
"Kenapa pipimu memerah, apa yang ada di pikiranmu?" bisik Revan yang membuat bulu-bulu halus Rara berdiri karena pria itu berbisik tepat di telinganya.
"Aaa...," pekik Rara saat tiba-tiba sang suami mengangkat tubuhnya. Spontan ia mengalungkan tangannya karena tidak ingin terjatuh.
"Kita bicarakan masalah hukuman di kamar saja," ujar Revan seraya berjalan menaiki tangga. Kenapa tidak menggunakan lift saja kan enak, tidak perlu capek-capek. Ya namanya juga pengantin baru pasti masih suka gendong-gendongan.
Rara tidak bisa lagi berkata-kata, otaknya sudah tidak bisa lagi dicegah untuk tidak bertraveling kemana-mana.
Rona merah bahkan tidak hanya di pipi saja, tapi di seluruh wajah cantiknya.
Wajah pucat nya sudah tersamarkan.
Kakek yang ternyata sudah bangun sejak tadi, tidak menyangka akan mendapatkan pemandangan manis di pagi hari. Ia bersorak gembira, bayangan bisa bermain dengan cicit secepatnya berputar di kepalanya.
Asyik, sepertinya sebentar lagi aku bisa menggendong cicit.
Fani lihatlah, putramu sudah dewasa sekarang.
Monolog kakek.
Kakek Tio bahkan bersiul sambil berjalan kembali ke kamarnya. Di umurnya yang sudah senja, dia masih bugar meski berjalan sudah menggunakan tongkat. Tapi giginya masih utuh tidak ompong seperti kakek-kakek lainnya. Rambutnya hitamnya sudah pasti memudar dan berubah menjadi putih.
to be continue...
Kakek, cicitnya belum di download... (Emoticon ketawa ngakak)
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...