Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
146. Godaan Para Gadis Desa


__ADS_3

°°°


Dannn ada yang menarik dari pesta kecil-kecilan itu. Ternyata Para bapak dan ibu-ibu yang hadir ada maksud tertentu dengan dua pria tampan itu. Coba tebak, mereka berlomba-lomba menunjukkan keahlian putri mereka. Apalagi tujuannya kalau bukan sebuah harapan agar putri mereka bisa dipersunting dua pria tampan nan bergelimang harta seperti Revan dan Mike.


Seperti yang sudah dibilang tadi, para ibu-ibu bahkan sudah mendadani putri mereka secantik mungkin agar dua pemuda itu tertarik. Ada juga yang menunjukkan keterampilannya, ada yang memasak, menyulam, menjahit, menyanyi dan ada juga yang menari.


Revan dan Mike yang awalnya mengira jika hiburan itu hanya untuk memeriahkan acara saja. Kini mereka tau maksudnya.


"Tuan, putri saya ini sarjana juga loh. Pintar masak dan pintar mengurus rumah, cantik lagi," ujar salah satu ibu-ibu dengan menggandeng putrinya yang terlihat malu-malu mendengar sanjungan dari ibunya sendiri.


Revan hanya tersenyum menanggapi mereka, apa jadinya jika mereka tau jika sang direktur utama itu sudah beristri. Ini salahnya yang belum mengumumkan pernikahannya pada publik.


Maafkan aku sayang, aku sama sekali tidak menyangka akan berada di situasi seperti ini. Ujarnya dalam hati merasa bersalah pada sang istri.


Sementara Mike sama sekali tidak berekspresi, wajahnya datar melihat para gadis yang disodorkan padanya. Ya intinya para ibu-ibu tidak mau rugi. Kalau direktur utama nya tidak mau ya bisa dengan assistennya.


Akhirnya acara itu dipenuhi oleh para gadis yang sedang menunjukkan bagaimana menjadi istri yang baik. Revan dan Mike pasrah menerima perlakuan baik mereka, ya mau bagaimana lagi. Mau kabur tidak enak sama ibu dan bapaknya.


Bukannya Revan tidak mau mengumumkan statusnya yang sudah beristri, tapi saat ini banyak sekali pihak yang sedang berusaha menjatuhkannya. Jadi Revan tidak mau jika orang-orang itu menargetkan Rara untuk melancarkan kebusukan mereka.


Biarlah nanti jika situasi sudah kondusif dan Revan sudah berhasil menemukan siapa saja orang-orang hingga ke akar-akarnya. Barulah membuat pesta dan mengenalkan Rara pada dunia.


,,,


Hari demi hari di luar kota terasa lebih mudah bagi Revan dan Mike. Sebuah titik terang sedikit demi sedikit mulai terlihat.


Sudah tiga hari mereka di sana dan selama tiga hari itulah banyak para gadis yang berdatangan mengirim makanan. Bahkan ada juga yang menawarkan jasa cuci setrika, sudah seperti tukang laundry saja. Ada juga yang menawarkan jasa untuk membersihkan penginapan tempat mereka berdua tinggal.


"Bagaimana Tuan, biar saya cucikan bajunya. Nanti tuan terima bajunya sudah harum dan rapi," ujar salah satu gadis yang berdatangan, sudah seperti seles laundry.

__ADS_1


Tentu saja Revan menolak, pakaian miliknya bukan pakaian yang ada di pasaran yang bisa dicuci dengan asal apa lagi di nyucinya di sungai. Sebagian pakaian miliknya bahkan ada yang limited edition. Jelas hanya jasa laundry profesional lah yang ia pilih untuk tempatnya mencuci.


Dan gilaa nya lagi, ada pak RW yang menawarkan putrinya untuk dinikahi secara siri. Katanya tidak apa-apa jadi istri kedua, ketiga dan seterusnya. Yang penting bisa punya mantu direktur.


Revan hanya bisa memijit pelipisnya menghadapi mereka. Tidak bisa jika langsung menolak mentah-mentah, nanti warga ngamuk lagi.


Sementara Mike yang dingin dan datar lebih gampang menghadapi mereka. Hanya cukup diam dan tidak peduli, dengan begitu para gadis itu pergi sendiri kalau sudah lelah.


Namun, walaupun Revan menerima semua makanan yang diberikan tapi dia tidak begitu saja menerimanya. Dia menggantinya dengan uang, mau tidak mau mereka harus menerima kalau tidak Revan juga tidak mau menerima makanannya. Setelah itu Revan juga membagikan makanan itu pada para pekerjanya.


"Mike apa masih belum ketemu juga?" tanya Revan yang sudah sangat ingin pulang.


"Belum tuan, aku sudah menyuruh orang untuk mengikuti kemana saja mereka pergi. Tapi sepertinya mereka bertindak sangat hati-hati hingga orang-orang kita susah untuk menemukan bukti."


Mike juga sama kok, bahkan dia lebih tersiksa karena setiap malam harus melihat tubuh seksi Febby yang menggunakan lingerie.


Loh bukannya kemarin katanya mau menyuruh bi Ida untuk menyingkirkan lingerie itu, kenapa masih dipakai? Gimana sih Mike. Ternyata Mike tidak jadi melakukan hal itu, lantaran dia sekarang menikmati pemandangan itu. Walaupun tiap malam harus bersolo ria.


,,,


Hari ke empat.


Sama halnya dengan para pria. Rara pun hatinya semakin merasa cemas pada sang suami. Dari hari ke hari, kegundahan dihatinya tidak pernah pudar bahkan bertambah besar. Walaupun suaminya sudah sangat sering memberinya kabar dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


Namun, hal itu tidak serta merta membuat Rara bisa tenang.


Mana mungkin baik-baik saja, kalau baik-baik saja kak Revan tidak mungkin selama itu disana.


Kesal Rara karena ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Di kampus pun Rara kesepian karena teman dekatnya sampai saat ini belum juga kembali. Membuat dirinya bertanya-tanya ada apakah dengan Lia? Di hubungi juga sudah.


Kenapa semua orang tidak ingin memberitahu masalahnya padaku. Apa mereka kira aku tidak mampu berbuat apa-apa.


Lagi-lagi kesal sendiri. Minggu ini pikirannya benar-benar dipenuhi oleh kekhawatiran.


"Lia sebenarnya apa yang terjadi padamu, kenapa nomor telepon kamu juga tidak aktif," gumam Rara.


Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada Lia. Kasihanilah gadis itu dan lindungilah dia ya Allah.


Doa Rara untuk temannya.


Tanpa Rara sadari sejak kepergian Lia, seorang pria yang biasa membuat para wanita meleleh juga ikut menghilang. Ya Sakka juga sudah empat hari ini tidak terlihat di kampus. Kemanakah dia?


Rara mungkin tidak menyadari hal itu, pikirannya sudah terlalu lelah memikirkan suaminya dan Lia. Jadi tidak memikirkan hal lain lagi, padahal dia bisa meminta tolong pada Sakka. Ya karena Rara sangat tau jika Sakka sebenarnya punya perasaan lain pada Lia, walaupun pria itu selalu bersikap layaknya teman tapi cara melihatnya pada Lia sangatlah berbeda.


Balik lagi ke Rara, dia sama sekali tidak fokus dalam mendengar apa yang dosen terangkan. Dia mungkin memperhatikan dengan memangku tangan tapi pikirannya entah melayang kemana.


Di satu sisi suaminya tidak pulang-pulang, di sisi lain temannya tidak ada kabar.


to be continue...


°°°


Hallo teman-teman pembaca, minta sarannya dong... please komen ya...


Mau baca cerita Lia lagi atau fokus ke Rara sama Febby aja??


Kalau nggak ga ada yang komen, aku tutup cerita Lia sampai disini saja.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2