
°°°
Lia dan Rara sedang memakan bakso di kantin kampus, setelah tadi berunding tentang ketua kelompok.
Tibalah dua orang yang tadi mereka tunggu.
"Hai sayang." Sakka datang masih setelah puas bermain basket, dia juga sudah mengganti bajunya yang tadi ia gunakan untuk bermain basket.
Lia hanya diam saja tidak ingin menyahuti Sakka yang sudah duduk dihadapannya dan kini pria itu menyeruput es jeruk milik Lia tanpa permisi. Padahal Lia sedang kepedesan karena tadi terlalu banyak memasukkan sambal ke dalam baksonya.
"Minumanku...," pekik Lia saat sang kekasih menyeruput nya hingga tandas.
"Aku haus, aku minta sedikit." Sakka menyengir kuda tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sementara Rara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
Dan pria yang datang bersama Sakka juga hanya diam bahkan tidak berekspresi apa-apa. Seperti kata Lia benar kalau pria itu datar dan tidak bisa berekspresi.
"Sayang, apa kau marah gara-gara minuman kamu tadi aku minum?" tanya Sakka yang sejak tadi diacuhkan kekasihnya.
"Sakka, lebih baik kamu belikan minuman yang baru sekarang. Kalau tidak ingin Lia terus kesal," saran Rara yang tau kalau temannya sedang kepedesan.
Sakka pun segera bangun dan membeli minuman. Ia tidak mau terus mendapatkan kekesalan Lia.
"Dasar tidak peka," cibir Lia saat Sakka sudah pergi dari hadapannya.
"Sudah, minum punyaku dulu saja. Nih...," Rara menyodorkan sebotol air mineral yang tadi ia beli tapi belum sempat ia minum.
"Makasih, Ra. Kamu memang pengertian," senang Lia. Dia segera meminum air itu untuk mengurangi rasa pedas yang ada di mulutnya.
"Sayang, ini minuman nya." Sakka datang membawa dua gelas es jeruk, memang lama karena jeruknya harus di peras lebih dulu.
"Telat, aku sudah tidak ingin minum." Lia memasang wajah masam.
"Maaf sayang, aku tidak tau kalau kamu juga butuh minum. Jangan marah lagi ya...," bujuk Sakka, mantan casanova itu terlihat sangat memprihatikan karena sekarang dia sudah bertekuk lutut pada Lia. Maka kalau Lia marah, tamatlah riwayat Sakka.
"Bagaimana tugasnya?" Pria yang hampir tidak dianggap kehadiran disana akhirnya bersuara karena dia paling tidak suka buang-buang waktu untuk hal yang menurutnya tidak penting.
__ADS_1
Semua orang memandang pria itu dengan wajah bingung, kecuali Sakka yang menepuk keningnya saat teringat kalau dia belum memperkenalkan pria di sampingnya.
"Oh iya, kenalkan. Ini Bima anggota kelompok kita," tunjuk Sakka pada pria berwajah kaku bernama Bima. "Dan ini Lia, kekasih ku. Hehehe... lalu ini Rara." Sakka gantian memperkenalkan Lia dan Rara.
"Hai Bima..., aku Lia," sapa Lia dengan tersenyum ramah membuat Sakka cemburu.
"Sayang, jangan tersenyum seperti itu padanya," protes Sakka sementara Lia acuh saja.
Rara hanya tersenyum tipis pada Bima sebagai tanda perkenalan.
Akhirnya mereka membicarakan masalah tugas dari dosen. Sebenarnya yang lebih banyak bicara Lia dan Rara, sedangkan Sakka hanya mengganggu Lia saja sementara Bima, dia lebih banyak menyimak dan sesekali mengangguk atau menggeleng kalau tidak setuju.
"Lihatlah, mereka beruntung sekali bisa satu tim dengan ketua basket kita."
"Iya, udah sekarang Sakka nggak bisa kita dekati lagi. Sekarang ketua tim basket juga satu tim dengan mereka."
"Lihatlah, bagaimana kalau wanita itu mendekati Bima," tunjuk mereka pada Rara yang duduk di hadapan Bima.
"Aku nggak akan biarin itu terjadi. Cukup Sakka dan Revan saja yang menjadi milik orang lain, kali ini Bima harus menjadi milikku." Tatap wanita itu dengan tajam.
Semenjak Sakka mengumumkan hubungan nya dengan Lia memang para wanita di kampus tidak lagi mengejarnya dan tidak ada yang mengganggu kekasihnya juga karena Sakka sudah memperingatkan mereka. Siapa yang mengganggu Lia maka harus siap keluar dari kampus itu.
Sementara sampai saat ini belum ada yang tau statusnya Rara dan Revan karena mereka belum mengumumkan nya. Jadilah para gadis iri pada Rara karena dia satu tim dengan Bima.
"Ya sudah, sampai disini dulu. Besok kita lanjutkan lagi," ujar Lia mengakhiri pembahasan tugas mereka.
Tanpa bicara apa-apa Bima berdiri dan langsung pergi dari sana. Membuat Lia melongo.
"Kamu jangan heran begitu, dia memang seperti itu," ujar Sakka yang cukup mengenal Bima karena mereka pindahan dari kampus yang sama.
"Kenapa ada orang sekaku itu, apa dia tidak bisa menggerakkan otot-otot wajahnya. Apa tidak lelah begitu terus ekspresi nya dari tadi," heran Lia.
"Tidak semua orang harus sama, bisa senyum atau tertawa tapi dia sebenarnya baik. Aku juga tidak terlalu mengenalnya," komen Sakka.
"Sakka benar Li, kita tidak tau kehidupan orang lain bagaimana." Rara pun setuju dengan Sakka.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Tante Jihan sudah menunggu kita," ajak Sakka seraya membaca pesan dari tantenya.
__ADS_1
"Rara, kamu pulang dengan siapa. Biar kami antar saja," ajak Lia pada temannya.
"Tidak usah, kalian duluan saja. Supir keluarga sudah menunggu di parkiran biasanya. Kalian pergi saja." Rara tidak enak kalau harus menumpang pada mobil Sakka dan sepertinya mereka juga ada urusan.
"Tidak apa-apa, kita ke parkiran sama-sama. Kalau supir nya belum datang nanti kita antar," ujar Sakka yang tidak mungkin tega membiarkan sahabat temannya menunggu jemputan sendirian.
Rara melihat Lia untuk mencari pendapat dan temannya itupun tersenyum menyetujui usulan Sakka.
"Baiklah, ayo."
Ternyata di parkiran mobil yang biasa mengantar jemput Rara belum datang.
"Kami antar saja Ra, tidak usah menunggu lagi," ujar Lia.
"Tapi kalian sudah di tunggu, aku naik taksi saja atau mungkin juga sebentar lagi mobilnya datang." Rara tidak enak.
"Tidak apa-apa, nanti aku bilang pada tanteku kalau aku dan Lia akan datang nanti malam saja."
Karena memang kebetulan hari itu sudah sore.
"Tidak tidak, kenapa jadi merepotkan kalian. Aku naik taksi saja."
"Ra, kalau kau tidak mau. Aku akan menemani kamu sampai mendapatkan taksi." Lia duduk di kursi tunggu.
"Ehh Lia, kau itu...," cicit Rara.
Tiba-tiba suara klakson mengagetkan mereka. Ternyata mobil Sakka menghalangi jalan.
"Sayang, ayo ajak Rara naik. Kita harus segera memberi jalan pada mobil lain," teriak Sakka yang berada di dalam mobilnya.
"Sana kamu masuk Li, cepatlah. Aku bisa pulang sendiri." Rara mendorong temannya agar segera memasuki mobil Sakka. Lia protes tapi akhirnya dia mengalah karena antrian mobil di belakang sudah semakin panjang.
to be continue...
°°°
Selamat siang semua, jangan lupa makan siang. Karena kita butuh tenaga ekstra untuk terus menghalu😂😂
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️