
°°°
Sore harinya, Revan yang sudah selesai dengan pekerjaannya akhirnya bisa bernafas lega juga. rasanya meninggalkan rumah seharian ini sudah seperti setaun baginya.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya seraya merentangkan kedua tangannya.
Tidak mau menunda-nunda kepulangannya, Revan pun segera berbenah.
Tok, tok, tok.
"Permisi Tuan," ujar Mike.
"Ada apa Mike?" Revan sudah berfirasat buruk saat assistennya masuk ke dalam ruangannya pasti ada pekerjaan tambahan atau yang lainnya.
"Ada pesan dari tuan besar, beliau menunggu anda di ruangannya." Mike dengan wajah datarnya.
"Untuk apa kakek memanggilku, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Revan, benar dugaannya ada saja yang menghalanginya untuk pulang ke rumah.
"Lebih baik anda tanyakan langsung, Tuan." Ya begitulah Mike, dia tidak akan mengatakan apapun bila tidak diperintah. Kesetiaannya tidak diragukan lagi.
"Baiklah, aku akan kesana."
Apa sebenarnya yang mau kakek bahas, apa tidak bisa nanti saja, di rumah juga bertemu lagi.
Revan menghela nafasnya, dia harus mengulur waktu pulangnya lagi.
Di dalam ruangan kakek Tio. Revan sudah ada di sana beberapa saat yang lalu. Di sana ternyata ada beberapa orang juga selain kakeknya.
"Ada yang mau kakek sampaikan padamu," ujar kakek pada cucunya.
Kakek tau apa yang dirasakan Revan, dilihat dari wajahnya saja sudah bisa ditebak. Tapi ada hal penting yang harus dia sampaikan, bukan tidak bisa membahas di rumah tapi kakek memang punya prinsip. Jika masalah pekerjaan cukup di perusahaan saja, tidak usah dibawa ke rumah.
Saat sudah di rumah berarti hanya ada urusan keluarga, salah satunya dengan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Revan dan beberapa petinggi perusahaan pun mendengarkan baik-baik apa yang akan pimpinan perusahaan Fresh Grup itu sampaikan.
"Aku sudah sangat tua untuk memimpin perusahaan dan sudah waktunya pensiun. Seperti yang kalian tau, Revan adalah satu-satunya cucuku. Jadi aku akan menyerahkan perusahaan ini padanya, secepatnya." Kakek menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Aku yakin cucuku mampu, dia juga sudah cukup belajar. Nantinya dia akan terbiasa dengan semuanya. Saya mohon dukungan kalian pada saat rapat dewan direksi, untuk mendukung Revan."
Kakek Tio serius dengan ucapannya, dia sudah sangat ingin bersantai di rumah. Melepaskan sedikit beban dipundaknya.
Sementara para petinggi perusahaan itu, nampak saling pandang meminta saran. Beberapa saat kemudian mereka mengangguk pertanda bersedia membantu kakek Tio.
Untunglah ada sebagian orang yang benar-benar bekerja dengan hati nurani, tidak mementingkan keuntungan pribadi. Hanya yang kakek Tio percaya dan sudah diawasi selama ini yang bisa menjadi kubunya.
"Terimakasih karena kalian mau mendukung cucuku," ujar kakek penuh haru.
Kakek selama ini bisa terus memimpin perusahaan berkat usaha kerasnya. Walaupun ia pernah kecolongan sampai hampir sebagian saham dimiliki oleh orang yang serakah. Beruntung kakek bisa mempertahankan sisanya, tapi imbasnya sekarang kakek tidak bisa memutuskan apapun sendiri. Harus ada yang mendukung hingga jumlah sahamnya melebihi milik orang-orang itu.
"Kakek jangan khawatir, aku akan berjuang untuk membawa perusahaan ini sampai menguasai pasar saham negara ini." Tekad Revan dalam hatinya.
Entahlah, ia sangat ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Bukan untuk menyombongkan diri tapi ada hal yang memacu Revan agar ia dikenal sebagai pengusaha ternama di negara Indonesia bahkan luar negeri.
Setelah para petinggi perusahaan keluar dari ruangan itu, tinggalan Revan dan kakek tersisa.
"Kakek tidak usah khawatir, aku akan membuktikan pada mereka jika aku mampu membuat perusahaan ini lebih berkembang." Revan tidak bisa melihat kakeknya merasa sedih.
"Kakek mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Revan, yang sejak tadi sudah ingin pulang. Mengingat wajah istrinya membuatnya rindu. Bukannya berlebih atau apa, tapi memang pada kenyataannya begitu.
Kakek pun terkekeh mendengar pertanyaan cucunya, rupanya virus bucin sudah mulai mendominasi.
"Pulanglah lebih dulu, kakek masih ada yang harus diurus. Kakek tau kamu sudah tidak sabar bertemu dengan istrimu." Kakek menyindir Revan, terbukti saat cucunya itu senyum-senyum sendiri mendengar ucapan sang kakek.
"Kalau begitu, aku pulang duluan Kek."
"Assalamualaikum," ujar Revan seraya mencium tangan kakeknya.
"Wa'alaikumsalam," jawab kakek dengan binar kebahagiaan. Akhirnya cucunya itu menyadari jika istrinya adalah wanita yang terbaik untuknya.
"Kakek jangan terlalu lelah," pesan Revan sebelum menghilang dari balik pintu.
Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu, nak. Beban kakek sudah sangat berkurang dengan melihatmu bahagia.
Terimakasih sahabatku Abdullah, sudah menjodohkan cucumu dengan cucuku. Padahal kau tidak tau cucuku itu baik atau buruk.
__ADS_1
Kakek teringat kenangannya bersama sang sahabat atau bisa dikatakan besan saat ini. Dulupun kakek Tio termasuk anak muda yang cukup nakal, sering hura-hura dan menjelajahi dunia malam.
Namun, beruntungnya kakek Tio bertemu dengan Abdullah yang merupakan kakeknya Rara. Beliaulah yang sudah merangkul kakek Tio menjadi seperti sekarang.
Saat orang lain hanya bisa menghujat dan menyinyir, mendiang kakek Abdullah membawa cahaya dalam hidup kakek Tio. Mereka selalu bersama dalam hal apapun, termasuk membangun usaha kecil-kecilan yang sampai sekarang masih berjalan di tangan Abi Aziz ayahnya Rara.
Menyenangkan sekali masa-masa itu bila diingat. Aku jadi merindukanmu Abdul.
Kakek Tio mengenang masa dimana ia bersama kakeknya Rara.
,,,
Sementara di rumah, Rara sedang duduk di taman. Tadi setelah Lia pulang, tiba-tiba ia ingin menghirup udara segar di taman belakang rumah. Rasanya bisa keluar dari kamar sangatlah menyenangkan.
"Huh... akhirnya aku bisa keluar juga Bi," ujar Rara pada bi Mur yang tadi membantunya berjalan dari kamar.
"Iya, tapi saya takut Tuan Revan marah Non." Tentu saja bibi khawatir, tapi setelah Rara meyakinkan jika ia sudah tidak apa-apa. Akhirnya bi Mur menyerah.
"Jangan khawatir Bi, nanti aku yang akan mengatakan pada kak Revan jika aku lah yang meminta. Aku juga sudah sehat Bi, bisa sakit terus kalau terus-terusan di dalam kamar."
Rara sangat menikmati udara sore dan langit senja di taman itu, setelah tadi terhibur oleh kedatangan temannya.
Mendiang nyonya pasti bahagia disana karena mempunyai menantu seperti anda, Nona. Yang mampu membuat senyum Tuan kakek kembali.
Bi Mur juga ikut menyaksikan bagaimana indahnya senja sore itu. Ia yakin almarhum nyonya Fina merasakan hal yang sama dengannya.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1