
°°°
Revan masuk ke dalam kamarnya sembari menunggu istrinya selesai memasak. Desiran perasaan aneh merayapi hatinya.
Ada apa ini.
Ia memegangi dadanya sendiri, seolah menahan detak jantungnya yang seakan ingin lompat.
Senyum hangat, mata indah nan sayu, bibir peace tanpa pewarna terus berputar dipikirannya.
Sepertinya hati seorang Revano Hermawan sudah terbuka sepenuhnya untuk sang istri.
Revan berjalan mendekati ranjang, lalu ia duduk di bibir ranjang. Ke dua kalinya di hari ini Revan kembali menatap ibunya yang telah tiada. Ia merasakan sosok sang ibu melekat dalam diri Rara. Ia melihat ibunya dalam versi saat mudanya.
Dari cerita yang Revan dengar dari kakeknya, tentang ibunya saat muda sangat mirip dengan kepribadian istrinya.
Sekarang ia sangat yakin ingin mengakhiri hubungannya dengan Febby dan memulai semuanya dari awal.
,,,
Kakek juga sudah sampai di depan rumahnya, ia ingin segera menemui cucunya.
"Kakek sudah juga sudah pulang," tanya Rara saat melihat kakek Tio. Ia pun segera menghampiri dan mencium tangannya.
"Iya nak, di mana suamimu?"
"Sepertinya kak Revan ada di kamar Kek, biar aku panggilkan."
Namun, belum sempat Rara pergi Kakek sudah mencegahnya.
"Biar Kakek saja yang menghampirinya, kau lanjutkan saja apa yang tadi sedang kamu kerjakan."
Setelah berkata demikian, kakek pun menuju ke lantai atas untuk menemui cucunya.
Rara mengerti dan tidak mencegah kakek, sepertinya kakek butuh waktu berdua saja bersama suaminya. Terlihat dari wajah kakek yang penuh binar kebahagiaan, sama seperti dirinya tadi.
"Non." Bi Mur menyentuh lengan nonanya.
"Eh bi Mur..."
"Tuan kakek memang selalu seperti itu jika tuan Revan berhasil meraih sesuatu. Sangat antusias dan begitu gembira."
Rara setuju dengan pendapat bi Mur, wajar jika Kakek Tio seperti itu pada Revan. Dia harapan satu-satunya untuk kakek.
"Ayo kita lanjutkan Bi."
Rara kembali ke dapur bersama bi Mur untuk melanjutkan masakannya.
Di dalam kamar.
__ADS_1
Saat mendengar ketukan pintu Revan kira itu istrinya tapi ternyata sang kakek.
"Kau berhasil nak, kakek bangga padamu."
Kakek Tio memeluk cucunya seraya menepuk punggungnya, rasa bangga sudah tidak bisa ia gambarkan. Hingga terharu rasanya.
"Terimakasih Kek, Kakek selalu ada untukku selama ini. Menjaga ku tanpa lelah."
Air mata yang sebenarnya sudah ia tahan sejak tadi, luruh juga di dalam pelukan kakeknya.
"Sudah semestinya Kakek melakukan itu nak, kau satu-satunya yang kakek miliki. Mendiang ibumu juga menitipkanmu pada kakek, dia pasti bangga padamu saat ini."
Kakek dan cucu itu saling mengungkapkan isi hati mereka yang selama ini terpendam. Perasaan saling menyayangi yang tidak pernah terucap akhirnya mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Meski masih ada satu hal yang kakek Tio simpan rapat-rapat, entah ia akan mengatakannya atau tidak pada cucunya. Atau ia simpan sendiri hingga tutup usia nanti.
"Kau akan bekerja di perusahaan segera nak, kakek akan memperkenalkan mu pada semua orang. Kakek yakin, jika perusahaan berada di tanganmu akan semakin berkembang."
"Kakek sudah semakin tua, sudah tidak mampu memikirkan ide-ide baru seperti dulu."
Kini mereka sudah duduk di sofa yang ada di kamar itu. Kakek memberikan sedikit wejangan untuk cucunya di kemudian hari.
"Kau tidak usah khawatir nanti ada orang yang akan mengajarimu agar bisa adaptasi dengan lingkungan dan jabatan baru."
Kakek yakin sekali jika Revan tidak akan menjadi orang biasa. Ada sesuatu yang terpendam dalam dirinya, darah memang lebih kental dari pada air. Hubungan darah tidak akan pernah terputus apapun yang terjadi.
Kakek hanya berharap, suatu saat nanti cucunya bisa berdamai dengan masa lalu. Karena dendam ataupun benci bisa sangat menakutkan.
"Aku percaya nak," ujar kakek.
"Oh iya, selama kamu menunggu ijasah mu keluar. Kau bisa datang ke perusahaan dan banyak belajar di sana," saran kakek.
"Iya Kek, aku mengerti."
Sampai suara ketukan pintu mengakhiri percakapan kedua orang itu.
"Kakek, kak... makan siang sudah siap." Rara berkata di balik pintu, ia tidak ingin mengganggu mereka.
"Ayo nak, kita turun."
Kakek bangkit disusul Revan di belakangnya.
Keduanya keluar dari kamar bersamaan. Lalu turun ke bawah untuk makan siang.
Banyak sekali hidangan yang Rara masak siang ini, berbagai sayuran yang sudah ia petik, ada juga ikan dan daging yang tidak ketinggalan. Riuhnya macam-macam makanan seperti sedang ikut merayakan keberhasilan Revan.
Rara berdiri saat melihat kakek dan suaminya berjalan mendekat.
"Duduklah nak," perintah kakek.
__ADS_1
Semua orang duduk tanpa terkecuali dan mulai menyantap makan siang mereka.
"Kau bisa merayakannya dengan istrimu di luar, Van. Ajaklah Rara makam malam di luar nanti malam. Anggaplah kalian sedang berkencan."
Uhuukkk
Kakek hobi sekali membuat cucunya sendiri tersedak dengan ucapannya.
Buru-buru Revan meminum air putih di dekatnya.
Bisa tidak kek jangan membicarakan sesuatu yang aneh saat sedang makan. Gerutu Revan dalam hatinya.
"Bagaimana, kau mau kan nak?"
Kakek menatap Rara yang pipinya mulai bersemu merah.
"Aku terserah kak Revan saja Kek."
Rara mau tentu saja mau jika pergi dengan suaminya tapi ia tidak berani berharap lebih. Apalagi membayangkan hal-hal seperti yang ia baca dalam novel romantis, jika makan malam dengan pasangan.
"Bagaimana Van, kau tidak ada rencana apa-apa kan malam ini." Kini beralih pada Revan.
"Kami akan pergi malam ini Kek," ujar Revan yang membuat hati seseorang berbunga.
"Kakek senang mendengarnya, kakek juga berharap kalian segera memberikan cicit untuk ku. Agar rumah ini semakin ramai."
Lagi-lagi kakek membuat sepasang suami istri itu bingung untuk menjawab, permintaan kakeknya itu tidak mungkin bisa mereka kabulkan dalam waktu dekat. Mereka masih saling mengenal satu sama lain. Untuk sekedar berpegangan tangan saja mereka masih canggung.
"Tidak perlu buru-buru, kakek paham anak muda masih suka bersenang-senang, nikmati saja waktu berdua kalian saat ini."
Sebenarnya kakek tau, hubungan pernikahan seperti apa yang cucunya jalani. Akan tetapi dia tidak ingin ikut campur, biarkan hubungan itu mengalir seperti air. Perlahan tapi pasti cinta diantara keduanya pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lalu masalah tentang cucunya yang masih menjalan hubungan dengan wanita lain, kakek juga tau karena selalu ada pengawal yang ia suruh menjaga cucu dan menantunya.
Akan tetapi kakek yakin jika Rara mampu menyadarkan suaminya, mana wanita yang benar-benar tulus dan hanya memanfaatkannya.
Bukan kakek tidak peduli pada Rara, tapi percuma bila menyelesaikan semuanya dengan singkat. Mungkin mudah menyingkirkan wanita itu dari hidup cucunya tapi jika Revan belum menyadari perasaannya juga percuma.
Lalu Rara dia harus belajar menjadi wanita yang kuat dalam menghadapi wanita seperti itu. Dimana nanti jika Revan sudah bekerja pasti banyak wanita yang menginginkannya.
Seperti selama ini, para rekan bisnis kakek selalu menyodorkan anak gadis mereka untuk dinikahkan dengan Revan. Karena memang pernikahan mereka belum kakek umumkan.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...