
°°°
Seperti yang sudah di rencanakan, siang ini Rara akan makan siang bersama Lia dan Sakka di salah satu restoran. Rencananya mau di kantin kampus saja tapi mengingat mereka mau ada yang dibicarakan jadilah memilih tempat di luar kampus agar lebih leluasa.
Rara juga sudah minta ijin pada suaminya dulu pastinya, kalau tidak dia tidak mungkin berani pergi tanpa ijin.
"Aku seperti obat nyamuk disini," keluh Rara yang sedang menatap pasangan baru di depan matanya.
"Ehh maaf Ra, aku akan duduk di samping mu saja." Lia hendak bangun dan pindah di samping Rara tapi Sakka menahan tangannya.
"Disini saja sayang... aku kan mau disuapin kamu," ujar Sakka yang sedang bermanja pada kekasihnya.
"Jangan seperti ini Sakka, ada Rara disini." Lia benar-benar harus ekstra sabar menghadapi Sakka yang makin kekanakan semenjak menjadi kekasihnya.
"Sudah sudah... kau disitu saja Lia. Kasian itu bayi besar mu minta kamu suapi. Sekarang kalian ceritakan bagaimana kalian bisa jadian?" Rara tidak mau mengganggu kemesraan mereka, dia tidak masalah kalau harus melihatnya toh nanti di rumah dia bisa bermesraan dengan sang suami sepuasnya.
Lia tampak menatap Sakka, mengisyaratkan siapa yang mau bercerita pada Rara.
"Ceritakan saja Sayang... nanti kalau kau lupa aku akan mengingatkan," ujarnya seraya mengusap tangan Lia.
"Jadi begini Ra..." Lia mulai menceritakan awal mulanya sampai akhirnya bisa berpacaran dengan Sakka.
Flashback
Dengan langkah gontai Lia menapaki jalanan setapak menuju panti asuhan. Dia sudah tidak punya jalan keluar untuk membantu anak-anak panti. Satu-satunya pilihan terakhir yaitu pamannya tapi Lia juga tidak yakin kalau sang paman yang kikir mau membantu.
"Assalamualaikum..." Lia mulai memasuki panti asuhan.
"Wa'alaikumsalam, Lia..." Ibu Panti tampak kaget melihat kedatangan Lia.
"Kak Lia... Yee... kak Lia datang..."
__ADS_1
"Temen-temen kak Lia datang, kita tidak jadi pergi dari sini."
"Yeee.... hore..."
Teriakkan kebahagiaan anak-anak panti sungguh membuat Lia merasa bersalah. Bagaimana kalau mereka tau kalau Lia belum mendapatkan bantuan. Bagaimana Lia tega melihat tawa mereka meredup karena harapannya sirna begitu saja.
Maafkan kakak... kak Lia janji akan berjuang untuk kalian. Lia tersenyum pada anak-anak yang sedang bergembira.
"Anak-anak tenanglah, kasian kak lia nya capek. Kalian main dulu sama kakak-kakak yang lain ya. Bunda mau bicara sama kak Lia." Ibu panti menyuruh para pengurus panti yang lain untuk membawa anak-anak bermain di luar.
Setelah suasana tenang, Ibu panti menyuruh Lia untuk duduk.
"Jangan pikirkan apa yang mereka katakan, kau sudah sangat baik pada mereka selama ini. Kau mengirimkan sebagian uang gajimu untuk adik-adik mu, kau sudah sangat berjasa pada mereka nak." Ibu panti sudah tau kalau Lia belum mendapatkan bantuan, dilihat dari raut wajah Lia yang tampak tidak ada binar bahagia.
"Maafkan Lia Bun... Lia tidak bisa berbuat apa-apa untuk panti ini. Lia tidak berguna sebagai anak. Aku minta maaf Bun," Lia terisak dalam larutan kesedihan, memikirkan bagaimana nasib anak-anak nantinya.
"Tidak apa-apa nak, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kami adalah keluargamu bukan bebanmu, tidak usah kamu berpikir berlebihan. Percayalah kalau Allah pasti memberikan kita jalan keluar," ujar ibu panti seraya memeluk Lia.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Lia dan ibu panti pun segera berlari keluar.
"Ada apa ini?" tanya ibu panti yang baru datang bersama Lia.
"Waktu kalian sudah habis, sekarang juga kalian angkat kaki dari sini karena bangunan tua ini mau diratakan." Laki-laki yang baru Lia tau jika dia adalah si pemilik tanah warisan dari orang tuanya.
"Maaf Tuan, tolong beri kami waktu sedikit lagi untuk mencari tempat pindah. Kami mohon Tuan, kasihan anak-anak mau kemana kalau kita belum mendapatkan tempat," ibu panti memohon bahkan berlutut dihadapan pria itu. Hal itu tentu membuat hati Lia berdenyut nyeri, Lia yang sudah menganggap ibu panti seperti ibunya sendiri tak rela melihatnya bersimpuh dihadapan orang kikir dan tamak itu.
"Dari kemarin kalian selalu mengulur waktu, kali ini aku tidak bisa menunggu lagi. Bangunan ini harus segera diratakan!" Pria itu sama sekali tidak punya rasa kasihan.
Lia menatap wajah anak-anak yang terlihat ketakutan karena melihat orang-orang itu membawa senjata tajam. Para pengurus panti juga tidak bisa apa-apa lagi.
"Ayo maju, kita ratakan sekarang juga!" perintah pria itu pada anak buahnya.
__ADS_1
"Tunggu!!" Lia menghadang alat berat yang hendak bergerak maju.
"Ada apa lagi, sebaiknya kamu minggir Nona. Kalau tidak aku tidak akan segan untuk meratakan kamu juga." Ancam orang itu.
"Tunggu Tuan, anda tidak bisa begitu saja meratakan bangunan ini." Lia berusaha untuk mencegah.
"Kenapa tidak? Ini adalah tanah almarhum ayahku dan sekarang menjadi milikku. Surat-surat kepemilikan juga ada padaku," orang itu tak mau mengalah.
"Kami tau itu Tuan, tapi tidakkah anda memikirkan ayah anda. Pahalanya akan terputus kalau anda mengusir anak-anak yatim piatu seperti mereka pergi dari sini."
"Aku tidak peduli, aku juga butuh uang. Sekarang kamu minggir!!"
Orang-orang itu hendak tetap maju dan Lia memejamkan matanya saat melihat alat berat itu semakin dekat dengannya. Tapi siapa sangka kalau seluruh anak-anak panti berlari ke arah Lia dan bersama-sama menghadang mereka.
Sontak mereka pun menghentikan laju alat berat itu. Mereka tidak mau kena masalah kalau sampai menghilangkan nyawa orang. Apa lagi tidak hanya satu tapi banyak.
"Apa mau kalian sebenarnya? Aku benar-benar sudah habis kesabaran, kalau kalian tidak mau minggir juga maka aku akan menggunakan cara kasar untuk menyingkirkan kalian semua!" teriak pria itu yang tampak sangat marah.
"Tuan saya mohon beri kami waktu sampai besok. Anda bisa kembali kesini besok kalau kami berhasil mendapatkan uang untuk membayar tanah ini anda tidak berhak lagi mengusik anak-anak ini." Lia memohon dengan yakin, ya dia yakin kalau Allah pasti akan memberi nya jalan.
"Baiklah... aku akan memberi kalian waktu sampai besok tapi kalau besok kalian tidak mendapatkan uang itu. Aku tidak akan menunggu lagi," ujar pria itu seraya menatap penuh kesal karena harus menunda rencananya lagi.
"Terimakasih Tuan, saya janji ini yang terakhir. Besok kalau kami tidak mendapatkan uang, kami akan meninggalkan tempat ini," ujar Lia dengan senyum bahagia, dia seperti mendapatkan secercah harapan.
to be continue...
°°°
Ini flashback saat Lia ada di kampung halamannya ya, dia cerita bagaimana kejadiannya pada Rara.
Abang Mike disimpan dulu ya, biar dia istirahat dulu🤭🤭
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️ Sehat selalu pembacaku tersayang