Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
137. Mencari Pertolongan


__ADS_3

°°°


Lia memberanikan diri untuk mengutarakan permohonannya dan berharap Bu bos mau membantu.


"Bu sebenarnya ada satu hal lagi yang mau aku sampaikan, barang kali Bu bos mau membatu." Lia hati-hati mengatakannya.


"Ada ada," ujar bu bos sambil memencet tombol kalkulator.


"Bu bos ingatkan aku pernah bercerita kalau dulu aku tinggal di panti asuhan, nah sekarang panti asuhan itu mau digusur sama anaknya yang mewakafkan tanahnya." Lia berhenti sejenak, melihat Bu bos yang menghentikan gerakan tangannya.


"Terus apa masalahnya?" tanya bu bos.


"Begini Bu, anak-anak panti itu tidak tau mau kemana lagi kalau sampai bangunan panti asuhan itu di gusur. Apakah Bu bos mau menjadi donatur untuk membantu membeli tanah itu agar panti asuhan itu masih tetap bisa bertahan."


Bu bos tampak memikirkan apa yang Lia ucapkan sambil memasukkan uang ke dalam amplop cokelat. Hal yang biasa ia lakukan untuk membayar gaji karyawannya.


"Berapa harga tanahnya?" tanya bu bos dan hal itu seperti sebuah angin segar bagi Lia.


"Sekitar lima ratus juta Bu," jawab Lia.


"Lima ratus juta ya... tidak banyak..." gumam Bu bos.


Bibir Lia mulai sedikit melengkung, memang benar bagi orang kaya, uang lima ratus juta pasti tidak seberapa. Dan semoga bu bos mau membantu. Harap Lia.


Bu bos memberikan amplop cokelat yang sudah berisi uang kepada Lia. Tidak terlalu tebal karena memang gaji Lia tidak seberapa, hanya cukup untuk membayar uang kos dan keperluan kuliah, kalau untuk makan, kadang Lia hanya makan roti paginya untuk mengganjal perut lalu sorenya dia mendapatkan jatah makan dari restoran itu.


"Memang tidak banyak, tapi aku baru saja menggunakan uangku untuk membuka cabang baru restoran ini. Kalau sekarang sedang tidak ada uang," ujar Bu bos beralasan.


Tidak apa, Lia tetap tersenyum. Mungkin bukan lewat tangan Bu bos tuhan akan membantunya.


"Tidak apa-apa Bu bos," ujar Lia. "Apa nanti kalau aku kembali ke Jakarta, masih boleh kerja disini?" tanya Lia. Dia sudah kerasan disana, mereka seperti keluarga baginya.


"Tentu kapanpun kamu kembali aku akan menerima kamu untuk bekerja disini." Terang saja karena Lia seperti ladang uang untuknya, mana mungkin Bu bos mau melepaskannya.


"Oh iya, ini kunci motornya Bu. Terimakasih sudah mau meminjamkannya padaku," ujar Lia seraya menyerahkan kunci motor yang dipakainya tadi.

__ADS_1


Bu bos pun menerimanya, ya namanya harta tidak mungkin di tolak kan. Walaupun sebenarnya motor itu bukan miliknya, tapi kan Sakka sendiri yang minta agar Bu bos tidak memberitahu Lia. Jadi tidak salah dong.


"Terimakasih sekali lagi Bu bos, kalau begitu saya permisi dulu." Lia pamit keluar dari rumah itu dengan kami yang sedikit lemas, salah satu harapannya sudah pupus kini ia hanya berharap Tuhan memberinya jalan keluar.


Sementara itu, setelah kepergian lia. Bu bos sedang memandangi cincin berlian yang kemarin baru ia beli. Cincin dengan bertahtakan berlian dengan harga fantastis tersemat di jari manisnya.


"Cantik sekali cincinnya, jariku jadi semakin cantik memakai ini." Bu bos menggerakkan jari jemari nya yang berhiaskan cincin berlian.


,,,


Setelah keluar dari rumah bosnya, Lia pun berpamitan pada karyawan restoran. Ada yang memeluknya dan ada juga yang berkaca-kaca, mereka sudah seperti keluarga walaupun kadang suka saling senggol. Tapi itu adalah hal yang wajar.


"Sudah-sudah kalian, kenapa kalian jadi pada sedih. Aku kan cuma pulang sebentar, kalau urusanku sudah selesai nanti balik lagi," ujar Lia pada teman-temannya, walaupun ia sendiri tidak yakin mau bagaimana kedepannya.


"Disini pasti jadi sepi kalau nggak ada kamu, Lia."


"Iya nanti nggak ada yang bantuin aku lagi."


Mereka saling menyerukan perasaannya, mungkin di mulut berkata demikian tapi sungguh bagi mereka Lia adalah sosok yang menyenangkan.


Mereka semua tersenyum karena memang benar adanya, tapi bukan hanya itu alasannya.


"Kamu kenapa tiba-tiba pulang, Li?" tanya salah satu temannya.


"Ada sesuatu yang harus aku urus," jawab Lia.


"Jangan-jangan kamu disuruh pulang karena mau dijodohkan ya?" tebak mereka.


Lia memandang wajah temannya, ternyata bukan hanya Bu bos yang berpikir dia mau menikah. Teman-teman juga berpikir hal yang sama.


"Enggak lah... memang ini jaman Siti Nurbaya," ujar Lia, ucapannya sontak membuat semua orang tertawa. Begitulah Lia yang selalu membawa keceriaan di manapun dia berada.


Setelah puas berpamitan dengan teman kerjanya, Lia pun keluar dari sana masih dengan bawaannya yaitu tas yang berisi baju-bajunya. Dia berjalan ke pinggir jalan mencari angkutan umum untuk ke kampus. Ada taksi tapi dia ingin menghemat uangnya untuk pulang.


Lewat juga angkotnya, senang Lia saat melihat angkutan umum yang ditunggunya datang.

__ADS_1


Lia pun melambaikan tangannya agar angkot itu berhenti. Ia langsung naik saat angkot itu berhenti di depannya. Cukup lengang, hanya ada satu dua penumpang dan semuanya ibu-ibu yang hendak ke pasar, dilihat dari tas belanjaan yang mereka bawa.


Lia pun tersenyum sopan pada ibu-ibu disana.


"Kiri pak!" ujar Lia saat angkot itu melewati kampusnya.


"Disini neng?"


"Iya pak," ujar Lia seraya menyerahkan uang untuk membayar angkot.


"Terimakasih neng," ujar bapak supir angkot sebelum kembali menjalankan kendaraannya.


Lia menarik nafasnya dalam-dalam sambil memandangi gedung kampus itu, berat rasanya baru satu semester dia belajar sekarang ada saja cobaannya. Tapi Lia tidak pernah menyesali keputusannya, kalau memang rejekinya pasti Tuhan akan memberikan jalan untuk kembali kuliah.


Lia mulai berjalan melewati pintu gerbang kampus, tampak sepi belum banyak mahasiswa yang datang. Lia terus berjalan, tidak peduli dengan orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh. Mungkin mereka melihat tas ransel yang di bawa Lia, jadilah berpikiran aneh.


Sampai di depan ruang dosen, Lia masuk untuk mengurus surat ijinnya. Satu Minggu, Lia ijin selama itu. Walaupun belum tau berapa lama ia akan tertahan disana atau bisa saja tidak kembali lagi ke Jakarta.


Setelah mendapatkan surat ijin, Lia berjalan ke ruang kelasnya mau menunggu temannya untuk berpamitan.


Dering ponselnya kembali berbunyi dan membuat Lia takut untuk mengangkatnya. Bukan apa-apa, tapi dia tidak akan kuat mendengar kabar-kabar buruk tentang adik-adiknya di panti.


Benar saja yang menelepon adalah salah satu pengurus panti.


"Hallo... assalamualaikum," ujar Lia mengangkat panggilan.


📞"Wa'alaikumsalam, hallo nak. Bagaimana apa kamu sudah menemukan orang yang mau membantu?" tanyanya, itu bukan ibu panti yang biasa menelponnya karena ibu panti tidak mungkin menanyakan hal seperti itu. Sesulit apapun keadaan ibu panti tidak mungkin menyusahkan orang lain. Tapi jika pengurus panti yang lain sudah bertanya seperti itu berarti mereka benar-benar sudah tidak punya cara lain selain membiarkan panti itu diratakan.


to be continue...


°°°


Ya ampun, mana nih pangeran berkuda putih nggak dateng kasih bantuan.


Sabar ya Lia, author memang keterlaluan.

__ADS_1


🤭🤭


__ADS_2