Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
183. Tidak Bersalah


__ADS_3

°°°


Lia mulai kehilangan kesabaran mendengar hinaan semua orang. Padahal sudah jelas kalau ia dan Rara tidak mencuri tapi mereka malah menyuruhnya untuk membuka baju.


"Seharusnya kalian juga diperiksa, kenapa kalian sampai takut digeledah. Harusnya kalian yang patut dicurigai," sentak Lia.


"Hai, kami sudah jelas orang terpandang dan kaya. Mana mungkin kami mengambil pakaian yang harganya tidak seberapa. Kalau kami mau, kami bisa membeli toko ini beserta isinya." Wanita itu tidak mau mengalah.


Sementara karyawan toko tidak tau mau bagaimana, kalau sampai tidak menemukan barang yang dicuri maka mereka harus mengganti sesuai harga barang yang hilang dan itu bisa sejumlah gaji mereka berbulan-bulan bekerja.


"Kalau kalian sudah membuka baju dan membuktikan kalau kalian tidak mencuri baru kami mau menyerahkan tas kami untuk digeledah."


"Iya benar, mereka pasti pencuri nya."


"Buka saja bajunya."


Mereka terus memojokkan Lia dan Rara hingga suasana menjadi semakin ricuh.


"Ada apa ini?" tanya seorang wanita dengan pakaian rapi dan modis. Kedatangan wanita itu membuat para karyawan menunduk, bisa di pastikan kalau wanita itu adalah atasan mereka.


"Tenang dulu nona-nona, ada apa ini sebenarnya?" tanyanya lagi.


Salah satu karyawan maju untuk menjelaskan pada atasannya dan wanita itu tampak menganggukkan kepalanya mengerti.


"Nona Jihan, kamu kenal kami kan. Kami tidak mungkin mencuri. Jadi biarkan kami pergi dari sini." Lagi-lagi orang yang sama terus bersuara.


"Begini nona, setelah mendengar cerita dari karyawan saya yang di periksa baru kedua nona ini," tunjuknya pada Rara dan Lia. "Jadi untuk keadilan maka semua yang ada di sini akan di periksa, termasuk seluruh karyawan saya."


Wanita itu terlihat sangat dewasa dalam menyikapi masalah. Tidak memihak pada siapapun.


"Tapi saya ini pelanggan lama butik nona Jihan , saya bisa mengatakan pada orang-orang kalau pelayan di butik ini sangat jelek. Sampai menuduh orang sembarang." Ancam salah satu dari mereka dan yang lain tampak setuju.


"Tidak apa-apa nona, kalau rejekinya tidak akan kemana. Mari kita mulai periksa dari anda." Yang di panggil nona Jihan itu tampak tidak takut akan ancaman itu. Baginya keadilan dan kebenaran itu penting jadi kalau hanya kehilangan satu pelanggan masalah baginya.


Dengan menahan kesal wanita itu pun menyerahkan tasnya untuk di periksa dan tidak ada apapun disana. Lalu kenapa dia bersikeras tidak mau di periksa, ternyata tas yang ia gunakan itulah yang palsu hingga membuat semua orang tertawa. Akhirnya wanita itu pun pergi dengan kesal kelihatan dari hentakan kakinya.


Sampai tertangkap lah pencuri yang sebenarnya, dia bersembunyi di antara para wanita yang tadi menolak di geledah. Kalau dilihat penampilannya lumayan tapi ternyata tidak menjamin kalau dia bisa menahan diri untuk tidak mengambil baju mahal.


"Maafkan atas keributan yang tadi terjadi nona," ujar nona Jihan meminta maaf pada Rara dan Lia seraya membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nona, kami mengerti." Lia dan Rara tidak mempermasalahkan yang barusan terjadi walaupun tadi mereka sempat di pojokan.


"Sebagai permintaan maaf saya secara tulus, kami akan memberikan diskon untuk kalian." Nona Jihan tersenyum.


"Benarkah, waahh beruntung sekali kami. Kalau begitu kami akan melanjutkan memilih pakaian," ujar Rara yang merasa senang.


"Silahkan nona."


Rara kembali mengajak Lia untuk memilih pakaian, dia sampai lupa apa tujuan mereka ke butik itu gara-gara keributan tadi.


,,,


Di rumah sakit.


Setelah memastikan kakinya sudah baik-baik saja dan mendapatkan hasil pemeriksaan medis dirinya dan juga korban lainnya. Revan pergi mengunjungi Mike bersama pengacaranya.


tok tok tok


Mereka menunggu di depan ruangan. Sampai seorang wanita dengan perut yang sudah kelihatan membuncit membukakan pintu.


"Revan...," kagetnya.


"Masuklah," Febby membukakan pintu lebih lebar dan membiarkan Revan masuk.


Revan masuk dan mendekat ke arah ranjang pasien. Dilihatnya keadaan Mike yang masih sama.


"Mike, aku kesini untuk memberi tahu kalau besok aku akan melawan orang-orang itu. Aku tidak akan mengecewakan kamu. Aku akan pastikan orang-orang itu mendapat apa yang seharusnya mereka dapatkan," ujar Revan yang kemudian berhenti sejenak.


"Kau harus bangun, apa kau tidak ingin melihat anakmu tumbuh. Apa kau akan membiarkan Febby sendirian terus. Lihatlah, betapa menderitanya Febby harus melihat kamu berbaring di sini."


Revan menggenggam tangan Mike.


"Bangunlah, banyak yang menunggumu untuk bangun." Setelah itu dia melepaskan tangannya dan beralih menatap Febby yang wajahnya tak secerah dulu. Tak ada riasan apapun, hanya ada mata sembab dan bibir yang tak lagi di beri perona. Wanita itu sepertinya sungguh sangat kelelahan, lelah hati dan pikiran.


"Terimakasih sudah mau bertahan untuk tetap di samping Mike," ujar Revan di hadapan Febby dan wanita itu hanya mengulas senyum tipis.


"Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi ku atau Rara."


"Terimakasih sudah datang," ujar Febby.

__ADS_1


Revan tersenyum lalu membalikkan badannya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Febby sendirian lagi.


Dia sangat setia dan tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah sakit itu. Kalau jenuh dia hanya akan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Tidak ada yang menemaninya di sana, tapi itu dia sendiri yang minta. Bi Ida hanya akan datang untuk membawakan makanan. Rara juga sesekali berkunjung, belakang ini saja karena dia sibuk membantu temannya yang mau menikah jadi jarang ke rumah sakit.


Sementara ibunya, dia tidak muncul lagi setelah Febby memberikan kartu black card miliknya pada sang ibu. Ya ternyata Mike menyelipkan black card untuknya sewaktu mau pergi. Tapi hal itu lebih baik bagi Febby dari pada sang ibu datang hanya untuk membicarakan hal yang membuatnya kesal.


,,,


Di butik.


Lia sama sekali belum mencoba gaun pernikahan nya. Sampai Sakka datang barulah dia ingat tujuannya.


"Sayang, kenapa kau belum mencoba gaunnya?" tanya Sakka yang baru saja datang dan melihat calon istri nya sudah kelelahan.


"Ya ampun, kamu bikin kaget aja." Lia tersentak saat tiba-tiba suara Sakka sudah ada di belakangnya.


"Apa semua ini sayang?" tanya Sakka seraya menyerngitkan dahinya menatap puluhan kantong belanjaan yang bertuliskan nama butik itu.


"Ini semua belanjaan kami, tenang saja Sakka. Ini semua aku yang traktir. Lagian kamu tega sekali tidak memberikan Lia uang." Rara yang sedang duduk karena kelelahan pun menjawab.


"Sayang, jadi kau bukannya mencoba gaun pernikahan kita malah belanja sebanyak ini." Sakka menepuk keningnya sendiri melihat kelakuan dua sahabat itu.


"Hehehe maaf, habisnya tadi keasyikan memilih baju sampai lupa. Dan lagi aku juga tidak tau gaun pernikahan ku yang mana, kau tidak berpesan apa-apa padaku tadi."


Ya Sakka lupa mengatakan kalau Lia harus menemui nona Jihan setelah sampai ke butik itu.


Hah ya sudahlah, biar mencoba denganku saja nanti.


to be continue...


°°°


Maaf ya Sakka, cewek kalau belanja memang suka kalap🤭 Ehh itu nanti uang Rara di ganti ya, kan kamu kaya.


Berhubung ini hari Senin, barangkali ada yang mau nyumbang vote😍😍


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2