
°°°
Lia, gadis yang sudah lama tak terdengar kabarnya. Dia kemana, apa dia baik-baik saja?
Tentu saja baik, dia bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Hari-harinya kini tidak ada lagi rasa kesal ataupun takut akan bertemu dengan Sakka. Hubungan pertemanan yang mereka jalin sangat membawa energi positif pagi Lia.
Walaupun Sakka sering muncul disekitarnya tapi sama sekali tidak membuat Lia terganggu. Malah sebaliknya, saat ada Sakka di sampingnya dunia Lia terasa berwarna dan tidak monoton lagi. Laki-laki itu berhasil membuat Lia nyaman dengan segala tingkahnya yang gokil dan menghibur.
Seperti saat ini, Sakka sedang menemani Lia mengantarkan makanan. Ya tentu saja menggunakan motor matic milik Lia, mereka berboncengan dengan penuh tawa karena Sakka yang terus melontarkan candaan.
Mungkin jika ada yang melihat, pasti akan mengira jika mereka sedang berpacaran.
"Sampai..." ujar Sakka mematikan motornya.
Febby pun turun dan langsung mengantarkan pesanan ke rumah itu. "Tunggu sebentar," ujarnya pada Sakka.
"Siap Tuan Putri," ujar Sakka seraya membungkukkan tubuhnya dan Lia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pria itu.
Lia pun memencet bel rumah itu dan tak lama sang penghuni rumah pun keluar.
"Pesanan anda Nona," ujar Lia.
"Berapa Mbak?" Pelanggan itu menanyakan jumlah yang harus dibayarkan.
" Semuanya jadi seratus dua puluh ribu," ujar Lia seraya menyerahkan struk pembayaran.
Wanita itu kemudian memberikan dua lembar uang ratusan ribu. "Ambil aja kembaliannya," ujarnya, tapi yang membuat Lia marah adalah wanita itu bukannya menyerahkan uang itu baik-baik pada Lia. Tapi malah melemparkannya, seolah-olah Lia adalah pengemis.
Perbuatan itu sontak memantik amarah Lia yang tidak terima dirinya direndahkan begitu, walaupun ia orang susah dan sangat membutuhkan uang bukan berarti harga dirinya bisa diinjak-injak seperti itu.
"Maaf Nona, uangnya." Lia masih memberikan kesempatan pada wanita itu, jika wanita itu mau meminta maaf dan mengambil uangnya maka Lia tidak akan mempermasalahkannya.
"Kau tidak lihat itu uangnya, cih..." Wanita itu mencebikkan bibirnya dan menatap Lia dengan sinis.
"Tapi anda menjatuhkannya," ujar Lia yang masih berusaha sabar.
"Kalau jatuh ya tinggal diambil, orang seperti kalian ini kan memang suka memungut," ujarnya semakin merendahkan. "Apa masih kurang, orang susah saja sok-sokan tidak mau ambil kembalian."
__ADS_1
Lia mere-mas jari jemari tangannya menahan geram, kalau tidak ingat kalau melukai orang lain bisa kena pasal lalu di penjara pasti saat ini Lia sudah melampiaskan amarahnya.
Lia lalu mengambil uang yang terjatuh di lantai.
Wanita itu tersenyum puas saat melihat Lia si gadis pengantar makanan memunguti uang yang ia jatuhkan. Tapi senyumnya tidak bertahan lama saat tiba-tiba Lia melemparkan uang itu ke wajahnya.
"Apa yang kau lakukan!!" Wanita itu melotot.
"Saya mungkin orang miskin, tapi saya tidak miskin harga diri. Pengemis saja akan kesal kalau Anda melemparkan uang yang anda berikan. Jangan pernah menyombongkan uang yang anda miliki." Amarah Lia yang membuncah membuatnya berani membela harga dirinya.
"Orang miskin saja belagu, kamu tidak tau siapa aku?" wanita itu tidak terima.
"Saya tidak tau dan tidak mau tau, permisi." Lia pun membalikkan tubuhnya.
"Kau..." Wanita itu hendak memukul Lia dari belakang, untung saja aja orang yang mencekal tangannya.
Lia pun berbalik dan melihat Sakka sedang memegang tangan wanita itu yang sudah melayang di udara, jika tidak pasti mengenai kepala bagian Lia di bagian belakang.
"Jangan pernah menyentuhnya atau kamu akan tau akibatnya!" Sakka memperingati wanita itu dengan tatapan penuh intimidasi.
"Tidak penting kenapa aku disini, aku peringatkan sekali lagi jangan pernah berani menyentuh wanitaku dengan tanganmu." Sakka pun menghempaskan tangan wanita itu dan tentu membuat wanita itu meringis kesakitan.
Lalu Sakka berjalan kearah Lia yang sedang mematung dan menggandeng tangannya untuk segera pergi dari tempat itu.
"Ayo pergi," ajak Sakka.
Sementara Lia masih belum mengerti dengan situasi ini, lebih tepatnya pada kalimat Sakka yang menyebut dirinya adalah miliknya.
"Sakka, tunggu... kenapa kau berubah sekarang. Lalu apa ini, kamu bahkan berpacaran dengan gadis pengantar makanan ini. Apa yang kurang dari aku? Atau karena wanita ini sudah menjual dirinya padamu?" Wanita itu tidak terima ternyata dan kini melampiaskannya dengan menghina Lia.
"Jaga bicaramu!! Apa kau sudah tidak ingin menikmati kekayaanmu. Apa perlu aku menyuruh ayahku untuk membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan milik ayahmu."
Ucapan Sakka nampaknya mampu membuat bungkam wanita itu, terbukti wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya jelas tidak mau jatuh miskin karena menyinggung putra dari rekan bisnis ayahnya.
"Sial!! Kenapa Sakka lebih memilih wanita miskin itu dari pada aku. Aku harus cari cara agar wanita itu tau diri," kesal wanita itu dengan tersenyum menyeringai. Sebuah rencana sudah ada di kepalanya.
Sementara saat ini Sakka dan Lia sedang berboncengan, entah kemana Sakka menjalankan motor itu. Yang pasti karena kesal dia tidak sadar jika saat ini jalan yang ia lalui bukanlah jalan menuju ke restoran tempat Lia bekerja.
__ADS_1
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Lia.
"Ha... apa?" Rupanya Sakka tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Lia.
"Apa kau baik-baik saja, kenapa kita ke arah sini?" tanya Lia lagi.
Sontak Sakka pun menghentikan motornya.
"Maaf, aku tidak konsentrasi," ujarnya.
"Tidak apa-apa, apa kau memikirkan wanita yang tadi? Apa kalian saling kenal?" tanya Lia, walaupun ia sudah tau jawabannya.
"Tidak untuk apa aku memikirkannya, dia hanya wanita dimasa lalu ku yang kelam. Sekarang aku justru memikirkanku," ujar Sakka, lalu ia turun dari motor dan melepaskan helm yang ia pakai.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.
Lia pun mengerti dia pun turun dari motor dan melepaskan helmnya juga.
"Kita duduk disana," ajak Sakka pada tempat duduk yang ada di taman kecil.
"Maaf, karena aku, kamu jadi harus mendengar ucapan yang tidak seharusnya kamu terima." Sakka sepertinya sangat tidak rela saat ada yang menghina Lia, karena dirinya lah manusia yang hina.
"Tidak perlu minta maaf, itu bukan salah kamu." Lia tidak merasa Sakka bersalah karena wanita tadi lah yang sudah sangat keterlaluan orang.
Lia sadar jika saat ini Sakka benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1