Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
184. Posesif


__ADS_3

°°°


Akhirnya kini tersisa Lia dan Sakka saja, setelah tadi Rara di jemput oleh suaminya dan karena kelelahan akhirnya diapun pulang.


"Jadi dia calon kamu," ujar nona Jihan sang pemilik butik.


"Iya Tante, tadi aku lupa bilang kalau dia harus mencari Tante disini," ujar Sakka pada nona Jihan seraya melirik calon istrinya yang salah tingkah.


"Tidak apa-apa, tadi Tante juga sudah bertemu dengan dia. Ternyata gadis cantik itu yang mau jadi calon kamu, pantas saja ayah kamu sangat antusias menyambut menantunya. Dari luar saja sudah bisa dilihat kalau hatinya baik." Nona Jihan pun mengagumi sosok Lia.


"Ya sudah, ayo kenalkan pada Tante," ujarnya menatap Lia yang duduk agak jauh dari mereka.


"Baiklah, Tante pasti juga menyukainya. Sebentar aku kenalkan." Sakka menyuruh Lia untuk mendekat dan gadis itu mengerti.


"Lia, kenalkan ini Tante Jihan pemilik butik ini dan juga adiknya ayah dan Tante ini Lia calon istri ku." Sakka memperkenalkan mereka.


"Lia Tante," ujar Lia.


"Senang bisa berkenalan dengan mu, kamu lebih cantik dari yang kakakku ceritakan," puji nona Jihan.


"Anda juga sangat cantik," puji Lia kembali.


"Hahaha aku cantik karena perawatan, umur tidak bisa bohong. Kalau tidak dirawat pasti keriput dimana-mana. Sedangkan kamu, kulit kamu cantik alami."


Lia tersipu malu mendapatkan pujian seperti itu.


"Oh iya, mari Tante tunjukan gaun dan baju pengantin kalian." Nona Jihan menunjukkan sebuah ruangan dimana puluhan gaun pengantin berjajar di sana.


Apa ini ruangan kostum putri, indah-indah Sekali gaunnya. Yang mana yang mau aku pakai nanti. Lia terpana melihat keindahan rancangan dari nona Jihan sendiri.


"Ini gaun-gaun pengantin hasil rancangan ku. Bagaimana apakah bagus?" ujar nona Jihan sambil berjalan.


"Sangat memukau, semuanya terlihat sangat indah." Lia berkata jujur, dan memang seluruh dunia juga sudah mengakui kehebatan rancangan dari nona Jihan. Bahkan artis luar negeri juga pernah memesan gaun khusus dari rancangan nona Jihan.


"Punya kalian ada disini, ayo masuk."


Ternyata di dalam ruangan itu masih ada ruangan khusus lagi.

__ADS_1


Hanya satu kata yang pantas diucapkan saat memasuki ruangan itu. WAAHHH


Gaun dengan ekor yang panjang, di bagian bahu dan punggung dibuat terbuka. Terlihat sangat cantik dan elegan.


"Ini gaunnya, mau dicoba sekarang?" tanya nona Jihan seraya tersenyum lembut.


"Ini yang akan dipakai oleh ku?" Lia menganga dan takut kalau gaun seindah itu tidak pantas ia kenakan.


"Iya, apa kau suka?" tanya nona Jihan pada Lia tapi gadis itu malah diam saja.


"Sayang, apa kau tidak suka gaunnya. Kalau kau tidak suka nanti bisa kita ganti gaunnya," ujar Sakka, dia sebenarnya juga sedikit tidak setuju pada bagian atas yang terbuka.


"Bukan tidak suka, tapi gaun itu terlalu indah. Apa pantas aku kenakan, pasti jelek kalau aku yang pakai," ujar Lia.


"kamu juga pasti akan sangat cantik kalau memakai gaun itu sayang... cobalah agar kau tau betapa cantiknya kamu." Sakka masih berusaha untuk menumbuhkan rasa percaya diri Lia. Padahal sudah berulang kali mengatakan pada gadis itu kalau tidak perlu merasa insecure saat berada disampingnya.


"Yang dikatakan Sakka benar, kau coba saja kalau tidak percaya."


Lia melihat Sakka dan nona Jihan bergantian. Mungkin memang tidak ada salahnya mencoba, tapi bagaimana kalau gaun itu rusak saat aku coba. Harganya pasti sangat mahal kan.


"Ayo sayang, tunggu apa lagi. Aku juga akan mencoba jas nya." Sakka mendekati jas yang dipasang di manekin, warnanya sangat serasi dengan gaun itu.


"Sudah nona, kita bisa membuka tirai nya sekarang," ujar salah satu yang membantu Lia berganti pakaian.


Lia merona, dia malu menunjukannya pada Sakka. Entah apa penilaian pria itu melihatnya.


Tirai pun terbuka, Sakka yang sedang memainkan ponselnya pun langsung melongo dan terpaku.


"Wahh ternyata sangat cocok sekali dengan mu. Aku tidak salah pilih ternyata," ujar nona Jihan.


"Bagaimana Sak, apa kamu juga menyukainya?" Nona Jihan terkekeh melihat keponakannya terpukau pada calon istrinya.


"Iya aku suka, sangat suka. Cantik sekali..." Puji Sakka penuh kekaguman.


"Lihat kan Lia, Sakka saja sampai tidak bisa berkata-kata. Kamu itu sangat cantik jadi tidak perlu memikirkan hal yang macam-macam lagi. Jadilah dirimu sendiri, karena hal itulah daya tarik kamu."


Apa yang dikatakan nona Jihan benar. Tidak ada gunanya iri dengan orang lain dan merasa minder. Hidup orang lain yang terlihat bahagia dan penuh harta juga belum tentu aslinya bahagia.

__ADS_1


Nona Jihan menyuruh karyawan nya menyingkir dari sana karena sepasang manusia itu pasti butuh waktu berdua sekarang.


Tatapan Lia dan Sakka sejak tadi saling mengunci. Sakka yang menggunakan jas yang senada dengan nya juga terlihat sangat tampan.


"Apa aku cocok memakai ini?" tanya Lia.


Sakka pun mendekati Lia dan langsung menarik tengkuk gadis itu. Mema gut bibir Lia penuh perasaan. Gadis itu terhenyak saat pria yang berstatus sebagai calon suaminya itu tiba-tiba menciumnya. Matanya membola saat tangan Sakka mengusap punggungnya yang terbuka.


Hangat tangannya menimbulkan geleyeran aneh di tubuh Lia. Dia memejamkan matanya saat sentuhan ini kian melembut.


Apalagi saat bibir Sakka berpindah ke bahunya yang terbuka. Lia bahkan harus menggigit bibir bawahnya saat dia akan mengeluarkan suara desa hannya.


"Kamu sangat cantik dan cocok menggunakan gaun ini, tapi aku tidak suka ada yang terbuka. Aku tidak rela ada yang melihat punggung istri ku nanti." Sakka menggigit kecil pundak Lia membuat gadis itu meringis menahan sakit.


"Kenapa digigit," protes Lia.


"Aku ingin nya bukan gigit tapi takut keterusan, coba saja kita bisa menikah besok dan tidak perlu ada acara yang ribet dan banyak printilan nya. Pasti aku bisa segera membawamu kabur untuk bulan madu." Sakka menjatuhkan kepalanya di pundak Lia.


Lia mengerti, bagaimana pun mantan casanova pasti tidak akan tahan lama-lama berpuasa. Coba dia masih seperti dulu, pasti Lia sudah ia cicipi sebelum akad berlangsung.


"Ehhemm..."


Suara deheman seseorang membuat Sakka melepaskan pelukannya. Ternyata sang tante lah yang datang kembali ke ruangan itu.


"Bagaimana, apa kamu setuju dengan gaunnya Sak?" tanya nona Jihan pada Sakka.


"Cantik tapi aku tidak suka bagian punggung yang terbuka. Apa tidak bisa dibuat agak tertutup sedikit." Sakka mengutarakan pikirannya.


Nona Jihan tersenyum, rencananya berhasil. Karena sebenarnya juga gaun yang sebenarnya bukan yang itu. Dia hanya sedang menggoda keponakannya saja. Ingin tau seberapa bucin Sakka.


to be continue...


°°°


Ya elah kan bagus modelnya bang, pake gamis aja Lia, biar Sakka nya puas😂


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2