Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
149. Dewi Penolong


__ADS_3

°°°


Febby menangis dan meronta saat pria itu membawanya ke ruangan yang seperti gudang dan tidak ada satupun yang lewat. Dia berteriak sekencang-kencangnya, tidak peduli lagi mau semua orang tau siapa dirinya sebenarnya.


"Tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini," Febby memohon terus memohon sambil berusaha menjauh dari pria itu.


"Kau tidak bisa kemana-mana lagi babe. Sebentar lagi kita akan bersenang-senang, hahaha..."


Tawa pria itu semakin membuat Febby ketakutan. Tidak tau dengan apa lagi dia membujuk agar pria itu aku melepaskannya, sambil terus berdoa agar seseorang yang lewat dan mau menolongnya.


"Kemarilah babe, tidak usah malu-malu..."


Mendengar hal itu Febby benar-benar jijik, dia ingin mengamuk dan memberi pria itu pelajaran. Namun, mengingat saat ini dia sedang mengandung. Febby tidak mau mengambil resiko dan membahayakan nyawa anaknya, lebih baik dia menghindar sejauh mungkin.


"Kemarilah, sampai kapan kau mau kabur. Bukankah kau sangat senang dipuaskan. Sini aku tunjukkan kemampuan ku," ujar pria itu semakin frontal.


"Tidak!! Kau boleh meminta apapun tapi jangan minta aku untuk melayani mu. Aku sudah tidak seperti itu dan aku tidak mau kembali seperti dulu."


Teriakkan demi teriakkan Febby menggema, bersahutan dengan suara pria itu yang berusaha mendapatkan Febby. Tapi seolah-olah semua orang di kampus itu tuli, bagaimana mungkin tidak bisa mendengar teriakkan itu.


Ya Tuhan tolong selamatkan aku, tolong jangan menghukum ku seperti ini.


Yang Febby bisa lakukan hanya menangis.


"Cepatlah babe, jangan membuat kesabaran ku habis," pria itu masih berusaha mendapatkan Febby.


Febby terus berusaha berlari kesana-kemari di ruangan itu, tidak bisa dia tidak ingin menyerah dan menjadi pemuas naf*su pria gilaa itu. Dia berlari ke arah pintu dan berhasil tapi sayangnya pintu itu telah dikunci dan di ambil kuncinya.


"Apa kau mencari ini?" tanya pria itu sambil menunjukkan kunci pintu yang ia pegang.


"Tolong berikan kuncinya dan biarkan kau keluar, kita bisa bicarakan baik-baik. Maaf kalau dulu aku sudah memanfaatkan kamu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Kalian sendiri yang datang padaku." Febby terus memohon.


"Hahahaha... maaf katamu. Layani aku dulu baru aku pikirkan untuk memaafkan mu."


Pria itu bergerak semakin dekat dengan Febby yang masih berusaha untuk membuka pintu.


"Jangan membuat kesabaran ku habis." Pria itu berhasil menarik tangan Febby.


"Tidak... tolong... siapapun tolong aku..." Teriakkan yang begitu keras.


,,,


"Sepertinya ada suara orang minta tolong, sepertinya suaranya dari sana," gumam seseorang yang baru saja datang. Dia melangkah mencari sumber teriakkan tadi.

__ADS_1


"Suaranya dari sini... tapi mana orangnya?" tanyanya melihat sekeliling ruangan kosong.


"Toloooongggg....!!!"


Suara itu terdengar lagi.


"Dari ruangan itu sepertinya, aku harus melihatnya." Dia melangkahkan kakinya melihat apa yang terjadi, bagaimana jika ada orang yang membutuhkan bantuan.


"Terkunci pintunya," gumamnya setelah sampai di depan ruangan yang menjadi sumber teriakkan tadi. Sampai sekarang pun dia masih mendengar suara minta tolong sekaligus tangisan.


"Aku harus memeriksanya," dia naik ke atas bangku yang ada di luar dan melihat lewat jendela. Seketika matanya membulat saat melihat seorang wanita sedang dikungkung oleh pria, dia tebak pasti itu adalah tindakan pelecehan.


"Aku harus menolongnya." Dia berusaha berpikir cepat, meminta tolong pada para mahasiswa sepertinya akan lama dan belum tentu mereka percaya. "Aku tau harus minta tolong pada siapa."


,,,


Di dalam ruangan.


"Tolong, aku mohon... kamu akan menyesal kalau melakukan itu padaku." Suara Febby bahkan sudah sangat lirih, tenaganya habis untuk berteriak tapi pria itu sudah berhasil mengungkungnya.


"Aku akan menyesal kalau tidak mencicipimu!" Seringai licik ada pada wajah pria itu.


Cuiiihh!!


Febby sudah pasrah saat pria itu dengan kasarnya mencekik lehernya, sambil tangan satunya berusaha membuka pakaiannya. Hanya air mata yang terus keluar dari matanya. Mungkin setelah ini, Mike tidak akan lagi menerimanya.


Bug!!


"Lepaskan dia!!" Suara pukulan dan seseorang membuat pria itu membalikkan tubuhnya.


"Kurang ajar, siapa yang berani mengganggu kesenangan ku!" Pria itu memegangi punggungnya yang terkena pukulan.


"Bawa dia ke kantor polisi," ujar seorang wanita itu.


"Siapa kalian, apa hak kalian mengganggu sepasang kekasih yang sedang bersenang-senang!" Pria itu masih ngotot merasa tidak bersalah. Tapi sayang orang suruhan wanita tadi tetap membawanya pergi.


"Hai... lepaskan aku. Ngapain kalian selamatin Pela*cur seperti dia. Tubuhnya sudah kotor sebelum aku menyentuhnya!"


"Cukup!! Cepat bawa dia pergi" perintah wanita itu lagi.


"Baik Nona." sang ajudan menyeret pria itu pergi dari sana.


"Kau jangan senang dulu Feb, aku akan menyebarkan foto-foto itu. Hahahaha..." Pria itu terus berteriak seperti orang tidak waras.

__ADS_1


Febby masih tergugu dalam derai tangisnya, dia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya.


"Kak Febby tidak apa-apa? Ayo aku bantu bangun, kita pergi dari sini kak," ajak wanita itu.


Mendengar suara wanita itu, Febby pun mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya saat melihat siapa orang yang telah menolongnya.


"Rara... kau kah itu. Kau yang menolongku...?" ujarnya tidak percaya.


"Kakak sudah tau namaku, kak Febby tidak apa-apa. Apa ada yang terluka?" ya dia Rara, gadis baik yang tidak pernah memendam perasaan dendam pada orang lain.


"Kenapa kau mau menolong ku?" tanya Febby, bagaimana mungkin orang yang telah ia sakiti justru menolong dirinya.


"Ayo aku bantu kakak, kita ke ruangan kesehatan saja sebaiknya. Kita periksa dulu keadaan kakak," ujar Rara seraya membantu Febby untuk berdiri. Dia tidak menjawab pertanyaan itu.


"Kenapa kamu mau menolong ku, kenapa tidak memilih membiarkan aku saja?" tanya Febby yang masih tidak percaya.


"Tidak ada alasan kak, menolong orang tidak perlu alasan dan tidak perlu pilih-pilih." Rara tersenyum pada Febby.


Sampailah mereka di dalam ruang kesehatan kampus. Rara membantu Febby berbaring dan menunggunya di periksa.


"Bagaimana Dok? apa ada luka serius?" tanya Rara.


"Tidak ada, hanya beberapa luka lecet dan memar. Bisa hilang nanti setelah di beri obat dan salep," ujar dokter.


"Terimakasih Dok, oh iya nanti aku minta tolong tuliskan bagaimana keadaan kak Febby untuk diserahkan ke kantor polisi," ujar Rara.


"Tentu saya akan membuatkannya."


Rara beralih pada Febby yang sedang berusaha untuk duduk.


"Apa kak Febby butuh sesuatu? Biar aku saja yang ambilkan," ujar Rara.


Namun, Febby malah menggenggam tangan Rara dan tersenyum. "Terimakasih..."


Rara pun tersenyum mendengarnya, "Sama-sama kak."


to be continue...


°°°


Butuh Like dan komen nih biar semangat...


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2