
°°°
Rara sudah menunggu dengan perasaan yang campur aduk, dia khawatir jika nanti suaminya tidak menyukai kejutan yang ia buat.
"Hai... ngalamun aja si, Dek." Luna menegur adiknya yang menyendiri. "Tidak usah ditungguin terus, nanti juga pulang," ledeknya.
"Mbak, bukan begitu tapi aku takut kak Revan tidak menyukai pestanya." Rara malu-malu.
"Kami sudah menyiapkan semuanya susah payah mana mungkin suamimu tidak menyukainya."
"Semoga saja Mbak," ujar Rara.
Sementara kakek sudah cemas karena sejak tadi cucunya belum juga datang, padahal ia sudah menyuruhnya pulang sejak jam tujuh tapi sampai sekarang Revan belum juga datang.
"Bagaimana, apa kau sudah mencari tau kemana anak itu?" tanya kakek pada pak Ahmad.
"Menurut security perusahaan, Tuan Revan sudah pergi dari pukul setengah delapan, Tuan," terang pak Ahmad.
"Kemana anak ini, seharusnya dia sudah sampai dari tadi. Para tamu sudah menunggu dari tadi." Kakek gelisah mendapati cucunya yang tak kunjung pulang. Ia juga tidak enak pada besannya.
"Ahmad, kau suruh orang untuk mencari tau keberadaan anak itu. Aku akan menemani para tamu lebih dulu."
"Baik Tuan."
Kakek pun berjalan menuju tamu dan besannya yang sedang bercengkrama. Beruntungnya para kerabatnya tidak ada yang memandang orang dari harta dan kekuasaannya. Semuanya seperti kakek Tio, ramah dan sopan. Padahal mereka semua dari kalangan terpandang, ada yang pengusaha ada juga yang jadi pejabat.
Abi mengobrol dengan para laki-laki dan umi dengan ibu-ibu.
Rara berulangkali melihat kearah jarum jam, kata kakek suaminya akan pulang jam delapan tapi hingga hampir pukul sembilan belum juga sampai. Namun Rara tidak berani bertanya pada kakek, mungkin saja kakek telah merubah rencananya.
,,,
Sementara Revan harus mencari jalan memutar karena jalan pintas untuk sampai ke rumah ternyata sedang ada perbaikan.
Mau menghubungi orang rumah ternyata ponselnya kehabisan baterai. Jadilah ia berusaha melajukan mobilnya sedikit cepat.
Hingga hampir satu jam akhirnya Revan sampai juga di depan rumahnya. Karena pergi mengantar wanita itu lebih dulu jadi ia harus mencari jalan memutar.
"Kenapa banyak mobil, benarkan ini rumahku?" gumam Revan yang merasa heran dengan adanya banyak mobil yang terparkir di depan rumahnya.
__ADS_1
Revan pun keluar dari mobil, dengan masih diliputi banyak pertanyaan. Ia berjalan memasuki rumahnya, bertepatan dengan kakek yang hendak keluar.
"Assalamualaikum Kek," Revan pun menyalami kakek dan orang-orang yang hendak keluar bersama kakek, yang ternyata adalah para paman dan bibinya.
"Kau baru pulang nak, pasti kau sibuk sekali di kantor ya," ujar seorang bibinya.
"Bibi benar, paman dan bibi kapan datang, kenapa sudah mau pulang?" tanya Revan yang masih belum tau apa-apa.
"Sudah terlalu malam, kami para orang tua tidak sudah tidak kuat begadang. Selamat karena sekarang kamu sudah resmi menggantikan kakekmu ini." Paman yang lain memberi selamat dan diikuti yang lainnya juga.
"Terimakasih paman, bibi. Tapi Revan belum bisa membanggakan kakek," ujar Revan.
"Pelan-pelan saja nak, kau pasti bisa."
Setelah bertegur sapa sebentar dengan Revan akhirnya para tamu pun pulang. Kakek yang tadi raut wajahnya masih biasa saat masih banyak orang langsung berubah ketika tersisa hanya mereka berdua.
"Kakek, maafkan aku terlambat. Tadi aku..."
Ucapan Revan terpotong karena tangan kakek tiba-tiba terangkat.
"Kakek, tidak butuh penjelasan darimu, simpan saja penjelasan mu untuk istrimu nanti."
"Bantu aku untuk ke atas," perintah kakek pada pak Ahmad, sang pelayan setianya itu pun segera melakukan apa yang disuruh.
"Dimana istriku Kek?" tanya Revan yang masih bingung karena kakek terlihat sangat kesal.
"Masih tanya, cepat kau kebelakang dan lihat sendiri. Kakek mau istirahat," ketus kakek saat mengatakannya.
Revan pun segera melangkahkan kakinya ke halaman belakang.
,,,
Di belakang Rara sedang membantu membereskan sisa-sisa pesta yang gagal karena yang diberi kejutan ternyata tidak kunjung muncul. Kecewa sudah pasti, bohong jika Rara berkata tidak apa-apa.
"Non, biar bibi dan pelayan yang lain yang membereskan. Nona Rara beristirahatlah," ujar bi Mur yang merasa kasihan pada nonanya. Dari pagi gadis itu sudah mulai menghias hingga benar-benar mempersiapkan dengan matang.
"Tidak apa-apa bi, mari kita selesaikan ini semua bersama. Maaf sudah merepotkan kalian." Rara merasa sangat bersalah pada semua orang. Ini semua adalah idenya dan semua orang sudah dibuat repot olehnya.
"Tapi non..."
__ADS_1
"Lanjutkan saja pekerjaan bibi, kami akan membantu. Bukankah semakin banyak orang akan semakin cepat selesai." Luna pun datang untuk membantu. Sebagai kakak, ia sangat tau apa yang dirasakan adiknya tapi Luna tidak ingin berkata apa-apa. Saat ini Rara hanya butuh semangat dan juga hiburan.
"Terimakasih Kak," ujar Rara seraya tersenyum.
Sementara umi dan Abi juga sama, melihat raut kekecewaannya di wajah putrinya tentu membuat mereka sedih. Tidak tau apa yang menyebabkan menantu mereka tidak bisa pulang tepat waktu.
Dari jauh Revan bisa melihat jika saat ini halaman belakang rumah itu sangat terang dan banyak hiasan. Dirinya yang bingung langsung bergegas kesana. Dilihatnya dekorasi yang sangat cantik dengan lampu dan bunga.
Ada apa ini, apa sudah ada pesta di rumah ini. Revan bertanya-tanya.
Tidak sengaja Luna melihat adik iparnya sudah kembali. Dia pun menghampirinya.
"Malam adik ipar," sapa Luna yang membuat Revan terlonjak kaget.
"Kakak ipar... kau ada disini juga?" tanya Revan tergagap.
"Iya apa kau terkejut, umi dan Abi juga ada disini loh. Entah apa yang mereka pikirkan saat melihat putri kesayangan mereka sedih." Luna mencoba membuat adik iparnya merasakan akibatnya sudah berani membuat Rara sedih.
"Umi dan Abi juga? Ada apa sebenarnya dan ini pesta siapa?" tanya Revan yang masih belum paham.
"Pestanya sudah selesai karena orang yang diberi kejutan tidak datang." Luna menyinyir adik iparnya.
"Ini pesta untukku?" Revan menatap halaman belakang rumahnya yang terlihat sangat indah.
"Sudah telat, pestanya sudah selesai. Lebih baik kau pikirkan alasan yang tepat untuk umi dan Abi, dia sangat kecewa karena kamu telah membuat putri mereka bersedih." Setelah mengatakan hal itu Luna pergi ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Membiarkan adiknya menyelesaikan masalahnya sendiri.
Revan berjalan keluar melihat pesta yang katanya disiapkan untuknya. Ada rasa bahagia dan haru menyelimuti hatinya. Tidak menyangka jika dirinya akan diberi kejutan seindah itu.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1