
°°°
Setelah menempuh waktu yang cukup lama akhirnya keluarga Rara sampai juga di kediaman keluarga Herwaman.
Kakek yang sudah tau jika besannya sudah di depan rumah pun segera pergi ke depan untuk menyambut. Tanpa memberi tahu cucu menantunya karena ingin memberi kejutan.
"Mbak bangun, kita sudah sampai di rumah suami Rara." Umi berusaha membangunkan putrinya yang masih terlelap.
"Sebentar lagi umi, aku masih mengantuk...," Luna malah keenakan tidur berasa di rumah sendiri.
"Astaghfirullah, ini anak gadis kalau sudah tidur paling susah kalau dibangunin." Umi geleng-geleng kepala melihat tingkah putri sulungnya.
Abi yang melihat putrinya enggan untuk membuka mata pun mempunyai ide, supaya Luna cepat membuka mata.
"Biar Abi saja yang bangunkan," bisik Abi pada istrinya de seringai tipis.
"Umi... apa ayam goreng nya sudah matang?" tanya Abi seraya memberikan isyarat agar istrinya menjawab.
"Sudah suamiku, ayo makan mumpung masih panas."
"Baiklah biar aku habiskan, semuanya. Sepertinya Luna tidak mau." Abi pun menggerakkan jarinya dan menghitung sampai tiga.
Benar saja pas hitungan ketiga Luna bangun dan langsung mencari ayam goreng kesukaannya.
"Dimana ayam gorengnya Umi?" tanya Luna dengan mata yang sudah terbuka lebar.
Sontak umi dan Abi pun tertawa setelah berhasil membangun putrinya.
Luna yang melihat kedua orangtuanya tertawa pun menyadari jika ia hanya dikerjai.
"Umi... Abi...," kesal Luna seraya mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.
"Maaf nak, habisnya kamu susah sekali di bangunin. Kita sudah sampai di rumah adik ipar mu." Umi yang merasa bersalah pun langsung menjelaskan alasannya.
"Ayo kita turun," ajak Abi.
Sementara Luna menatap takjub pada bangunan rumah yang nampak seperti istana itu. Tidak menyangka jika adiknya selama ini tinggal di tempat yang begitu megah.
"Ini benaran Rara tinggal disini, Umi?" tanya Luna yang masih tidak percaya.
"Iya nak, ayo turun. Kakek Tio sudah menunggu." Umi segera membuka pintu mobil dan disusul Luna, yang masih berdecak kagum dalam hatinya.
"Selamat datang kembali di rumah ini nak Aziz?" Kakek menyambut orangtua Rara dengan suka cita.
"Assalamualaikum Kek," ujar Abi
"Wa'alaikumsalam, bagaimana perjalanan kalian. Semuanya lancar nak?" tanya kakek.
"Alhamdulillah Kek, kami berterimakasih sekali kakek jadi repot-repot menyuruh orang untuk menjemput kami." Abi yang masih sungkan dan tidak enakan.
__ADS_1
"Tidak pernah merepotkan jika untuk keluarga sendiri," ujar kakek seraya memeluk Abi.
Umi dan Luna yang sedari tadi melihat interaksi Abi dan kakek Tio pun terharu.
"Assalamualaikum Kek," kini bergantian umi yang menyalami kakek.
"Wa'alaikumsalam, terimakasih sudah bersedia datang kemari lagi."
"Sama-sama Kek, kami ikut senang mendengarnya. Sebagai orang tua tentu kami sangat senang bisa ikut serta merayakan keberhasilan menantu kami." Umi tersenyum bahagia.
"Assalamualaikum Kek," Luna mendekati kakek dan menyalaminya.
"Wa'alaikumsalam, cucu kakek yang manis. Maaf Kakek tidak bisa hadir di acara wisuda mu waktu itu." Kakek sudah menganggap Luna sebagai cucunya juga seperti Rara. Walaupun baru sekali mereka bertemu saat pernikahan Revan dan Rara. Tapi dari sifat Luna yang gampang sekali dekat dengan orang lain, jadilah hubungan mereka terlihat akrab.
"Tidak masalah Kek, yang penting kadonya sudah aku terima," canda Luna, membuat suasana mencair.
"Apa kamu suka? kalau tidak suka nanti Kakek ganti yang lain," ujar kakek.
"Aku suka sekali Kek, gaunnya sangat indah." Ya pada saat di Jogja Rara menyerahkan kado titipan dari kakek untuk Luna.
"Syukurlah jika kamu suka, kakek tidak tau bagaimana seleramu. Besok kau bisa jalan-jalan bersama adikmu untuk memilih sendiri." Kakek mengusap pucuk kepala Luna.
"Oh iya, mari silahkan masuk. Aku sampai lupa tidak mempersilahkan kalian untuk masuk, malah mengobrol disini." Kakek yang terlalu antusias sampai lupa untuk menyuruh tamunya untuk masuk.
"Iya Kek, ngomong-ngomong dimana adikku Kek?" tanya Luna.
Mereka semua kini sedang berjalan masuk kedalam rumah.
"Kakek hebat sekali bisa terpikirkan ide seperti itu," ujar Luna seraya mengacungkan kedua jempol nya. Kakek pun tersenyum melihatnya.
"Mari silahkan duduk," kakek mempersilahkan besannya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kek, aku mau menemui Rara dulu ya?" tanya Luna.
"Pergilah, dia pasti senang melihatmu tiba-tiba ada di sini." Kakek mengijinkan.
"Umi, Abi aku mau melihat Rara dulu," pamit Luna dan diangguki oleh kedua orangtuanya.
"Bi tolong tunjukkan nona Luna dimana dapurnya," perintah kakek pada salah satu pelayan.
Luna pun mengikuti pelayan itu dari belakangnya.
Sembari matanya melihat takjub keindahan bangunan megah itu didalamnya, tidak hanya diluar yang begitu megah ternyata bagian dalamnya jauh lebih megah.
"Itu Non, dapurnya sudah terlihat," ujar pelayan itu pada Luna.
Luna pun mengikuti arah pandang yang dimaksud bibi pelayan, terlihat sang adik kecilnya berada disana.
"Baiklah terimakasih bi, sampai sini saja nganter nya bi. Biar aku kesana sendiri."
__ADS_1
"Sama-sama Non." Sang bibi pun pergi sesuai instruksi dari Luna.
Perlahan Luna berjalan mendekati dapur, sebagai orang disana sudah melihat kedatangannya tapi Luna menyuruh mereka untuk tidak bersuara melalui gerakan jari telunjuknya yang ditempelkan di bibir.
Rara yang posisinya membelakangi Luna, tentu tidak tau jika saat ini saudara perempuannya ada disana. Ia masih sibuk membuat kue.
Kini Luna sudah berada tepat di belakang adiknya, ia tidak sabar untuk membuat Rara terkejut.
"Emmm... apa kuenya sudah jadi?" tanya Luna dengan suara yang dibuat berbeda.
"Belum," jawab Rara tanpa ingin tau siapa yang bertanya.
"Cepat selesaikan, aku sudah lapar," ujar Luna lagi, seraya menahan tawa.
Rara sama sekali tidak bergeming, entah sedang memikirkan apa yang pasti saat ini ia sedang mengadoni tepung tapi pikirannya entah kemana.
"Woyy, kalau ada orang ngomong dijawab dong." Luna menepuk pundak adiknya.
Sontak Rara terkejut dan langsung berbalik.
"Ada ap... pa." Rara melongo melihat siapa dibalik punggungnya. "Mbak Luna... bagaimana bisa Mbak ada disini." Rara menatap tak percaya.
Luna pun tersenyum melihat reaksi Rara, "Tentu saja mbak datang, apa kamu tidak senang melihat Mbak ada disini?"
"Seneng lah Mbak, tapi kenapa aku tidak diberi tau jika mbak mau datang." Rara menatap kakaknya penuh selidik.
"Ini bukan ide mbak, kami saja kaget waktu ada mobil suruhan kakek Tio datang." Luna mencari pembelaan.
"Pasti kakek...," tebak Rara.
"Apa kamu tidak ingin memeluk mbak?" tanya Luna dengan memasang wajah sedihnya.
Rara pun menghambur memeluk kakaknya,
"Lihatlah, wajahmu penuh tepung," ujar Luna setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Aku sedang membuat kue Mbak, tentu saja penuh tepung. Oh iya apa umi dan Abi ada disini juga?" tanya Rara begitu semangat.
Rara sangat senang bisa bertemu kakaknya. Rasa rindu pasti akan selalu ada untuk keluarganya, apalagi dia anak bontot di keluarganya.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...