
°°°
Mike mengeraskan rahangnya seketika, urat-urat syaraf nya pun mulai mengencang. Gemuruh amarah di dadanya sudah mengepul, membumbung tinggi ke udara.
Matanya berkobar memancarkan kemarahannya yang tidak main-main.
Berani sekali seorang pelayan mencampuri urusan majikannya, terlebih lagi dia sudah berani menghina wanita sang majikan.
Mike hampir membanting ponselnya setelah mendengar apa yang dikatakan bi Ida barusan. Ingin rasanya dia memotong lidah laki-laki itu sekarang juga, agar dia tidak bisa lagi menghakimi wanita seenaknya.
Bagaimana bisa Mike memperkerjakan orang seperti itu di rumahnya, hal itu tidak bisa di biarkan. Mike tidak bisa membiarkan orang yang sudah menghina ibu dari anaknya hidup dengan tenang. Dia harus mendapatkan pelajaran.
Mike menekan layar ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo. Bereskan seseorang untukku. Gunakan cara seperti biasa!!" kata Mike dengan penuh kobaran api amarahnya.
Anak buahnya pun sudah mengerti akan maksud tuannya. Jangan ditanya cara apa yang biasa para mafia lakukan untuk menghukum musuhnya. Pastilah diluar nalar manusia biasa.
Bagi Mike menghina ibu dari anaknya sama saja menghina dirinya. Mike bisa baik pada orang yang baik tapi bisa lebih jahat pada orang yang jahat padanya.
Mike mendudukkan kembali tubuhnya di sofa, menyalakan lagi laptopnya. Dia sangat ingin melihat wanitanya saat ini, apakah benar dia tidak kenapa-kenapa setelah mendengar perkataan keji seperti itu.
"Maafkan aku, aku justru tidak ada saat kalian membutuhkanku. Aku berjanji, akan memastikan tidak ada orang yang berani menghinamu lagi."
"Maaf... ini salahku, seharusnya aku berani bertanggung jawab sejak awal dan menikahimu secepatnya."
Mike menangkup wajahnya dan meraupnya dengan kasar. Ia sungguh merasa menjadi laki-laki yang tidak berguna karena tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai dan calon anaknya.
Dipandanginya wajah Febby yang kini sudah terlelap di balik selimut yang menutupi tubuh seksinya. Meski tidak bisa melihat dengan jelas tapi Mike tau saat ini wajah wanita itu jauh lebih cantik tanpa make up yang tebal.
Walaupun bi Ida sudah bilang jika Febby tidak kenapa-kenapa, tidak marah dan tidak bereaksi apa-apa saat mendengar cacian itu. Tapi menurut pandangan Mike, tidak dengan hati wanita itu. Tidak tau apa yang ada di pikirannya.
"Aku akan segera pulang dan kita akan menikah." Janji Mike.
,,,
Esok paginya. Di tengah hawa dingin pagi hari di Bandung. Revan dan Mike sudah harus bergerak cepat untuk mengungkap kejahatan di balik kekacauan proyek yang ia rencanakan.
__ADS_1
"Mike kau sudah menyuruh orang untuk melihat bahan bangunan yang digunakan?" tanya Revan dengan nafas yang bahkan bisa terlihat di udara karena hawa dinginnya.
"Sudah Tuan, sebentar lagi kita akan tau hasilnya," ujar Mike.
Mereka berdua berjalan dengan gagahnya, memancarkan aura yang sulit diartikan. Tidak hanya itu, dibelakang mereka juga ada beberapa bodyguard yang menjaga.
Kedatangan mereka sontak membuat para pekerja ketar-ketir, dari pagi mereka sudah dikumpulkan dan saat ini harus menghadap pada orang tertinggi di perusahaan fresh grup.
Revan yang menggunakan kacamata hitam menatap tajam wajah-wajah itu. Tidak masalah kalau mau minta naik gaji atau ada kendala tinggal katakan saja, tapi kenapa mereka harus main-main dengan nyawa orang yang tidak bersalah.
"Coba ceritakan kronologi kejadian yang menewaskan dua pekerja itu," ujar Revan pada sang mandor.
"Tuan kami tidak tau apa-apa, tiba-tiba tembok itu runtuh dan menimpa mereka," terangnya.
Namun, hal itu tak lantas membuat Revan percaya begitu saja.
"Saya dengar kalian kerjanya malas-malasan dan suka menyuruh para pekerja untuk lembur hingga malam. Padahal dari atasan sudah menyuruh untuk tidak lembur." Revan mendekati orang itu dan berdiri di depannya.
"Tidak tuan, itu tidak benar. Coba anda tanyakan sendiri pada mereka," tunjuk sang mandor pada bawahannya.
"Sebaiknya memang seperti apa yang kamu katakan, jika semuanya tidak sesuai apa yang kamu katakan maka aku akan membawanya ke jalur hukum." Revan tidak bertanya lebih jauh lagi, karena dia belum mendapatkan bukti. Pasti orang itu hanya akan mengelak tanpa adanya bukti yang nyata.
"Mike, kita pergi," ajaknya pada sang asisten.
Mike pun mengikuti tuannya meninggalkan tempat itu. Tapi baru saja beberapa langkah, ada sebuah batu yang melayang ke arah Revan. Dengan sigap Mike melindungi tuannya, alhasil dirinyalah yang terkena batu itu di bagian punggung atasnya.
"Mike!!" Sentak Revan.
"Kau tidak apa-apa Tuan?" Dalam kesakitannya Mike masih memikirkan keadaan tuannya.
"Apa kau sudah gilaa Mike, bagaimana kalau batu itu mengenai kepalamu!!" Revan marah melihat assisten nya yang tidak memikirkan nyawanya sendiri.
"Tidak apa-apa Tuan, hanya luka kecil," ujar Mike masih terlihat santai karena memang dia pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari itu.
"Kalian semua!! Cepat cari siapa yang sudah berani melemparkan batu itu!!" perintah Revan pada para bodyguard nya.
Tiba-tiba sekelompok warga datang berbondong-bondong, sambil membawa papan spanduk dan meneriakkan kalimat yang ditujukan pada Revan yang notabene adalah bos dari proyek itu.
__ADS_1
Para bodyguard yang hendak pergi mencari pelaku pelemparan batu pun dengan sigap kembali dan pasang badan melindungi tuannya.
"Apa yang mereka lakukan?" bingung Revan menatap para warga yang bergerak semakin mendekat. Dari raut wajah mereka bisa dilihat jika mereka saat ini sedang marah.
"Sebaiknya anda segera pergi dari sini Tuan, biar saya yang menghadapi warga," tutur Mike yang tidak ingin tuannya kenapa-napa.
"Tidak Mike, kau sedang terluka. Aku tidak akan meninggalkan mu disini. Yang mereka cari adalah aku, biar aku saja menghadapi mereka. Bukankah kau pernah bilang jika menghindar tidak bisa menyelesaikan masalah." Revan kekeuh pada pendiriannya. Mike sudah menyelamatkan nyawanya tidak mungkin ia meninggalkannya assistennya sendiri dalam keadaan seperti itu.
"Tinggalkan desa kami!!"
"Batalkan proyek ini!!"
Teriakkan demi teriakkan semakin terdengar jelas di telinga Revan dan Mike saat warga sudah semakin dekat dengan mereka.
"Bongkar proyek ini!!"
"Iyaa...!!"
"Tunggu bapak-bapak dan ibu-ibu, ini sebenarnya ada apa kalian datang dengan ramai-ramai begini," Ujar Revan sedikit teriak agar warga mendengarnya.
"Kamu ingin anda membatalkan proyek hotel ini, yang sudah merugikan warga dan juga menghilangkan nyawa dua orang warga." Salah satu laki-laki berusia sekitar 40 tahun-an bersuara.
"Sebelumnya saya mohon maaf jika proyek ini sudah merugikan kalian, tapi saya mohon kita bisa membicarakannya baik-baik tidak perlu seperti ini." Revan berusaha menenangkan warga.
"Tidak usah banyak omong! Ayo kita hancurkan bangunan ini!!"
"Ayo!!"
Para warga menerobos masuk kedalam area proyek dan menghancurkan apa saja yang bisa mereka hancurkan dengan penuh amarah.
to be continue...
°°°
Like, komen, bintang lima yuk 🤗🤗🤗
Hari ini aku up 4 bab, di tunggu ya🤗🤗🤗
__ADS_1