
°°°
Mata Lia membulat, dadanya bergemuruh saat mendengar jika besok panti asuhan tempatnya banyak mendapatkan pelajaran dan tempatnya berteduhnya setelah di sia-siakan pamannya akan di ratakan dan di bangun sebuah swalayan.
"Apa!! Bagaimana bisa begitu Bun. Bukannya kemarin katanya masih ada senggang waktu seminggu lagi untuk mencari donatur yang mau membeli tanah itu."
"Kenapa tiba-tiba berubah, Bun. Apa dia tidak bisa melihat bagaimana nasib anak-anak yang tidak bersalah itu."
Mendengar ibu panti terisak, Lia pun ikut merasakan bagaimana perasaan ibu panti saat ini. Walaupun beliau bukan ibu kandung anak-anak asuhnya tapi kasih sayang yang beliau berikan sudah melebihi ibu kandung mereka.
"Apa yang akan bunda dan yang lainnya lakukan besok?" tanya Lia berusaha tetap tegar agar bisa mencari solusi.
📞"Tidak tau nak, kami tidak bisa melawan dan mempertahankan tempat itu. Surat-surat kepemilikan semuanya apa pada orang itu."
"Begini saja Bun, besok tolong bunda dan yang lain mengulur waktu sampai aku mendapatkan jalan keluar. Aku akan usahakan untuk pulang besok Bun." Lia tidak akan pernah bisa tenang jika tidak melihatnya langsung.
📞"Tapi kamu mau cari uang sebanyak itu dari mana nak, Kamu juga jangan menyusahkan diri sendiri nak, bunda tidak mau kamu terbebani."
"Tidak Bun, aku sama sekali tidak pernah merasa terbebani. Bunda dan adik-adik di panti adalah separuh hidupku, kalau tidak ada kalian aku tidak tau harus bagaimana dulu."
Lia ingat disaat keluarga sendiri menganggap nya beban, tapi ibu panti malah mengulurkan tangannya dan merangkulnya untuk tetap bersabar menjalani hidup.
📞"Kamu dan adik-adikmu adalah anak bunda, bunda tidak bisa memberikan apapun selain cinta dan kasih sayang. Dan bunda tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari kalian, bisa melihat kalian sukses dan mandiri adalah kado terindah untuk bunda."
Seandainya setiap ibu berpikir seperti ibu panti pasti tidak akan ada anak-anak terlantar karena disia-siakan orangtuanya. Banyak sekali anak yang tidak berdosa harus menanggung penderitaan yang diperbuat oleh orangtuanya, misalnya anak-anak dibuang karena lahir diluar nikah. Ada juga yang di buang karena mereka tidak sempurna.
Padahal mereka tidak pernah minta untuk dilahirkan, jika mereka tau akan disia-siakan pastilah tidak akan mau lahir dari ibu yang seperti itu.
Bunda, aku akan berjuang untuk kalian. Terimakasih sudah banyak memberikan aku pelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan ini.
"Aku akan berjuang bersama kalian."
__ADS_1
Meski tidak tau bagaimana caranya, tapi Lia yakin Tuhan tidak pernah tidur. Pasti akan ada jalan keluar jika niat kita baik.
Hampir dini hari dan Lia belum juga memejamkan matanya, dia sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan besok. Berharap akan ada keajaiban yang menghampirinya, agar ia bisa mempertahankan panti asuhan itu.
Lia juga menyusun rencana, bagaimana dia harus meminta ijin kuliah terlebih dahulu lalu ke tempatnya bekerja untuk meminta gajinya. Mungkin Lia juga akan mencoba meminta bantuan pada Bu bos, siapa tau beliau mau membantu.
,,,
Paginya di rumah keluarga Herwaman. Rara sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Tadi malam ia gagal untuk menceritakan masalah Lia, pagi ini Rara akan meminta waktu suaminya untuk bercerita.
Tidak mau terlambat Rara bergegas menyelesaikan masakannya.
"Bi, aku minta tolong. Ini tinggal diangkat sebentar lagi matang. Aku mau kembali ke kamar dulu." Rara meminta bi Mur untuk meneruskan masakannya yang hampir matang.
"Tenang saja Non, biar bibi yang selesaikan," ujar bi Mur.
"Terimakasih Bi." Rara pun segera melepaskan celemek yang ia pakai agar pakaiannya tidak kotor, lalu berjalan menuju kamarnya untuk melihat apakah suaminya sudah bangun atau kah belum.
Apa kak Revan sudah bangun? pikirnya.
Lalu Rara mendengar suara seseorang di luar kamar, dia pun menghampiri sumber suara yang ia pastikan itu adalah suara suaminya.
Sepertinya kak Revan sedang menelepon seseorang, siapa pagi-pagi begini sudah meneleponnya. Sepertinya ada hal penting, nanti saja aku mengatakannya.
Rara pun mengurungkan niatnya karena mendengar suaminya sedang berbicara serius dengan seseorang di telepon. Dia kembali masuk ke dalam dan memilih untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Walaupun begitu pikirannya terus memikirkan nasib panti asuhan yang di ceritakan oleh Lia. Ternyata masih banyak sekali anak-anak yang kurang beruntung di luaran sana. Ia harap suatu saat bisa membantu anak-anak terlantar.
Sejenak Rara ingat dengan kakaknya yang memilih untuk mendidik anak-anak di desanya, sungguh itu hal yang mengagumkan untuk Rara. Kakaknya yang lama hidup di kota malah mau bekerja di desa setelah menjadi sarjana. Untunglah kehidupan di kota yang banyak hal negatifnya, sama sekali tidak mempengaruhi kakaknya.
Selesai mengisi air Rara pun keluar dari kamar mandi, terlihat suaminya sedang berkutat dengan laptopnya dengan duduk di sofa. Rara mendekat dan duduk di samping sang suami.
__ADS_1
"Kakak tidak mandi?" tanya Rara pelan, tidak ingin sampai mengganggu suaminya yang sepertinya sedang mengurus masalah pekerjaan.
"Sebentar lagi, aku mau memeriksa ini," ujar Revan seraya mengusap tangan istrinya dengan lembut.
"Apa ada masalah di perusahaan, Kak?" tanya Rara lagi.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit masalah. Tapi mungkin akan menguras tenaga dan waktu," ujar Revan dengan sorot mata tajam. Baru semalam dia dan kakek membicarakan tentang orang-orang itu, pagi ini dia sudah mendengar jika ada masalah dengan proyek barunya yang ada di daerah Bandung.
Rara pun tidak berani lagi mengganggu suaminya, karena sepertinya masalah yang sedang dihadapi laki-laki itu bukanlah hal yang mudah. Ia berharap suaminya bisa menghadapinya dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, Rara sedang membereskan baju-baju suaminya untuk dimasukkan ke dalam koper kecil yang akan di bawa suaminya untuk meninjau langsung ke lokasi yang terjadi masalah.
"Sayang, apa sudah di siapkan bajaku?" tanya Revan yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan air yang masih menetes di otot-otot tubuhnya.
"Apa segini cukup Kak?" tanya Rara, ia tidak tau berapa hari suaminya pergi jadi hanya mengira-ngira saja.
"Sebenarnya belum, ada satu lagi yang pengin aku bawa tapi sepertinya tidak akan muat di masukkan ke koper," ujar Revan dengan yang terlihat sedih.
"Apa lagi Kak, kalau tidak muat nanti bisa pakai koper satu lagi."
Bukannya menjawab Revan malah memeluk tubuh istrinya erat. Seolah enggan untuk berpisah walau barang sejenak.
to be continue...
°°°
Ya ampun... tolongin Lia guys...
Hayuk patungan buat tolong Lia.
Yuk pencet like biar Lia semangat...
__ADS_1