Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
181. Bagaimana Rasanya?


__ADS_3

°°°


Ternyata pagi-pagi sudah olahraga dengan suami itu cukup melelahkan. Seperti Rara yang saat ini rasanya lemas, lunglai dan letih.


"Pagi Ra,.." sapa Lia yang baru saja datang.


"Pagi juga...," jawab Rara malas-malasan.


"Kamu kenapa, kelihatannya lemes gitu. Apa kamu sakit, Ra?" Lia menempelkan punggung tangannya pada kening temannya.


"Tidak panas, tapi kenapa kelihatan pucat," ujar Lia merasa heran.


"Aku memang tidak sakit Lia, hanya lelah saja. Oh iya, apa nanti siang jadi fitting baju?" tanya Rara mengalihkan pembicaraan dari pada Lia bertanya lagi, mau jawab apa dia.


"Nanti jadi, kamu bisa temenin aku kan Ra. Please, temenin aku ya. Aku malu kalau hanya berdua dengan Sakka saja." Lebih tepatnya malu kalau harus masuk ke butik mahal. Mau minta gaun pengantin yang biasa saja juga tidak mungkin. Mau bagaimana pun ayahnya Sakka itu orang terpandang, tidak mungkin menyiapkan baju pengantin yang biasa saja untuk anaknya.


"Iya nanti aku temani, kamu tenang saja." Rara kembali meletakkan kepalanya di atas meja untuk mengurangi rasa lelahnya.


"Tapi kamu sepertinya kecapean Ra, apa tidak apa-apa kalau kamu pergi denganku nanti. Kalau kak Revan marah bagaimana," cicit Lia.


"Tenang saja, aku sudah minta ijin padanya tadi." Lirih Rara, dia hampir memejamkan matanya.


Lia yang melihat temannya tertidur di kelas hanya geleng-geleng kepala, baru pernah Rara seperti itu. Sebenarnya apa yang membuatnya kelelahan.


,,,


Sementara Revan di rumah sedang membahas masalah pekerjaan dengan sang kakek sambil tersenyum sendiri. Rasanya sangat lega pagi ini, membuat wajahnya bersinar.


"Apa kau mendengarkan Kakek," sentak kakek yang melihat cucunya melamun.


"Dengar Kek, lanjutkan saja. Aku mendengar nya."


"Apa kau habis membuatkan cicit untuk kakek?" tanya kakek begitu saja.


Revan yang mendengar pun hanya tersenyum kikuk, bingung mau jawab apa. Lagian kakeknya itu kepo sekali pada urusan ranjang cucunya.


"Kakek paham pada anak muda seperti kalian, semoga saja Rara segera mengandung agar kakek segera menimang cicit." Di umurnya yang telah senja, tidak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia selain keluarga yang lengkap dan ingin segera melihat keturunan-ketururannya.


"Aku akan bekerja keras untuk itu Kek."

__ADS_1


"Ya tapi jangan sampai membuat cucu menantu kakek kelelahan juga, kasihan Rara kalau kamu terus menerus menggempur nya," tukas Kakek memperingati cucunya.


"Aku tau Kek... apa sudah selesai? aku mau ke rumah sakit Kek, untuk mengurus laporan dan cek up terakhir." Revan melihat jam tangannya.


"Sudah, kita bisa lanjutkan nanti. Kau ke rumah sakit saja. Apa mau kakek temani?" tawar kakek Tio.


"Tidak perlu Kek, aku akan meminta pak Ahmad mengantarku dan nanti juga ada pengacara juga." Revan bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan kerja kakeknya. Yang sekarang dijadikan ruang baca atau perpustakaan mini oleh beliau.


"Jangan lupa memakai kacamata dan masker, jangan sampai ada yang melihatmu. Kita harus memberi mereka kejutan," ujar kakek Tio.


"Iya Kek, aku tau. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam.


,,,


Di kampus.


Selesai kelas, Lia membangunkan Rara yang masih tertidur selama dosen mengajar. Untunglah tadi dosen yang mengajar itu bukan dosen yang galak jadilah Lia membiarkan temannya tertidur.


"Rara bangun... waktunya pulang," ujar Lia sambil mengguncang tubuh Rara.


"Apa dosen sudah datang?" tanya Rara dengan mata yang masih terasa lengket.


"Yang benar, dosen sudah selesai mengajar sejak tadi," ujar Lia seraya terkekeh.


Sontak Rara langsung melebarkan matanya dan hilang rasa kantuknya. Jadi dia sudah melewatkan mata kuliah hari ini.


"Tenang saja Ra, aku sudah mencatatkan untuk kamu." Lia menyodorkan bukunya pada temannya.


"Lia, kamu memang teman yang baik," ujar Rara dengan mata berbinar dan memeluknya temannya.


Kedua sahabat itu saat ini sudah berada di dalam mobil jemputan, menuju ke butik tempat Lia akan melakukan fitting baju pengantin.


"Apa Sakka tidak ikut?" tanya Rara.


"Dia nanti menyusul, ada yang perlu dia urus katanya," terang Lia. Rara tampak menganggukkan kepalanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Rara tampak memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Tanyakan saja Ra, aku akan menjawab kalau aku bisa."


"Bagaimana rasanya mau menikah dengan orang yang kamu cintai, apakah berdebar?" Rara penasaran karena dulu saat menikah dia tidak menikmati prosesnya sama sekali, yang ada hatinya gelisah saat itu.


"Kenapa kamu bertanya, bukannya kau juga pernah merasakan nya Ra," ujar Lia tanpa sengaja, dia tidak ingat kalau dulu Rara menikah karena dijodohkan.


"Karena aku berbeda, aku bahkan tidak mengenal calon suamiku saat itu." Jika mengingat pada masa itu rasanya masih menyesakkan.


"Ya ampun... maafkan aku Ra, aku lupa. Kamu jangan sedih lagi, sekarang kan kak Revan sangat mencintai kamu seorang. Aku bahkan pernah iri pada kalian yang terlihat begitu mesra." Lia berusaha membuat temannya kembali ceria.


"Aku tidak sedih, iya aku tau sekarang kak Revan sangat mencintai ku. Ehh... kamu belum menjawab pertanyaan ku. Bagaimana, coba ceritakan rasanya mau menikah dengan orang yang kita cintai." Rara antusias mau mendengarkan cerita Lia.


"Rasanya bahagia sekaligus takut dan berdebar-debar, kata orang kalau menjelang hari pernikahan itu banyak cobaan. Takutnya nanti tiba-tiba muncul masalah di tengah jalan," terang Lia. Walaupun sampai sekarang lancar-lancar saja tapi tidak ada yang tau besok, bahkan apa yang akan terjadi satu jam lagi juga tidak ada yang tau.


"Masalah pasti akan ada terus, bahkan setelah kita menikah jadi jangan sampai satu masalah mempengaruhi rencana kalian. Bersikaplah dewasa dalam menghadapi masalah Li, kalau Sakka jadi api kamu harus jadi airnya. Begitu pun sebaliknya," Ujar Rara mencoba memberikan sedikit masukkan.


"Apapun yang terjadi kalian juga harus membicarakan masalah kalian berdua, mempertimbangkan berdua dan memutuskan apa jalan keluar nya sama-sama." Sambung Rara.


"Kamu benar Ra, buat apa mengkhawatirkan masalah yang akan datang. Sementara masalah setelah menikah juga banyak terjadi pada pasangan, terimakasih sarannya Ra. Sekarang aku mengerti harus bagaimana kalau memang ada masalah kedepannya." Bersyukur sekali karena Lia cerita pada orang yang tepat.


"Itu butiknya," tunjuk Lia, seraya mencocokkan nama yang tertera pada pesan yang Sakka kirimkan.


"Ayo turun," ajak Rara.


"Tunggu Ra, apa kita pulang saja." Lia ragu untuk turun, entah kenapa firasat nya tidak baik.


"Kenapa? Kita sudah sampai, masa pulang lagi."


"Aku malu Ra, lihatlah. Yang masuk kesana semuanya orang-orang berkelas. Sedangkan aku...," lagi-lagi Lia insecure, tidak percaya pada dirinya sendiri.


to be continue...


°°°


Ayo percaya diri Lia, kamu harus percaya diri agar bisa berdiri di samping Sakka.


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️

__ADS_1


Sehat selalu pembacaku tersayang.


__ADS_2