
°°°
Keesokan harinya.
Tidak seperti biasanya, Hari ini Rara tidak seperti biasanya. Dia bangun kesiangan dan tidak sempat membuat sarapan untuk sang suami dan kakek Tio.
"Sayang, kita ke dokter yaa?" ajak Revan yang tidak tega melihat istrinya berwajah pucat.
"Tidak perlu kak, istirahat saja nanti juga sembuh," jawab Rara, entah kenapa tubuhnya terasa lemas pagi ini dan malas untuk bangun.
"Tapi bagaimana kalau tiba-tiba keadaanmu memburuk saat aku tidak ada." Revan mengusap lembut pipi istrinya yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Jangan khawatir kak, kan ada banyak orang di rumah. Kalau sudah tidur juga nanti baikan," ujar Rara seraya memegang tangan suaminya yang masih berada di atas pipinya.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji kalau nanti kamu belum membaik juga harus segera hubungi aku," tegas Revan yang sebenarnya tidak ingin meninggalkan istrinya yang sedang tidak enak badan tapi pekerjaannya masih banyak.
"Iya kak."
"Aku akan usahakan untuk pulang cepat hari ini. Sekretaris yang baru juga sudah mulai bekerja, semoga saja dia bisa cepat belajar dan sedikit bisa mengurangi beban ku." Revan sungguh tak sanggup kalau harus mengerjakan semuanya sendiri. Dia juga jadi tidak punya waktu banyak dengan sang istri.
"Apa kakak punya sekretaris sekarang?" entah kenapa mendengar hal itu Rara jadi tidak mengantuk.
"Iya, agar aku tidak perlu lembur lagi kalau ada yang menggantikan pekerjaan Mike dan aku bisa lebih banyak waktu denganmu." Revan mengecup bibir istrinya sekilas.
"Tapi nanti kalau kak Mike bangun bagaimana, apa dia akan di pecat?" tanya Rara.
"Tidak dong sayang, Mike akan tetap jadi assisten ku yang utama kalau dia sudah pulih sepenuhnya. Lalu sekretaris yang ini ya hanya tinggal membantu saja," terang Revan.
"Oh... apa sekretaris kakak itu perempuan?" lirih Rara dengan mengalihkan pandangannya.
Sementara Revan justru gemas melihat istrinya bertanya seperti itu. Dia senang karena artinya sang istri cemburu padanya.
"Apa kau cemburu sayang?" goda Revan dan berhasil membuat pipi istrinya menyembul kemerahan.
"Mm... tidak, kenapa aku cemburu. Aku hanya ingin tau saja," elak Rara tapi tidak berani menatap mata suaminya.
__ADS_1
"Benarkah? Kau tidak cemburu? Padahal aku pikir kamu cemburu dan akan menyuruhku untuk menjaga jarak dengan nya, sepertinya aku berpikir terlalu banyak. Istriku sama sekali tidak cemburu, atau mungkin istriku tidak benar-benar mencintai ku." Revan bermonolog sendiri dengan menampilkan wajah sedih.
Rara melongo mendengar perkataan suaminya. Mana mungkin dia tidak cinta, kalau tidak cinta untuk apa dia bertahan dengan bersabar begitu banyak selama ini.
"Bukan begitu kak, kenapa kak Revan bilang seperti itu. Bukan aku tidak cemburu tapi aku hanya ingin percaya pada kakak. Cemburu itu pasti, siapa istri yang tidak cemburu kalau ada wanita disekitarnya. Tapi kalau terus-terusan cemburu lalu akhirnya aku mengekang kakak, itu juga tidak baik untuk hubungan kita." Rara juga seorang wanita yang pasti punya rasa cemburu, tapi dia tidak mau terbelenggu dengan hal itu.
Revan terenyuh mendengar pengakuan istrinya. Sungguh besar rasa percaya yang sang istri berikan padanya. Bukannya melarang dan menyuruh Revan untuk mengganti sekretaris nya jadi laki-laki tapi lebih memilih untuk percaya dan menahan rasa cemburunya.
Revan pun membubuhkan kecupan di kening istrinya berkali-kali. Entah sudah berapa kali dia bilang kalau memiliki istri seperti Rara adalah keberuntungan terbesarnya.
"Terimakasih karena sudah percaya padaku. Aku pasti menjaga apa yang sudah kau percayakan dan akan selalu mengingat batasan ku," tutur Revan seraya berjanji.
Kau baik sekali istriku. Entah kebaikan apa yang sudah aku lakukan di masa lampau sampai Allah memberikan istri sebaik kamu untukku.
Beberapa saat kemudian.
Revan pun turun ke bawah setelah memastikan istrinya memakan sarapannya. Lalu ia sarapan di bawah dengan sang kakek.
"Bagaimana keadaan Rara?" tanya kakek yang tadi mendengar jika cucu menantunya tidak enak badan.
"Masih lemas katanya, sekarang dia sedang tidur," jawab Revan.
"Aku sudah mengajaknya tadi tapi dia menolak. Katanya dibawa tidur saja sembuh, coba nanti kakek bantu cek istri ku. Kalau nanti siang masih belum membaik aku akan membawanya ke dokter," pinta Revan. Lalu dia mengambil sandwich yang ada di atas piring. Mungkin karena hari ini bukan Rara yang masak jadi dia tidak berselera makan.
"Kamu tenang saja, kakek akan menjaga Rara dengan baik." Kakek sebenarnya berharap mereka memeriksa ke dokter untuk memastikan dugaannya tapi kakek Tio tidak ingin melihat mereka bersedih kalau ternyata dugaannya salah.
Setelah menghabiskan satu potong sandwich, Revan pun pamit dan berpesan juga pada bi Mur agar menjaga istrinya.
"Bi tolong cek istri ku sesering mungkin, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," pesan Revan.
"Baik Tuan, saya akan menjaga Nona dengan baik."
Mau tidak mau Revan harus percaya pada orang yang ada di rumah.
Beberapa saat kemudian, tibalah Revan di kantornya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor pun Revan langsung menghubungi orang rumah untuk memastikan kepada istrinya. Raganya ada di kantor itu tapi pikirannya tetapi di rumah.
Tok tok tok
"Masuk."
Ternyata itu kepala HRD yang datang bersama sekretaris barunya.
"Permisi Tuan, saya kemari untuk mengantarkan sekretaris yang baru di rekrut kemarin. Tadi saya sudah menjelaskan apa saja yang harus ia kerjakan," terang kepala HRD.
"Baiklah kau bisa tinggalkan dia," ujar Revan.
Kini hanya ada Revan dan juga sekretaris barunya yang bernama Rindu.
Wanita itu masih berdiri di tempat, tadi di ruang HRD dia sudah dipesani banyak hal bagaimana caranya menjadi sekretaris yang baik termasuk menjaga sikap dan selalu mematuhi perintah atasan. Jangan dulu bicara sebelum diperintah lalu dilarang menyela perkataan atasan dan masih banyak lagi.
Sementara Revan sedang mengambil beberapa berkas yang harus segera Rindu pelajari. Setelah dirasa cukup dia meletakkannya di meja.
"Ini kau bawa dan pelajari. Kau harus bisa dengan cepat mempelajari dokumen-dokumen itu, katakan padaku kalau sudah selesai. Kalau ada pertanyaan kau bisa bertanya pada yang lain, yang bersangkutan dengan yang ada di catatan itu." Revan menjelaskan semuanya secara rinci.
"Apa ku mengerti?" tanyanya kemudian.
"Mengerti Tuan, saya akan mempelajarinya," jawab Rindu dengan patuh.
"Baiklah, kau bisa keluar dan bawa ini ke ruangan mu yang ada di depan. Lalu sisanya tentang hal yang lain bisa dipelajari pelan-pelan," jelas Revan.
"Baik Tuan, saya permisi." Rindu pun mengambil setumpuk dokumen yang ada di meja untuk ia pelajari.
"Tunggu...!"
to be continue...
°°°
Eeeiitttsss....🤔🤔🤔
__ADS_1
Like komen dan bintang lima dulu yuk 👉👈
Gomawo ❤️❤️❤️