Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
53. Jangan Sentuh Sembarangan


__ADS_3

°°°


Sudah lelah berkeliling dan berburu kuliner khas Jogjakarta, akhirnya Rara dan rombongan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Kecuali Luna, dia tidak ikut kembali bersama mereka karena harus kembali ke asrama. Banyak hal yang mesti diurus untuk acara wisuda besok menjadi penyebabnya.


Rara sedang merasa sangat bahagia, belum sehari dia di kota istimewa itu tapi rasanya dia sudah jatuh cinta pada Jogjakarta. Pantas saja kakaknya selama ini sangat betah dan jarang sekali pulang.


Berbeda dengan Revan yang sepanjang jalan-jalan tadi merasa tertekan atas apa saja yang kakak iparnya katakan. Seolah setiap kata yang diucapkan oleh kakak iparnya adalah sebuah cambuk untuknya. Secara tidak langsung ucapan Luna telah merasuki alam bawah sadar seorang Revan. Sehebat itukah si calon psikolog itu.


Seperti saat ini Revan sedang melamun sendiri di balkon.


"Kak, apa ada yang Kakak pikirkan?" tanya Rara yang merasa suaminya tidak seperti biasanya.


"Tidak apa-apa, kenapa kesini ayo masuk di sini sangat dingin." Revan tidak ingin istrinya tau apa yang dia pikirkan. Biarlah ia menebus kesalahannya.


"Apa karena Mbak Luna, apa kalian membicarakan sesuatu tadi?" Rara ingin tau apa yang kakaknya katakan, ia yakin kalau kakaknya itu pasti berbicara yang tidak-tidak dan membuat suaminya seperti sekarang.


"Kami tidak membicarakan apapun, hanya hal biasa," elak Revan.


"Aku tau Kak Revan sedang berbohong, maafkan Mbak Luna Kak. Dia hanya terlalu menyayangi ku." Rara merasa bersalah atas apa yang kakaknya katakan hingga membuat suaminya murung.


"Aku mengerti dan apa yang dikatakan kakak ipar memang benar, tapi apa boleh aku tau dari mana dia tau tentang...."


"Hubungan Kak Revan dengan Febby?" potong Rara dan Revan pun mengangguk.


"Kami sudah menebaknya dari awal, ya pada saat itu Mbak Luna bicara banyak padaku sebelum kita menikah. Tentang bagaimana nanti jika tebakan kita benar kalau ada orang ketiga dalam pernikahanku." Rara menjelaskan semuanya pada sang suami.


"Jadi saat aku bilang di mobil jika aku masih mempunyai kekasih, kamu sudah menebaknya dari awal. Itu sebabnya kamu tidak terkejut." Revan tidak menyangka jika istrinya sudah tau dari awal jika ia masih berhubungan dengan wanita lain.


Rara pun mengangguk.


"Lalu kenapa kamu masih mau menikah denganku saat itu?" tanya Revan.


"Karena Kakak adalah jodoh yang Allah kirim untukku, memang awalnya aku menerima perjodohan ini karena kakek Tio. Aku tidak tega melihatnya, beliau benar-benar sangat tulus saat memintaku menikah denganmu."


"Namun, berjalannya waktu aku sadar jika Allah yang sudah mengatur itu semua," ujar Rara.


"Terimakasih karena mau menerima ku dan segala kesalahanku. Aku akan mengakhiri kesalahanku setelah pulang dari sini," janji Revan, seraya memegang tangan lembut tangan istrinya.


Rara senang mendengarnya, meski tidak tau apa mungkin suaminya bisa dengan mudah memutuskan hubungan dengan perempuan itu. Mengingat bagaimana terobsesinya Febby pada Revan.

__ADS_1


"Sudah malam Kak, sebaiknya kita msuk ke dalam," ujar Rara yang pipinya sudah memerah, di bawah cahaya bulan malam ini.


Sudah terbiasa tidur di satu ranjang, mereka pun tidak canggung lagi. Meski dengan suasana dan tempat yang berbeda. Mereka sudah sama-sama merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Revan ragu-ragu dan itu juga berhasil membuat Rara terperanjat.


Namun kemudian Rara menganggukkan kepalanya, memberikan ijin pada suaminya.


"Benarkah," ujar Revan yang masih tidak percaya.


Sekali lagi Rara menganggukkan kepalanya dengan pipi yang memerah.


Revan langsung berteriak kegirangan dalam hatinya karena mendapatkan ijin dari istrinya. Lalu perlahan ia mendekat dan melingkarkan tangannya pada perut sang istri.


"Terimakasih," ujar Revan seraya mengeratkan pelukannya.


Rara juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, bahkan saat ini dadanya berdebar kencang saat merasakan tangan suaminya sudah melingkarkan sempurna perutnya dari belakang. Karena tadi Rara memunggungi suaminya, ia terlalu malu.


Saat ini Revan benar-benar bahagia karena bisa tidur dengan memeluk tubuh istrinya. Ia pun semakin merapatkan tubuhnya, merasakan kehangatan dan aroma khas milik sang istri. Perasaannya saat ini sangat bisa membuat tubuhnya terlelap dengan mudahnya.


Sementara Rara, ia belum juga bisa memejamkan matanya. Wajah Revan yang berada tepat di belakang kepalanya membuatnya geli, karena hembusan nafas suaminya mendarat di tengkuknya.


Bagaimana ini, susah sekali melonggarkan pelukannya. Bingung Rara.


Revan yang merasakan gerakan kecil dari istrinya pun sedikit membuka mata.


"Ada apa?" tanya Revan disela rasa kantuknya.


"Itu Kak, bisakah longgarkan sedikit pelukannya," jawab Rara dengan hati-hati.


"Apa aku membuatmu tidak nyaman." Revan langsung melepaskan pelukannya dan terduduk.


"Tidak, bukan seperti itu Kak. Aku hanya belum terbiasa dan rasanya aneh." Rara malu-malu mengatakannya.


Revan pun tersenyum, sepertinya sang istri bukan tidak mau dipeluk tapi dia juga merasakan apa yang dirinya rasakan sejak awal. Ya reaksi bagian bawah tubuhnya yang berlebihan hanya dengan bersentuhan dengan Rara.


"Kau harus mulai terbiasa mulai sekarang, karena aku ingin memelukmu setiap malam," ujar Revan menatap wajah istrinya.


Revan akan memperbaiki semuanya dan membuat istrinya merasa nyaman didekatnya. Dia tidak akan memaksa jika Rara belum siap.

__ADS_1


"Ayo kita tidur." Revan kembali menarik Rara dalam pelukannya.


Kali ini mereka berhadapan, wajah Rara berada didepan dada bidang suaminya yang hanya terbalut kaos tipis. Sangat jelas sekali Rara bisa merasakan kehangatan dan kerasnya tubuh suaminya.


"Jangan sembarang bergerak seperti tadi, tidurlah." Ya Revan tidak mau ia melewati batasannya sebelum ia menyelesaikan masalahnya. Tunggu sampai ia selesai berurusan dengan Febby, barulah ia akan perlahan mendekati istrinya.


Rara yang tidak tau kenapa suaminya melarang ia bergerak hanya diam saja. Akan tetapi, ada hal yang membuatnya merasa penasaran. Perlahan Rara menggerakkan tangannya dan memainkan jari jemarinya pada dada dan perut suaminya.


Entahlah, Rara benar-benar tidak mengerti kenapa ia melakukan itu. Rasa penasaran menguasainya dan membuatnya berani menyentuhnya.


Tidak taukah Rara jika perbuatannya sudah membuat sang suami bergejolak hebat. Revan tidak yakin bisa terus menahannya jika sang istri terus memainkan jarinya.


Pada puncaknya Revan menghentikan tindakan istrinya, memegang tangannya yang sejak tadi seperti menari-nari di dadanya.


"Apa kau mau menyiksaku?" tanya Revan dengan nafas yang memburu.


Rara melongo karena ia benar-benar tidak mengerti ke arah mana maksud perkataan suaminya. Bagaimana bisa hanya menyentuhnya sedikit disebut menyiksa.


Sementara Revan mencoba mengatur nafasnya dan mengontrol hasratnya yang sudah meninggi. Sepertinya sang istri masih sangat polos akan hal itu dan Revan tidak bisa sembarang bicara atau Rara akan merasa takut.


"Dengar, jangan pernah melakukan hal seperti tadi pada pria lain. Hanya boleh melakukannya padaku," ujar Revan menatap lekat wajah istrinya, perlahan ia memberikan pengertian jika apa yang dilakukan oleh Rara barusan sangat berbahaya jika ia juga melakukannya pada pria lain.


Meski Rara masih tidak paham kenapa suaminya berkata seperti itu, tapi ia juga tidak mungkin menyentuh pria lain yang bukan muhrimnya.


"Aku tidak mungkin menyentuh pria lain Kak," ucap Rara.


"Baguslah." Setidaknya sedikit membuat Revan lega, istrinya yang tau agama pasti tidak akan sembarang bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya.


to be continue...


Maaf ya bang, si neng belum tau kalau sentuhannya bisa bikin On. wkwkwk


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2