
°°°
Saat mobil Sakka sudah tidak terlihat, Rara merasa lega. Dia bermaksud memesan taksi untuk pulang karena supir yang biasa menjemput belum juga datang.
Rara mengambil ponselnya yang ada di dalam tas untuk membuka aplikasi taksi online.
Tinnn tinnn
Hampir saja Rara menjatuhkan ponselnya karena bunyi klakson mobil yang begitu keras.
"Astaghfirullah... siapa yang membunyikan klakson sekencang itu."
Rara melihat siapa yang mengendarai mobil itu dan pas kebetulan pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya.
"Bima?" kaget Rara melihat pria kaku itu.
"Kau belum pulang? Ayo naik," ajak pria itu tetap dengan wajah datarnya.
Rara menyerngitkan dahinya mendengar ajakan pulang bersama dari pria itu. Heran saja karena baru pernah berinteraksi tapi dia sudah menawarkan bantuan. Kalau dipikir-pikir pria itu memang baik juga sepertinya tapi Rara yang sudah menikah merasa tidak pantas satu mobil hanya berdua dengan seorang pria.
"Terimakasih tapi aku akan memesan taksi saja," jawab Rara.
"Kenapa, apa karena mobilku tidak sebagus mobil mu?" tanya nya.
"Haahh!" Rara menautkan kedua alisnya, mobilku apa maksudnya mobil yang biasa menjemput ku.
"Bukan seperti itu, tapi kita tidak sedekat itu sampai harus pulang bersama." Rara tetap tidak mau, bukan karena mobilnya tapi memang dia tidak mau menimbulkan fitnah nantinya.
"Bukankah kalau tidak saling mengenal kita tidak bisa dekat, kamu jangan salah paham. Aku tidak mau saja kalau tim ku kurang satu yang mengerjakan tugas nanti nya, sebentar lagi hujan kalau kau sakit otomatis yang mengerjakan tugas hanya bertiga dan aku akan lebih banyak kebagian tugas."
Rara melongo mendengar perkataan yang diucapkan bima panjang lebar. Tidak menyangka kalau pria itu bisa berbicara banyak seperti itu.
Bunyi ponsel mengalihkan pandangan Rara pada ponsel yang masih ia pegang. Ternyata sang suami tercinta yang menelepon.
"Assalamualaikum Kak," ujar Rara.
"Benarkah? baik aku kesana sekarang." Mata Rara berbinar mendengar kalau sang suami datang menjemputnya. Kemudian dia melihat Bima yang masih belum menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Rara pun mendekat untuk mengucapkan terimakasih, biar bagaimanapun pria itu sudah berniat baik tadi.
"Terimakasih sekali lagi atas tawarannya, aku pergi dulu karena mobil yang menjemput ku sudah datang. Assalamualaikum..." Rara pergi begitu saja meninggalkan Bima yang diam seribu bahasa. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ia pikirkan karena wajahnya yang terlampau datar.
Begitu Rara sudah menghilang dari pandangannya, Bima pun menjalankan mobilnya dan pergi dari sana.
Sementara Rara begitu senang saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di depan kampus. Pria itu juga sudah menunggunya di luar mobil, bersender dengan melipat kedua tangannya. Para gadis pasti langsung klepek-klepek kalau melihatnya.
Tampan sekali Suamiku, Rara tersenyum dari kejauhan saat Revan melambaikan tangannya.
Sontak para gadis yang tadi sedang memperhatikan Revan pun kini beralih pada Rara. Mereka penasaran, siapakah yang sudah membuat pria setampan Revan menunggu di pinggir jalan.
Di manapun ada kak Revan pasti selalu menjadi pusat perhatian, gerutu Rara dalam hatinya. Kemudian dia segera berjalan mendekati suaminya. Tidak ingin membiarkan lebih lama lagi para gadis memandangi wajah tampan itu. Ya Rara tidak ingin berbagi ketampanan sang suami.
"Assalamualaikum," ujar Revan.
"Wa'alaikumsalam, ayo pulang Kak," desak Rara ingin segera pergi dari sana.
"Baiklah tuan putri, silahkan naik." Revan membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah memastikan sang istri duduk dengan benar barulah ia menutup pintu dan memutari mobil untuk duduk di sisi kanan sang istri.
"Kenapa kak Revan tiba-tiba datang menjemput ku? Apa pekerjaan kakak sudah selesai?" Rara balik bertanya.
"Pekerjaan itu tidak akan ada selesainya, aku bisa mengerjakannya di rumah." Revan menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
Sebenarnya tadi dia akan lembur tapi saat menelepon supir yang biasa menjemput Rara katanya tidak bisa datang ke kampus. Revan langsung bergegas menjemput sang istri. Memang mudah mencari taksi di ibu kota itu tapi Revan tidak tega membiarkan istrinya pulang sendiri.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa kau ingin mampir?' tanya Revan lagi.
"Kemana Kak?"
"Ya kamu maunya kemana? apa mau makan diluar?" Revan memberikan ide. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya hari ini.
"Bagaimana kalau kita mampir ke rumah sakit saja Kak, kita lihat keadaan kak Febby. Sekalian kita bawakan makanan untuknya, bagaimana?" Rara menunggu persetujuan suaminya.
"Boleh, ayo kita kesana." Revan mengusap lembut pipi istrinya, dia kagum sekali pada sang istri yang tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Di saat orang lain pasti akan memilih untuk pergi jalan-jalan saat ada yang menawarinya, tapi Rara malah kepikiran orang lain.
"Kita beli makan dulu ya nanti kita makan di rumah sakit saja...," ujar Rara antusias. Dia senang bisa menjenguk wanita yang sekarang sudah menjadi temannya, ia harap kehadirannya bisa sedikit menghibur Febby di saat seperti ini dia pasti sangat butuh seseorang untuk menghiburnya.
__ADS_1
"Iya sayang... Kau mau apa?" tanya Revan.
"Apa ya... terserah kak Revan saja lah. Kak Revan tau kan makanan yang disukai kak Febby." Sebenarnya Rara tidak bermaksud mengungkit masa lalu, karena dia hanya bertanya saja.
"Tidak, aku tidak terlalu tau tentang dia dulu. Mungkin karena aku tidak pernah menaruh hati padanya." Revan jujur dari hatinya. Dia memang tidak pernah merasakan perasaan apapun pada Febby sewaktu mereka bersama.
"Ya ampun kak Revan ini keterlaluan sekali. Ya sudah kita beli yang umum saja, yang mungkin disukai banyak orang," celetuk Rara membuat Revan gemas.
"Bukan keterlaluan sayang... aku memang tidak terlalu pandai juga soal wanita. Apa yang harus aku lakukan sebagai pacar saja tidak tau. Tapi aku baik juga kok, setiap hari aku mengantar jemput dia kuliah." Revan membela diri.
"Ihhh mana ada orang yang memuji diri sendiri dengan begitu bangga," sindir Rara.
Revan terkekeh mendengar perkataan istrinya.
Sampai disebuah restoran Revan menghentikan mobilnya dan mereka turun untuk membeli beberapa makanan yang akan mereka makan bersama Febby nanti.
Setelah selesai mereka langsung ke sana tapi sebelumnya juga sudah ijin kakek Tio.
"Biar aku saja yang bawa, kamu cukup menggenggam tanganku saja saat jalan." Revan melarang sang istri untuk membawa kantong makanan yang tadi mereka beli.
"Isshhh... sejak kapan kak Revan jadi pintar berbicara manis." Rara memperhatikan suaminya yang sedang mengambil barang-barang.
Mereka berjalan beriringan dengan Rara yang menggandeng lengan suaminya. Banyak yang menatap iri pada pasangan itu.
to be continue...
°°°
Sore semua... Semoga yang membaca cerita ini bisa sedikit terhibur 🤗
Jangan lupa ramaikan novel othor yang satunya lagi ya😘
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang.
__ADS_1