Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
107. Manusia atau hantu


__ADS_3

°°°


Malamnya, Revan yang sudah ditelepon oleh kakeknya agar segera pulang pun segera membereskan meja kerjanya.


Ada apa kakek tiba-tiba menyuruhku pulang, pikir Revan merasa heran.


Karna kakeknya pasti tau jika cucunya sedang banyak pekerjaan, ditinggal assistennya begitu saja membuatnya mesti mengerjakan semuanya sendiri.


Tidak mau banyak berpikir, Revan pun bergegas meninggalkan ruangannya.


Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan saat ini masih cukup ramai karena baru pukul setengah delapan malam.


Tiba di jalanan yang cukup sepi Revan pun sedikit menambah kecepatannya. Namun, tiba-tiba ada seorang yang berlari ke jalan raya. Revan pun langsung menginjak rem nya.


Cittt...


Suara gesekan roda yang berhenti mendadak pun terdengar cukup keras.


Aku tidak menabrak kan? Dimana orang itu?


Orang yang tadi ada di depan mobilnya tiba-tiba menghilang. Revan yang penasaran pun turun dari mobilnya untuk memastikan jika orang tadi tidak tertabrak olehnya.


Revan berjalan ke arah depan mobilnya, dia begitu terkejut saat mendapati seorang wanita sedang meringkuk memeluk lututnya di depan silaunya cahaya lampu dari mobilnya.


"Nona, apa kau tidak apa-apa?" tanya Revan.


Wanita itu pun mengangkat kepalanya yang menghadap tepat di depan sinar lampu mobilnya.


Sontak Revan tersentak kaget saat melihat wajah wanita itu.


"Dia manusia atau hantu?" pikir Revan.


Bagaimana Revan bisa berpikir jika wanita itu adalah hantu itu karena disekitar mata wanita itu berwarna hitam ditambah rambutnya yang panjang dan acak-acakan.


"Tolong aku Tuan," wanita itu memohon seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Hah...," Revan tersadar saat mendengar wanita itu bersuara.


"Tolong aku Tuan, bawa aku pergi dari sini. Aku mohon." Wanita itu kembali memohon disertai derai air mata.


"Kenapa aku harus menolong mu?" tanya Revan. Sejujurnya ia takut, di malam hari seperti itu bertemu dengan wanita di jalan lalu minta di bawa pergi.


"Tolong Tuan aku tidak punya banyak waktu, atau mereka akan menangkap ku." Sekarang wanita itu bahkan berlutut di kaki Revan.

__ADS_1


Revan pun bingung harus bagaimana, ia melihat sekitar tapi tidak ada orang lain lagi disana.


Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kali yang sedang berlari dan sepertinya tidak hanya satu orang tapi banyak.


Wanita itu pun sepertinya mendengarnya juga. Ia segera memohon lagi pada Revan. Dia sudah tidak sanggup berlari, kakinya sudah sangat sakit apalagi dia tidak menggunakan alas kaki


"Tuan, aku mohon. Mereka sudah semakin dekat."


Revan yang tidak tega pun akhirnya mau membantunya.


"Naiklah ke dalam," ujar Revan.


"Terimakasih Tuan," ujar wanita itu dengan mata berbinar dan terus membungkukkan tubuhnya.


Akhirnya Revan membawa wanita itu pergi dari sana. Dilihatnya kaca spion, memang benar ada sekelompok pria yang berdatangan setelah Revan pergi dari sana. Sementara wanita itu terus menangis ketakutan.


"Jangan menangis lagi, kita sudah jauh dari tempat itu." Revan mencoba menenangkannya.


"Bersihkan wajahmu," perintah Revan seraya menyerahkan kotak tissue. Ya , sejak tadi pria itu terganggu dengan lingkaran hitam di sekitar mata wanita itu. Apalagi didalam remangnya cahaya terlihat semakin menakutkan.


"Terimakasih Tuan, saya sudah berhutang budi pada anda." Wanita itu kembali membungkuk.


"Sesama manusia memang sudah sewajarnya saling membantu, jadi tidak usah dipikirkan." Revan menjawabnya dengan santai.


"Tidak Tuan, saya juga tidak mengenal mereka. Aku dijebak oleh saudara ku sendiri, katanya mau membantuku mendapatkan uang tapi ternyata mereka menjualku pada pria hidung belang. Aku yang sadar jika ada yang tidak beres langsung kabur dan mereka mengejar ku." Wanita itu menceritakan apa yang terjadi padanya.


Revan tampak mendengarkan dan sesekali melirik, menurutnya wanita itu tidak sedang berbohong. Kasian sekali masih ada lelaki yang tega membeli wanita baik-baik untuk dijadikan pemuas n*fsu.


Isakkan kembali terdengar dari wanita itu, Revan tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka pun tidak saling mengenal dan tidak mau sampai ada fitnah.


"Dimana rumahmu, biar aku antarkan sampai rumahmu." Revan tidak mungkin meninggalkan wanita itu sendirian di pinggir jalan.


"Tidak usah Tuan, saya turun di persimpangan depan saja," tolak wanita itu, dia merasa tidak enak jika terlalu banyak merepotkan.


"Aku tidak akan menurunkan mu di pinggir jalan, cepat tunjukkan jalannya." Revan yang tidak ingin dibantah pun menegaskan ucapannya.


"Di depan belok kiri Tuan," tunjuk wanita itu.


Revan pun mengikuti arahan darinya, hingga tepat didepan gang sempit wanita itu minta memberhentikan mobilnya.


"Berhenti disini Tuan," ujarnya.


Revan tampak melihat daerah itu, dimana hanya ada deretan ruko dipinggir jalan.

__ADS_1


"Terimakasih sekali lagi Tuan, saya tidak tau bagaimana membalas kebaikan anda."


"Dimana rumahmu?" tanya Revan.


"Masuk gang itu Tuan," tunjuk wanita itu pada sebuah gang sempit.


"Saya permisi Tuan, sekali lagi terimakasih banyak atas bantuan anda." wanita itu terus membungkukkan tubuhnya.


"Apa kau sangat membutuhkan uang?" tanya Revan pada wanita itu tiba-tiba.


"Ya... iya Tuan," jawab wanita itu seraya menundukkan kepalanya.


"Ini, datanglah ke tempat yang tertera disana. Aku bisa memberimu pekerjaan jika mau," ujar Revan seraya menyerahkan sebuah kartu nama.


Wanita itu pun menerimanya dengan mata berkaca-kaca, tidak menyangka masih ada orang kaya yang mau membantunya bahkan sekarang memberinya pekerjaan.


"Terimakasih Tuan, semoga Allah membalas kebaikan anda dengan sesuatu yang lebih baik."


Bagi orang orang yang tidak punya apa-apa sepertinya hanya do'alah yang bisa ia berikan untuk membalas kebaikan orang lain.


"Sama-sama." Setelah itu Revan langsung pergi meninggalkan wanita yang masih berdiri di pinggir jalan.


Semoga saja apa yang aku lakukan benar, aku hanya ingin membantunya.


Revan kembali melanjutkan perjalanan pulangnya yang sempat terhambat. Dilihatnya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih.


Semoga saja kakek tidak marah karena aku terlambat pulang, ya kakek pasti mengerti jika aku terlambat karena membantu orang yang membutuhkan bantuan.


,,,


Di rumah, semuanya sudah siap sejak tadi. Orang-orang juga sudah berkumpul di belakang rumah. Kali ini kakek juga mengundang beberapa kerabatnya yang ada di Jakarta. Sekaligus untuk memperkenalkan Rara sebagai menantu keluarga Hermawan.


to be continued...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2