
°°°
Setelah mendapat kabar jika sang cucu telah siuman, kakek Tio langsung datang ke rumah sakit.
"Assalammualaikum." Kakek masuk ke dalam ruangan.
"Wa'alaikumsalam," semua orang menjawab salam.
"Kakek sudah datang," Rara mencium tangan kakek.
"Bagaimana keadaan kamu nak, apa ada yang sakit," ujar kakek sangat khawatir.
"Aku sudah tidak apa-apa Kek, hanya pegal dan kebas sedikit. Kata dokter wajar sehabis operasi," jawab Revan.
"Syukurlah, kau membuat kakek hampir jantungan," ujar kakek seraya mengusap dadanya. Lega dan sangat bersyukur sang cucu tercinta bisa melewati itu dan kembali membuka mata. Tidak bisa dibayangkan kalau Revan tidak kembali, mungkin kakek Tio juga ikut menyerah akan hidupnya.
"Aku tidak akan membiarkan kakek sendiri," ujar Revan.
"Anak nakal...," Kakek memukul pelan lengan cucunya.
'Aaaww... sakit Kek...," keluh Revan, kakek malah memukul di bagian yang sedang sakit.
"Apa kau sudah tau keadaan Mike?" tanya kakek Tio.
"Aku tau kek, kalau bukan karena dirinya mungkin aku yang saat ini belum sadar. Tolong carikan dokter yang terbaik untuk Mike, Kek. Selamatkan dia, atau aku akan merasa sangat bersalah seumur hidup ku," ujar Revan, dia merasa berhutang nyawa pada Mike. Dalam keadaan mendesak pun sang assisten masih memikirkan tuannya. Kesetiaannya patut diapresiasi.
"Kakek pasti akan berusaha nak, Mike adalah orang yang baik. Kakek juga sudah menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpa kalian, orang dengan dalang yang sama." Kakek terlihat sangat marah karena yang berani menyentuhnya cucunya. Mungkin dulu dia diam saja saat mereka korupsi atau seenaknya tapi sekarang tidak lagi.
"Mereka pasti takut karena aku dan Mike sudah berhasil mengumpulkan bukti untuk menjebloskan mereka ke penjara." Revan juga sama, dia tidak hanya marah tapi ingin menghancurkannya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, kali ini kakek tidak akan diam saja. Apa kau ingat menyimpan bukti itu di mana?" tanya kakek.
"Seingatku ada di ada dalam tas Mike. Di mana tasnya Kek?" Revan sangat takut jika bukti yang susah payah ia dapatkan menghilang begitu saja.
"Semua barang-barang kalian ada di kantor polisi, nanti kakek akan datang kesana untuk melihatnya."
Kini di ruangan itu hanya ada mereka bertiga, kakek Tio, Revan dan Mike yang masih setia memejamkan matanya. Sementara Rara dan Febby sedang melihat pengaturan ruangan yang baru untuk memindahkan Mike. Alasannya tentu karena Febby yang tidak enak jika harus satu ruangan dengan sepasang pengantin Revan dan Rara. Bisa menderita setiap hari jika begitu, bukan karena masih menyukai sang mantan tapi karena iri melihat kemesraan mereka sementara Mike entah kapan membuka mata.
"Kalau Febby setuju kakek akan memindahkan Mike ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang maksimal," ujar Kakek Tio.
"Ya sebaiknya bicarakan dulu dengannya, bagaimanapun saat ini Febby lebih berhak atas Mike." Mereka memandang Mike bersamaan.
"Kalau tidak, kakek akan membawakan dokter yang terbaik tapi mungkin alat-alat medis di rumah sakit ini tidak begitu lengkap."
"Bukankah kita bisa menjadi donatur dan membelikan alat-alat medis yang canggih Kek. Mungkin juga banyak masyarakat yang membutuhkan hal yang sama." Revan yang sedang setengah duduk memberikan ide pada kakeknya.
"Kau sudah seperti presiden yang sedang memikirkan rakyatnya, Kek," Revan terkekeh melihat kakeknya.
"Sepertinya kau sudah sangat sembuh ya sekarang, sudah bisa meledek kakek lagi sekarang. Baiklah nanti kakek akan bilang pada Rara agar tidak usah menemanimu disini," ujar kakek Tio dengan menyeringai. Iya tertawa puas dalam hati saat melihat raut wajah Revan yang langsung berubah.
"Ishh Kakek, jangan seperti itu. Aku ini masih kangen dengan istriku." Di rumah sakit sendirian? tentu Revan tidak akan mau.
"Hahahaha... kau melihatnya kan pak tua. Bocah nakal itu kalau sudah diancam dengan nama istrinya langsung mundur. Baguslah orang-orang itu belum tau kamu sudah menikah, kalau tidak kakek khawatir mereka akan memanfaatkan kebucinan kamu."
Revan pasrah saat dirinya menjadi bahan tertawaan sang kakek dan pak tua. Senang aja melihat mereka tertawa gitu.
,,,
Di ruangan sebelah.
__ADS_1
Rara sedang menemani Febby mengatur tempat untuk ruang rawat inap Mike yang baru. Walaupun semua orang melarang karena takut nanti Febby kesepian. Tapi Febby tetap kekeuh ingin pindah.
"Sepertinya ini berlebihan Ra, kakek Tio terlalu berlebihan sampai menyiapkan ranjang untukku juga. Sebenarnya itu tidak perlu Ra, bagiku yang penting adalah keperluan Mike." Kalau saja masih Febby yang dulu pasti malah meminta ini itu untuk dirinya sendiri.
"Apa kak Febby lupa kalau kakek sudah menganggap assisten Mike seperti cucunya sendiri. Itu berarti kakek juga menganggap kak Febby cucu menantunya. Kakek pasti tidak mau cicitnya kenapa-napa," terang Rara agar Febby tidak perlu merasa tak enak lagi.
"Aku mengerti hubungan kakek dengan Mike, tapi aku hanya orang luar yang tidak pantas mendapatkan ini semua." Bagaimana mungkin Febby bisa menerima begitu banyaknya kebaikan dari keluarga yang pernah ia manfaatkan. Febby bahkan sangat ingin membayar biaya rumah sakit Mike sendiri tapi dia sadar kalau saat ini dia tidak punya apa-apa.
"Siapa bilang?" Suara Kakek membuat semua orang menoleh dan sedikit terkejut.
"Kau juga cucu menantunya kakek dan Sebentar lagi melahirkan cicit untuk kakek. Jangan menolak lagi ya, kakek akan sedih kalau kau tidak mau menerima kebaikan kakek," ujar kakek.
Febby sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, matanya bahkan sudah mengembun dan sebentar lagi mungkin akan meneteskan air mata.
"Bagaimana Kakek bisa memaafkan ku, aku tidak pantas menerima itu semua." Febby sungguh merasa itu mimpi. Dulu dia membayangkan akan menjadi menantu di keluarga Herwaman dan kini Tuhan telah mengabulkan doanya meski dengan cara yang lain.
"Kita sekarang adalah kerabat, kakek sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Kakek juga sudah berjanji pada Mike, kakek akan menjaga kalian." Kakek akui dia sempat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mike, tapi setelah melihatnya sendiri sekarang beliau menyadari jika Febby bukanlah wanita yang seperti dulu saat masih menginginkan Revan.
"Terimakasih Kek...," Haru, hanya ada perasaan itu yang kini menyelimuti hari Febby. Ternyata Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi Tuhan telah memberikan apa yang sangat Febby butuhkan saat ini. Sebuah keluarga, sebuah perhatian dan kasih sayang yang tulus tanpa melihat siapa dirinya berasal.
to be continue...
°°°
🤗🤗🤗 Bahagianya... aku juga mau jadi cucu kakek🤭🤭🤭
Like komen dan bintang lima 😍😍
❤️❤️❤️
__ADS_1